
Dokter tersenyum ke arah Putih dan menjelaskan kembali apa yang di sampaikannya ke Gara tadi, Putih benar-benar tidak percaya jika dia akan segera menjadi seorang ibu.
"Benarkah aku akan menjadi seorang ibu?"
"Benar nona selamat atas kehamilan Anda, ingat makan yang banyak agar bayi Anda tetap sehat." Dokter itupun kembali tersenyum.
Gara benar-benar senang ia terus menatap Putih dengan senyum yang tidak hilang, setelah dokter memeriksanya juga dan mengabarkan keadaannya membaik lalu pergi keluar ruangan. Putih menatap Gara dalam diam, sebenarnya ia juga senang ia akan menjadi seorang ibu tetapi itu artinya ia akan tinggal di rumah Gara lagi.
"Sayang aku senang sekali kamu hamil." Ucap Gara dengan girang, ia tidak bisa mendekat ke Putih karena masih dengan keadaan lemas dan merekapun berseberangan ranjang.
"Selamat ya atas kehamilan kamu Putih." Ucap Dama juga, Putih hanya melihat mereka bergantian tanpa membalas ucapan itu. Putih masih memikirkan apa yang harus di lakukannya sungguh ia takut jika harus tinggal bersama Gara lagi, jika harus di pilih ia ingin segera pergi dan kembali lagi ke apartemen Reyhan.
"Kenapa kamu diam Putih?" Tanya Gara penasaran.
Putih tak menjawab ia malah baring membelakangi Gara dan Dama, Gara yang melihat itu kecewa ia sangat sedih dan berfikiran jika Putih tidak mau memiliki anak bersamanya.
"Putih butuh istirahat kak." Dama tahu perasaan kakaknya, ia juga bersyukur saat melakukan hubungan sesat bersama Putih ia menggunakan pengaman jadi anak yang di kandung Putih bukan anaknya melainkan anak kakaknya sendiri.
Gara menggangguk ia juga butuh istirahat karena badannya terlalu lemah.
"Dam, bisa ambilkan aku air putih aku sangat haus." Pinta Gara.
"Sebentar ya kak." Dama mengambil air dan memberinya kepada Gara.
"Terimakasih." Ucap Gara saat selesai minum dan memberikan kembali gelas ke Dama.
__ADS_1
"Bisa kau belikan makanan untuk Putih, terutama yang bergizi dan susu untuk ibu hamil." Gara minta tolong, sebenarnya ia ingin sekali merawat Putih saat istrinya hamil tetapi kondisinya yang lemah jadi meminta bantuan oleh Dama.
"Baiklah kak aku pergi dulu, aku yakin dia juga sedang lapar."
"Terimakasih ya." Dama berlalu meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
Suasana hening di dalam ruang itu, Gara masih setia memamdang Putih yang sedang membelakanginya. Tak lupa dengan penyesalan di benaknya ia tahu dirinya tak termaafkan oleh Putih, tetapi ia akan berusaha Putih mau bersamanya lagi.
"Maafkan aku." Gumam Gara lirih.
Putih mendengar itu ia menangis dalam diam, saat ia terbangun dari tidurnya saat Gara membawanya kembali ia benar-benar bertekad untuk bunuh diri tapi saat ini ia mendengar tentang kehamilannya ia jadi undur diri karena ada nyawa lain di dalam perutnya.
"Maafkan aku, sungguh aku berjanji tidak akan memukul, menyiksa dan mengecewakanmu lagi." Ucap Gara sambil menitikkan air matanya, Putih masih setia mendengarkan ocehan suaminya tetapi ia enggan untuk berbalik.
Putih berbalik saat Gara mengucapkan nama ibunya, ia tidak mengerti maksud perkataan suaminya itu.
"Apa maksudmu Tuan, kenapa dengan ibuku?" Tanya Putih yang akhirnya berbalik ia melihat Gara sedang menyeka air mata di pipinya.
"Setelah kita di rumah nanti akan aku jelaskan." Gara tidak ingin Putih banyak pikiran, ia takut kondisi Putih dan janinnya tidak baik-baik saja.
"Tidak jelas." Putih kembali membelakangi Gara ia sebenarnya penasaran tapi karena Gara tidak mau menceritakannya jadi ia pun juga malas meladeni Gara.
"Putih." Panggil Gara, Putih enggan meladeninya.
"Putih." Panggil Gara lagi, masih di posisi yang sama ia masih enggan.
__ADS_1
"Putih." Panggil Gara lagi, kali ini suaranya cukup keras.
"Ada apa Tuan, aku mau istirahat." Jawab Putih kesal ia membalikkan badan melihat wajah Gara dengan geram.
"Maafkan aku, tunggulah sebentar Dama akan membeli makanan untukmu."
"Aku mengantuk." Jawab Putih sekenanya moodnya tidak baik saat ini.
"Aku mencintaimu." Putih benar-benar memasang telinga takut ia salah dengar.
"Kau juga membenciku." Kata Putih membuat Gara menunduk.
Dama masuk kedalam ruangan itu tanpa memberi salam atau mengetuk pintu ia menenteng dua kantong kresek yang lumayan besar penuh dengan makanan dan susu untuk Putih.
"Aku datang."
Putih mendengar suara Dama langsung terduduk dan terbangun, ia tahu jika Dama membawa makanan dari aroma ia sudah mengenalnya. Ia juga tidak tahu saat ini ia sangat lapar dan sangat berselera untuk makan, sedangkan saat Gara masih koma ia sangat enggan untuk makan.
"Aku mau." Kata Putih manja, Gara dan Dama terkejut karena sikap Putih yang tiba-tiba berubah.
"Sebentar ya." Dama menyiapkan dan meletakkan makanan di atas meja agar Putih leluasa untuk makan, tak lupa ia memberi minum untuk kakak iparnya itu.
"Wah ini tampak enak." Putih menjilat bibirnya sendiri, ia tidak tahu jenis makanan apa yang di beli Dama ia yakin jika Dama membelinya di restoran mahal. Putih langsung melahap dengan suka cita, ia seperti tidak makan sebulan sangking lahapnya makanan itu cepat habis. Dama membeli banyak cemilan dan habis di makan oleh Putih malam itu juga, Gara dan Dama sampai geleng-geleng melihat Putih makan.
"Terimakasih." Ucap Putih tersenyum dan melanjutkan aksinya lagi.
__ADS_1