
Suasana hening di meja makan, Putih, Gara, Dama dan Lisa makan dalam diam. Lisa selalu melirik ke arah Gara tetapi Gara malah sibuk melihat ke arah Putih di sampingnya yang terlihat makan begitu lahap.
"Sayang apa itu sangat enak sampai kau makan begitu banyak?" Tanya Gara sambil mengelap mulut Putih yang celemotan, Putih mengunyah makanan yang di dalam mulutnya dan mengangguk menjawab pertanyaan Gara.
"Tapi makannya pelan-pelan ya nanti tersedak." Putih kembali mengangguk, Lisa yang melihatnya hanya menahan amarah ia sibuk mencari cara bagaimana cara membuat Putih berpisah dengan Gara.
"Sayang apa aku boleh meminta sesuatu?" Tanya Lisa dengan suara di buat manja, Dama melirik tajam sementara Putih tidak peduli ia ingin tahu bagaimana reaksi Gara.
Gara menatap Lisa dalam ia memasang wajah datar tetapi ia ingin mendengar apa yang di inginkan Lisa mengingat anak yang di kandung Lisa.
"Kau mau apa?" Tanya Gara tampak tak suka, Lisa tersenyum getir mendengar itu.
"Rasanya aku ingin makan durian, bolehkah kita pergi bersama ke kedai durian besok aku ingin sekali makan itu." Jawab Lisa sambil tersenyum.
"Aku tidak tahu bisa atau tidak besok aku akan kerja." Jawab Gara tanpa memandang Lisa ia sibuk dengan makanannya.
"Sepertinya durian enak apalagi pakai ketan, kak Gara ayo kita pergi besok kakak mau kan?" Gara melihat Putih sambil tersenyum, Putih memasang wajah memelas agar Gara mengikuti permintaannya.
__ADS_1
"Baiklah kita pergi besok, tapi mungkin siang soalnya aku ada rapat pagi. Untukmu Lisa kau datang jam 1 siang besok ke kantor, aku dan Putih akan pergi duluan." Jelas Gara, Putih hanya tersenyum sedangkan Lisa menahan rasa sakit hatinya ia kecewa karena Gara tidak memenuhi permintaannya sedangkan permintaan Putih Gara langsung menyutujui.
"Baiklah." Jawab Lisa pelan, Putih menatap Lisa sebenarnya ia kurang suka dengan durian tetapi karena permintaan Lisa yang tidak penuhi Gara jadi ia juga meminta permintaan itu bukannya Putih kasihan dengan Lisa tetapi anak di kandung oleh madunya itu anak tirinya.
"Ehemm... Putih tampaknya kau sudah berubah sekarang, apa ini efek hamil apa tuh namanya aa... ngidam?" Tanya Dama basa-basi.
"Entahlah aku juga tidak tahu, aku dapat banyak pelajaran di rumah ini dan aku harus mempraktekkannya juga kan. Apa aku salah? tapi tergantung kondisi aja kok." Jawab Putih santai sesudah itu ia meminum air putih, semua di meja makan itu mendengar penuturan Putih. Gara mendengar itu langsung teringat tentang perlakuannya terhadap Putih dan Lisa teringat tentang sore tadi saat di meja makan itu bersama Putih, sedangkan Dama menyunggingkan bibirnya saja.
"Wah kakak ipar ku tambah keren." Puji Dama sambil mengacungkan jempol tangannya.
"Semua ibu akan melakukan segalanya untuk anaknya begitu juga aku." Kata Lisa melirik Gara.
"Sepertinya sudah waktunya istirahat, aku akan ke kamar duluan." Putih berdiri ia tidak menunggu Gara atau yang lainnya ia langsung berjalan tanpa menghiraukan yang lainnya.
"Sayang kita tidur bersama malam ini?" Tanya Lisa dengan suara seksi.
"Dalam mimpimu!" Gara langsung bangkit dan meninggalkan mereka, setelah agak menjauh Dama tertawa ia sangat suka melihat istri kedua kakaknya itu menderita.
__ADS_1
"Diamlah brengsek!" Lisa pun berdiri ia mengacungkan jari tengahnya ke arah Dama, ia begitu sakit hati di tambah Dama menertawakannya sangat keras.
Setelah Lisa berlalu Dama tersenyum miring, aura wajahnya pun sudah berbeda ia sangat tidak suka dengan wanita seperti itu walaupun ia suka bermain dengan wanita tetapi jika melihat Lisa ia sangat muak ia tidak percaya jika anak yang di kandung Lisa bukan anak kakaknya.
"Aku heran kenapa nyonya Putih tidak seperti dulu lagi." Bisik Tia ke telinga Ani, mereka sedari tadi di dapur menunggu tuan mereka selesai makan agar segera di bersihkan jika sudah selesai.
"Aku sangat suka dengan nyonya yang sekarang, kenapa sih harus ada pelakor itu?" Ani menggeram ia mengepalkan tangannya mengingat Lisa.
"Pelakor ada dimana-mana." Seru Tia juga bergidik geram.
Di kamar tamu Lisa sedang menangis ia sedang terbaring di atas kasur mengenang apa yang di lakukan Gara.
"Aku juga mengandung anaknya tapi kenapa hanya wanita sialan itu yang di perhatikannya? Sial aku harus berbuat sesuatu jika tidak aku akan di injak-injak di sini." Lisa menghapuskan air matanya dan mengelus perutnya, usia kandungannya sama dengan Putih tetapi ia juga ingin seperti Putih yang di pertahatikan oleh suaminya dia juga perhatian.
"Aku harus bagaimana apa aku harus meminta tolong dengan Saga?" Putih mengambil handphonenya dan langsung mencari nomor Saga dan langu menelpon sepupunya itu.
"Hallo."
__ADS_1