JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Siksaan


__ADS_3

Jalanan yang macet membuat Gara makin tersulut emosi ia terus mengumpat di tengah kemacetan, sedangkan Putih dengan jalur jalan lain kembali pulang ke rumah dengan cepat ia khawatir jika suaminya sudah pulang ke rumah.


Flashback on


" Hallo Ross." Sapa Putih di balik telepon.


" Hai sayang kok lama gak ngabarin aku sih, jadi gimana kamu sama cowok kemarin katanya kamu di beli ya?" Cerocos Rossa, ia juga iri karena Putih mendapatkan lelaki tampan dan kaya yang membelinya. Tetapi baginya tidak salah jika ada pria seperti itu membeli Putih karena temannya itu sangat baik dan tak pernah tersentuh oleh lelaki hidung belang karena sifatnya.


" Maafkan aku yang gak kasih kabar Ross, mmm... Ross aku mau minta tolong kamu bisa pinjamin aku uang gak nanti aku segera ganti aku mau check up ke rumah sakit." Kata Putih ragu ia merasa merepotkan sangat temannya.


" Ya ampun Putih perasaan tanggal 10 kemaren kan waktu kamu check up kenapa kamu belum pergi? Oh iya masalah uang aku bakal pinjamin kamu gak ganti juga gak apa-apa yang penting kesembuhan kamu temanku sayang, aku juga merasa bersalah karena dulu kamu mengeluarkan banyak uang demi operasiku tapi untuk kamu sendiri kamu melupakannya." Rossa hampir menangis mengingat kebaikan Putih baginya temannya itu sangat berarti dari siapapun karena sama seperti Putih mereka hanya memiliki satu sama lain.


" Maafkan aku yang merepotkanm Ross, sudahlah masalah lalu jangan di ungkit aku sangat berterima kasih jika kau bisa membantu." Jawab Putih bersyukur.


" Aku akan segera mengirimkan uangnya seperti biasa kan Putih?" Tanya Rossa ia tahu berapa biaya yang di keluarkan Putih perbulannya untuk berobat.

__ADS_1


" Maafkan aku Ross ya seperti biasa, aku merasa benar-benar menyusahkanmu."


" Sudahlah, tapi bagaimana dengan pria yang membelimu?" Tanya Rossa yang penasaran, ia juga berpikir kenapa pria itu tidak memberi uang untuk Putih.


" Lain kali aku bicarakan ya Ross aku harus segera pergi ke rumah sakit sekarang." Putih sebenarnya mau curhat dengan Rossa tetapi ia ingin menyimpan masalahnya sendiri.


" Baiklah sayang, cepat sembuh ya."


" Terima kasih Ross, bye."


Putih memasuki rumah terburu-buru ia takut jika suaminya marah, saat mau menaiki tangga ke lantai dua ia melihat sekilas ke dapur ia melihat pria yang menjadi adik iparnya sedang makan dengan santai. Putih tak memperdulikan itu ia segera lari naik masuk ke dalam kamar, Dama yang melihat Putih berlari hanya tersenyum.


" Dasar wanita bodoh, terima hukuman mu nanti dari kak Gara." Kata Gara sambil tersenyum sinis.


Tidak lama setelah Putih masuk Dama melihat Gara yang masuk ke dalam rumah, Gara melihat sekeliling rumah ia mendapati Dama yang sedang sendirian makan.

__ADS_1


" Aku mau nginap di sini." Seru Dama saat melihat Gara yang mendekatinya.


" Hmm... Dimana wanita itu?" Tanya Gara yang berdiri di hadapan Dama.


" Wanita sialan itu? Dia ada di kamar." Jawab Dama ia kemudian melanjutkan makannya lagi.


Gara yang mendengar itu langsung langsung berlari menuju ke kamar, ia sangat marah dengan perbuatan Putih ia sangat marah karena ia tidak dapat menemukan Putih di manapun kecuali kamar Dama yang tidak terpasang cctv ia yakin jika wanita murahan itu menggoda adiknya.


Gara membuka pintu kamar dengan kasar ia melihat Putih duduk di pinggir ranjang sedang memainkan handphonenya. Gara berjalan mendekat dengan wajah penuh amarah, sedangkan Putih yang melihat kedatangan Gara langsung menciut ia takut jika Gara berlaku kasar kepadanya.


" Aww sakit Mas tolong lepaskan." Teriak Putih saat Gara menjambak dan menarik rambutnya kasar.


" Dasar wanita murahan, tidak puas dengan satu laki-laki kau rupanya." Gara semakin menarik rambut Putih dengan kuat membuatnya sampai menangis.


" Hiks... Hiks ampun Mas, aku tidak mengerti." Putih meraih tangan Gara untuk di lepaskan tetapi nihil kekuatan Gara jauh lebih besar darinya.

__ADS_1


" Akan aku buat kau mengerti jika kau membuatku marah." Gara mendorong keras Putih sampai terbentur tembok dengan kuat, kepala Putih dengan kuat menghantam tembok membuatnya langsung terjatuh ke lantai. Ia merasakan kesakitan yang amat parah hidungnya juga mengeluarkan banyak darah dengan cepat dengan perlahan kesadaran Putih hilang ia menatap gelap ruangan.


__ADS_2