
Tak lama menangis Putih merasa kelelahan ia langsung tertidur di susul Gara yang tertidur dengan keadaan duduk seperti tadi.
" Ibu... Ibu... Ibu..." Igau Putih membuat Gara langsung terbangun ia melihat tubuh Putih yang bergetar seperti ketakutan.
" Putih bangun." Gara mencoba membangunkan Putih.
" Tidak kau bukan ibuku, ibuku bukan pembunuh." Putih berteriak histeris, Gara mendengar semua teriakan Putih ia mundur selangkah masih melihat Putih yang terus bergetar menggeliat dalam tidurnya.
" Hiks... Hiks... Kenapa kau membunuh ibuku?" Putih terbangun dengan isak tangisnya Gara masih mendengar yang Putih katakan, kemudian Gara mendekat kembali memegang tangan Putih. Melihat tangannya di pegang Putih langsung memeluk erat Gara sambil menangis.
" Tenanglah jangan menangis." Ucap Gara lembut sambil mengelus rambut Putih.
" Aku takut Tuan aku takut." Putih makin memeluk erat Gara.
Setelah tangis Putih mereda ia perlahan melepaskan pelukan Gara ia duduk menunduk dan termenung.
" Putih tenanglah ada aku di sini jangan takut, kamu mimpi apa tadi?" Gara mengambil tangan Putih dan menggenggamnya, Putih membiarkan itu.
" Tidak ada apa-apa." Ia enggan menceritakan tentang mimpi ibunya ke Gara ia tahu Gara sangat membenci ibunya.
" Kalau kamu gak mau cerita ayo kembali tidur." Ajak Gara.
__ADS_1
" Iya." Putih kembali baring tetap membelakangi Gara setelah lama berpikir ia kembali tidur begitu juga dengan Gara.
*****
Wanita paruh baya yang memakai pakaian modis masih mencari anak gadisnya yang telah satu tahun menghilang, dengan mobil mewah ia menyetir sendiri menyusuri jalan malam yang mulai sepi.
" Putih kau di mana nak? Mama sangat kangen maafkan mama yang telah egois sama kamu." Kata Sonia yang meneteskan air matanya.
Sonia mengeluarkan handphone di tas sandangnya ia kemudian menelepon seseorang.
" Selamat malam bos." Kata seseorang di balik telepon.
" Kami belum mendapatkan informasi mengenai anak Anda beri kami waktu lagi bos." Jawab anak buahnya.
" Sial kalian memang tidak berguna." Sonia langsung menutup teleponnya.
" Putih kamu dimana sayang, ini karena wanita sialan itu tidak sia-sia aku membunuhnya." Sonia menggeram ia kemudian melakukan mobilnya.
Matahari sudah menampakkan dirinya Gara mulai membuka matanya perlahan ia langsung melebarkan matanya saat tidak melihat Putih di atas ranjang ia langsung berdiri dan meneriaki nama Putih.
" Kau kenapa Tuan?" Tanya Putih yang berdiri di depan pintu toilet yang terbuka.
__ADS_1
" Astaga Putih aku khawatir denganmu." Gara langsung mendekat dan memeluk Putih membuat Putih terdiam dalam pelukan Gara.
" Ehemmm." Dokter Andre berdeham melihat dua insan yang sedang berpelukan.
" Lepaskan aku Tuan ada kak Andre di sini." Ucap Putih yang mendorong pelan tubuh Gara menjauh.
" Kak Andre." Putih mendekat ke Andre dan langsung memeluknya erat Gara yang melihat itu hanya membiarkan kelakuan Putih walaupun ia merasa sedikit cemburu.
" Iya Putih, sepertinya keadaanmu membaik dengan cepat. Kalau begitu kamu bisa pulang hari ini, nanti kak Andre kasih resep obat untuk di tebus ya sayang." Andre melepaskan pelukan Putih dan Gara langsung menghampiri mereka ia langsung menggenggam tangan Putih itu membuat Andre tersenyum.
" Apa benar Putih bisa pulang hari ini dok?" Tanya Gara yang menuntun Putih duduk di atas ranjang.
" Iya Putih bisa pulang nanti siang." Jawab Andre, ia kemudian mengecek keadaan Putih sebentar.
" Kak Andre aku mau peluk kakak lagi." Kata Putih manja, Gara melihat tingkah Putih yang seperti anak kecil.
" Betapa jahatnya aku Putih yang tega menyakitimu." Batin Gara.
" Mulai deh manjanya, ingat kamu sudah punya suami Putih." Kata Andre tetapi ia tetap memeluk Putih sesuai permintaan adik angkatnya itu.
" Sepertinya aku harus mencari tahu lagi penyebab kematian Mama dan Papa tapi penyebabnya sudah tertuju pada ibu Putih, aku sudah terlanjur mencintai wanita ini tetapi aku harus bagaimana dan aku sudah terlanjur menyakitinya." Gara berkutat dengan pikirannya sendiri sementara Putih dan Andre bercengkrama bersama.
__ADS_1