
Sudah tiga hari Gara berada di rumah sakit dan tiga hari itu pula dia tak sadarkan diri, dirinya saat ini sedang koma akibat kejadian itu. Tiga hari Putih menemaninya siang dan malam, ia tampak layu sebab merasa bersalah telah membuat Gara jadi seperti itu. Dama juga menemani Putih saat di rumah sakit tapi tidak sesering Putih karena ia membantu pekerjaan Gara di kantor, sebenarnya Dama begitu khawatir dengan keadaan Putih karena ia sering lupa makan dan tidak berselera makan menyebabkan wajahnya pucat pasi.
Hari sudah malam Putih sedang duduk di depan Gara yang masih belum sadar, ia begitu lemah sampai kepalanya ikut terbaring di ranjang Gara dan akhirnya tertidur dalam keadaan perut kosong karena belum makan seharian.
Setelah penantian selama tiga hari akhirnya Gara terbangun, ia mengerjapkan mata penglihatannya kabur ia mengedipkan matanya beberapa Ki baru terlihat jelas. Ia melihat sekitar ruangan ia tahu dia sedang di rumah sakit sekarang karena ia teringat kejadian yang membuatnya berada disini, tangan Gara bergerak ia ingin duduk karena merasakan pegal di tubuhnya tetapi tangannya seperti menyentuh sesuatu. Gara melihat siapa yang di sentuhnya, ia melihat Putih yang tertidur dengan nyenyak membuat ia tersenyum karena Putih sudah menemaninya. Gara mengelus kepala Putih dengan pelan sungguh ia begitu menyesal telah berbuat jahat dengan wanita yang telah di sakitinya dan saat ini ia sungguh menyayangi Putih ia begitu tersiksa jika Putih tidak ada di sampingnya.
Merasa ada yang bermain di kepalanya Putih terbangun, ia sangat kaget saat ada tangan di kepalanya. Putih melihat Gara yang sudah bangun dari komanya ia pun langsung berdiri dan segera bersujud tak lupa mengatakan maaf, ia merasa sangat bersalah karena ulahnya Gara sampai masuk rumah sakit padahal perbuatan Gara lebih menyiksa daripada kejadian yang tidak di sengaja itu.
"Tuan maafkan aku, aku tidak sengaja saat itu hiks... hiks..." Ucap Putih sambil sujud.
Gara sangat kaget melihat Putih yang tiba-tiba bersujud dan meminta maaf kepadanya, ia berusaha bangkit dari baringnya dan duduk ia tidak bisa berdiri karena kepalanya masih pusing.
"Berdirilah sayang, kau tidak bersalah. Aku menyesal telah membuatmu tersiksa jadi ini hukuman untukku." Ucap Gara merasa bersalah.
Putih mendongak ia melihat Gara yang sedang tersenyum kepadanya, Putih merasa tak yakin jika Gara benar-benar tidak marah padanya sebab begitulah Gara yang ia kenal pertama berbuat baik kemudian kembali menyiksanya lagi.
__ADS_1
"Berdirilah aku tak mau melihatmu bersujud seperti itu."
Putih berdiri raut wajahnya tampak khawatir ia berdiri diam di tempat, kakinya sungguh terasa lemas karena tidak makan seharian tetapi ia coba menguatkan.
"Ayo kemarilah aku ingin memelukmu."
Putih berjalan perlahan ia memaksa kakinya melangkah mendekati Gara, pria itu tersenyum saat istrinya berjalan mendekati dirinya. Gara merentangkan tangannya lemah karena ia juga merasa tidak kuat untuk menggerakkan tubuhnya dengan aktif, saat mendekat dan Gara tengah merentangkan tangannya tiba-tiba Putih ambruk di depannya Gara mencoba menggapai Putih tetapi tidak tercapai. Gara langsung memencet tombol darurat agar dokter segera datang, ia berusaha turun sekuat tenaga untuk meraih Putih.
"Sayang bangun, Putih tolong bangunlah." Ucap Gara berusaha membangunkan Putih dengan menepuk pelan pipi Putih.
"Dok bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Gara yang begitu khawatir.
"Sebentar ya, saya akan mengecek dulu." Jawab dokter dengan ramah, Gara begitu gelisah karena mengkhawatirkan Putih.
Pintu terbuka Gara langsung menoleh ia melihat Dama masuk ke dalam kamar itu dengan wajah kaget karena melihat kakaknya sudah sadar.
__ADS_1
"Kau sudah sadar kak?" Tanya Dama mendekat.
Gara mengangguk, "Putih pingsan Dam." Gara menunjuk Putih yang sedang di cek oleh dokter wanita itu dan di dampingi suster tadi.
"Astaga apa yang terjadi?" Dama begitu kaget melihat Putih yang terbaring tak sadarkan diri.
"Maaf Tuan, saya akan memberikan kabar bahagia bahwa istri Anda sedang mengandung." Kata dokter wanita itu sambil tersenyum.
Gara begitu terkejut bersamaan dengan senang begitu pula dengan Dama, mereka sungguh tak menyangka jika Putih sedang mengandung.
"Kemungkinan istri Anda mengandung dengan umur dua bulan lebih, tetapi saya sarankan beri dia makanan yang bergizi dan makan yang banyak karena kondisi tubuh istri Anda sangat lemah jadi sebaiknya beri dia banyak makan." Sambung dokter lagi.
"Yes... istriku hamil." Gara sangat senang karena ia akan menjadi seorang ayah, ia berjanji akan melakukan yang terbaik untuk terus menjaga Putih.
"Selamat ya kak." Dama turut senang dan memberi pelukan hangat untuk Gara yang tengah bahagia.
__ADS_1
"Aku hamil?" Tanya Putih yang sudah terbangun dan mendengar ucapan Gara.