JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Mereka Pembunuh


__ADS_3

Putih sudah berada di lobby rumah sakit bersama Gara ia sedang menunggu Andre karena ingin pamit pulang tak lama menunggu Andre datang menghampirinya.


" Maaf ya lama." Kata Andre yang sudah di depan Putih dan Gara.


" Gak apa-apa kak Andre, kak aku pamit pulang ya maaf merepotkan kakak lagi." Tutur Putih sedih.


" Iya Putih kamu harus jaga kesehatan ya, ingat jangan banyak pikiran." Andre menggosok lengan Putih pelan membuat Putih tersenyum, Andre melihat Gara yang sedang memperhatikan mereka.


" Aku mempercayakan Putih padamu tolong jaga Putih ya, maaf kalau bisa aku ingin datang ke rumahmu kapan-kapan apakah boleh aku hanya ingin melihat adikku saja." Kata Andre ia masih ragu dengan pria yang di depannya itu.


" Tentu saja Dok kau bisa datang ke rumahku aku akan menyambutnya dengan baik." Jawab Gara sambil tersenyum.


" Terima kasih kalau begitu kalian pulanglah, Putih jaga kesehatan ya sayang." Andre benar-benar menyayangi Putih seperti adiknya sendiri, ia mengingat adik perempuannya yang seumuran Putih yang sudah meninggal dunia.


" Kami pamit ya kak." Putih melihat ke arah Gara yang langsung menggenggam tangannya.


" Hati-hati di jalan ya."


Gara membantu Putih yang masuk ke dalam mobil ia membukakan pintu mobil dan membantu Putih masuk ke dalam mobil dengan hati-hati, Putih hanya diam dengan perlakuan Gara.

__ADS_1


" Apakah kau sedang bersandiwara atau kau benar bersungguh-sungguh Gara, aku belum mengerti akan dirimu tetapi aku akan mengikuti alur ceritamu." Batin Putih.


" Kamu kenapa termenung Putih?" Tanya Gara yang sudah masuk ke dalam mobil.


" Tidak apa-apa." Jawab Putih tanpa melihat Gara.


" Kita akan segera pulang dan makan, aku yakin kau pasti lapar." Kata Gara yang masih setia melihat Putih.


" Iya cepatlah aku sangat lapar." Jawab Putih yang melirik ke arah Gara yang sudah menjalankan mobilnya.


" Iya sayang sebentar ya." Jantung Putih berdebar cepat mendengar perkataan Gara yang begitu lembut di tambah panggilan sayang.


Setengah jam berlalu akhirnya mereka sampai di rumah mewah Gara saat hendak masuk, mereka di hadang oleh paman dan bibi Gara yang menatap sinis ke arah Putih.


" Bibi sudahlah kami mau masuk jadi minggirlah." Ucap Gara ia benar-benar malas meladeni adik mamanya.


" Tunggu Gara aku ingin melihat wajah anak yang ibunya seorang pembunuh ini." Mendengar itu Putih langsung mengangkat wajahnya ia juga ingin melihat siapa wanita yang mengatakan ibunya seorang pembunuh juga.


" Kau?" Putih langsung kaget melihat wajah Kira ia juga beralih memandang wajah Doni paman Gara ia langsung menarik rambut Kira kuat dan memekik tak jelas.

__ADS_1


" Aw... Dasar sialan lepaskan tanganmu dari rambutku sial." Kira berusaha melepaskan tarikan Putih di rambutnya dan di bantu Doni, saat terlepas Gara menarik kuat tangan Putih membuat Putih terjatuh di lantai.


" Apa-apaan kamu Putih kenapa kau menyakiti bibiku?" Tanya Gara dengan suara lantang.


" Gara kau lihat sendirikan wanita murahan ini sama seperti ibunya pembunuh." Kira menunjuk Putih dengan rambut berantakan akibat tindakan Putih.


Gara langsung menarik tangan Putih untuk berdiri dan menarik tangan Putih kasar menuju ke kamar mereka, Putih yang sedang menangis hanya mengikuti Gara sampai di dalam kamar.


" Kenapa kau menjambak rambut bibiku Putih?" Tanya Gara dengan suara keras.


" Ibuku bukan pembunuh mereka yang pembunuh." Tangkas Putih ia tidak rela jika ibunya di katai pembunuh.


" Ibumu yang pembunuh bukan mereka." Bentak Gara.


" Mereka yang pembunuh." Jawab Putih lantang, Gara sudah kehabisan kesabaran ia langsung menampar Putih dengan kuat membuat Putih terjatu di lantai dengan keadaan bibirnya yang pecah dan berdarah.


Gara pergi meninggalkan Putih sendirian di dalam kamar ia ingin meredakan emosinya, sedangkan Putih dengan keadaan lemah ia menangis sesenggukan.


Kira dan Doni melihat kepergian Gara ia tersenyum dengan senang.

__ADS_1


" Akhirnya Gara sendirilah yang akan membunuh anak wanita sialan itu." Kata Kira yang tersenyum sinis.


" Iya sayang, aku sangat membencinya kita harus membuat Gara terus menyakiti wanita itu." Mereka berdua tersenyum tanpa sadar Dama sudah memperhatikan mereka sejak tadi.


__ADS_2