
Ceklek pintu kamar terbuka Putih masuk ke dalam kamar ia melihat suaminya sedang duduk di atas ranjang dan memegang obat yang yang sama dengan obat yang di gunakan obat untuk selangkangannya.
" Kenapa diam di situ ayo sini," panggil Gara sambil menepuk tepi ranjang di samping ia duduk Putih yang di perintah langsung duduk di samping suaminya.
" Ada apa Mas?" Putih sebenarnya takut jika suaminya meminta bercinta lagi ia sungguh sangat kelelahan.
" Buka celana dalam mu!" Benar saja yang pasti Gara meminta bercinta lagi di tambah ia hanya memakai handuk saja.
" Tapi Mas mau ngapain aku masih capek Mas sungguh," tutur Putih takut-takut.
" Dasar ya pikiran kamu itu, cepat buka aku cuma mau obatin saja." Menunggu Putih lama Gara sendiri lah yang menurunkan celana dalam milik Putih, walaupun sedikit memberontak tetapi akhirnya terlepas juga celana dalam warna merah tersebut.
" Cepat baring buka kaki kamu aku mau obatin," walaupun bergerak pelan akhirnya Putih berbaring di atas kasur melihat itu Gara langsung membuka kaki Putih lebar-lebar.
" Eh Mas, biar aku aja yang obatin sendiri." Gara yang mendeteksi itu langsung melototkan matanya ke arah Putih, Putih langsung diam dan memejamkan mata ia takut dengan tatapan Gara yang mengerikan.
__ADS_1
" Mm.. mmm.. mmm." Suara Putih yang menahan sesuatu karena kerjaan dari Gara, bukan hanya mengobati Gara bermain sebentar di bawah milik Putih.
" Apanya yang mm.. mm.. hah, nanti kita enak-enakan bilang aja kalau kamu udah gak tahankan." Putih langsung merapatkan kakinya karena malu ia langsung duduk dan merapikan dress yang di pakainya, ia meraih celana dalam yang di pakainya tadi agar di pakai lagi saat meraihnya tangannya di cegat Gara.
" Jangan pakai lagi biarin aja kebuka." Putih langsung menoleh ke arah Gara dengan raut wajah penuh tanda tanya.
" Tapi mas..." Belum selesai bicara perkataannya sudah di potong Gara.
" Ikuti semua perintahku dari sekarang, tunggu di sini aku mau pakai baju terus kita sarapan," Putih hanya mengangguk saja.
Gara memakan sarapan dengan dengan lahap beda dengan Putih ia makin merasa tidak nyaman apalagi di tambah duduk terasa dingin, Putih betul-betul merapatkan kakinya dan selalu membenarkan dress nya yang tersingkap sedikit ke atas.
" Makanlah, kamu juga harus terbiasa dengan keadaan seperti ini," Gara mengedipkan sebelah matanya.
" Maksudnya Mas, kamu suruh aku tidak memakai celana dalam setiap hari?" Tanya Putih sambil mengangguk, untung saja Ani sedang membersihkan kamar mereka dan Tia sedang mencuci pakaian.
__ADS_1
" Yup kamu pintar sekali istriku." Gara mengubah pertanyaan Putih menjadi pernyataan, Putih langsung mendesah pasrah ia langsung memaksakan memakan nasi goreng masuk penuh kedalam mulutnya.
Suasana hening hanya bunyi dentingan sendok, Gara sesekali melihat wajah Putih yang sebal ia hanya tersenyum sinis melihat Putih. " Mulai besok kamu setiap hari temani aku ke kantor, kamu juga gak aku izinkan pergi tanpa izin dariku kamu mengerti." Putih yang mendengar itu hanya mengangguk saja ia masih sebal dengan suaminya yang membiarkan ia tidak memakai pakaian dalam.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, Putih yang mendengar itu langsung berdiri dan menuju pintu walaupun belum di suruh Gara tetap ia lakukan karena ia tahu Bu Ani dan Tia sedang bekerja.
Ceklek pintu terbuka terlihat ada kurir yang mengantarkan paket.
" Selamat pagi Mbak ini ada paket, tolong tanda tangan di sini sebagai tanda penerima." Putih langsung menandatangani sekejap lalu kurir itu pergi meninggalkan rumah, Putih melihat security di depan pagar sedang menutup pagar kembali setelah kepergian si kurir.
" Aneh kenapa gak di titipin ke pak Security aja sih, kirain siapa yang datang." Putih kembali ke meja makan ia melihat Gara yang sudah selesai makan tersenyum indah ke arah Putih yang sedang memegang paket berbentuk kotak itu.
" Ini ada paket Mas." Putih menyodorkan paket itu ke Gara tetapi di tolaknya.
" Itu hadiah untukmu." Putih kaget mendengar perkataan Gara tadi.
__ADS_1
"Hadiah?"