JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Takut Ketahuan


__ADS_3

Dama mengajak Putih mandi bersama setelah melakukan itu mereka sangat berkeringat dan lengket, di dalam kamar mandi Dama kembali melakukannya ia tidak tahan melihat mata Putih dan bibir Putih yang merah muda. Putih melayani Dama dengan baik karena saat berhubungan badan Gara dan Dama sangat berbeda, Gara sangat kasar dan bringas sedangkan Dama melakukannya dengan baik ia seperti sedang melakukan dengan orang yang di cintainya.


" Apakah kau ketagihan sayang?" Selesai melakukannya Putih duduk di sofa dengan berpakaian rapi begitu juga dengan Dama, wajah Putih merona mendengar pertanyaan Dama.


" Jadi bagaimana dengan ibuku Tuan?" Tanya Putih yang mengalihkan pembicaraan.


" Aku belum mendapatkan informasi lebih, anak buahku sedang mencarinya sayang." Putih melihat wajah Dama dengan datar, kemudian ia berdiri dan berjalan ke pintu luar ia ingin kembali ke kamarnya.


" Dasar *******." Putih memukul dadanya dengan kuat ia menangis sejadi-jadinya di atas ranjang, hari sudah siang ia tahu mereka tadi melakukannya dengan waktu sangat lama. Tak lama menangis Putih akhirnya tertidur melakukannya dengan Dama membuat ia kelelahan dan akhirnya tertidur dengan cepat.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Gara masuk ke dalam rumah dengan wajah kelelahan pekerjaannya yang banyak membaut ia tidak sempat melihat cctv rumah. Dama dan Gara bertemu saat Gara hendak menaiki tangga sedangkan Dama hendak menuruni tangga. Dama dengan wajah segarnya tersenyum manis melihat Gara yang melihatnya dengan wajah yang suram.


" Sudah pulang kak?" Tanya Dama menyapa.

__ADS_1


" Kau buta." Dama hanya terkekeh mendengar jawaban Gara.


Gara masuk ke dalam kamar ia melihat Putih yang tertidur di atas ranjang membuatnya langsung merebahkan diri di samping Putih dan memeluk istrinya sebentar.


" Sudah pulang Tuan." Putih terbangun karena ada yang memeluknya ia melihat Gara yang ada di sampingnya.


" Iya hari ini banyak sekali pekerjaan membuatku lelah." Gara menatap mata Putih yang sedikit bengkak membuatnya mengelus pipi Putih.


" Kau menangis Putih?" Tanya Gara yang memperhatikan wajah Putih yang tak seperti biasanya.


Putih turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, Gara melihat jalan Putih yang tampak aneh tidak seperti biasanya membuat ia curiga ia ingat jalan Lisa tadi saat sudah melakukannya di kantor. Karena menunggu Putih yang tidak keluar dari kamar mandi akhirnya ia tertidur dengan wajah yang kusut dan masih berpakaian kerja lengkap. Putih keluar dari kamar mandi ia melihat Gara yang sudah tertidur membuat perasaannya sedikit lega, ia melangkah mendekat ke ranjang memperhatikan wajah Gara.


" Jika ibu masih hidup kenapa ibu tidak mencariku? Kenapa ibu berpenampilan seperti itu sekarang bukankah ibu tidak suka dengan barang-barang mewah, ibu aku merindukanmu Bu, jika Tuan Gara tahu jika ibu masih hidup pasti ia akan menyakitimu juga." Putih menangis membuat Gara terbangun dari tidurnya, ia langsung menghapus air matanya tetapi tangannya sudah di tarik Gara agar tubuhnya mendekap ke badan Gara.

__ADS_1


" Kenapa menangis Putih?" Gara memeluk Putih erat kemudian ia melepaskan pelukannya agar dapat melihat wajah Putih.


Putih menggeleng pelan ia bingung harus menjawab apa saat ini.


" Jujur Putih kamu kenapa menangis?" Gara memegang dagu Putih agar Putih melihat wajahnya.


" Maafkan aku Tuan tapi aku ingin melakukannya." Akhirnya alasan itu yang harus Putih katakan agar Gara tidak curiga.


" Melakukan apa Putih?" Gara menatap wajah Putih dengan penuh tanda tanya.


" Mmm... Yang kau inginkan tadi malam Tuan." Gara tersenyum melihat Putih yang menunduk, ia kira Putih malu sekarang ini karena meminta duluan padahal Putih hanya takut jika Gara tahu ibunya masih hidup.


" Jadi itu sayang, oke baiklah sekarang aku membiarkanmu yang melakukannya duluan." Putih mendongak ia bingung harus bagaimana, sedangkan Gara bertambah semangat walaupun dengan Lisa tadi nikmat tapi tidak senikmat jika bersama dengan Putih.

__ADS_1


Seperti biasa Gara seperti kehausan jika melakukannya bersama Putih membuat istrinya kewalahan, Gara makin melakukannya dengan cepat saat mendengar desahan Putih yang membuatkannya terbakar gairah. Mereka melakukannya sampai malam, kaki Putih seperti tidak bisa di gerakkan dibuatnya sedangkan Gara ia tersenyum puas.


__ADS_2