
Pagi itu Sonia kembali menyusuri jalan mencari Putih anak semata wayangnya, mulutnya tidak berhenti mengumpat karena anak buahnya tidak mendapatkan informasi apapun.
" Dimana kamu nak? Apa kamu di culik atau...? Arghhh tidak-tidak aku yakin Putih pasti lagi bersembunyi di suatu tempat." Sepanjang perjalanan Sonia mengoceh sendiri, ia begitu kewalahan mencari Putih yang hilang entah kemana.
Ciiitttt.....
Mobil Sonia hampir menabrak seseorang yang mau menyebrang membuatnya mengelus dada karena kaget, sementara pria yang hampir di tabrak dengan ekspresi kaget di awal berubah menjadi marah dan langsung menghampiri pintu mobil Sonia.
Tok tok tok
" Maafkan aku ya." Ucap Sonia setelah keluar dari mobil, Dama yang melihat wanita di depannya terpaku sejenak.
" Sudahlah tante tidak apa-apa." Ucap Dama ramah tetapi dalam hatinya menggeram ingin membunuh ibu Putih ini.
" Kamu baik sekali nak, terimakasih ya." Sonia mengelus bahu Dama membuat lelaki itu menggerakkan gigi.
" Kenapa wajah tante seperti itu, terlihat mengkhawatirkan sesuatu." Kata Dama , ia mencoba mendekati ibu Putih agar dapat membalas semua perbuatan wanita setengah baya itu.
" Iya nak aku setahun ini mencari putri semata wayang ku namanya Putih." Wajah Sonia tambah kusut mengingat anaknya yang belum ketemu.
__ADS_1
" Boleh aku lihat potongan?" Tanya Dama memastikan jika Putih benar anak ibu-ibu di depannya ini.
" Boleh, ini nak." Sonia menunjukkan handphonenya yang terdapat poto Putih di sana.
" Ini benar-benar Putih, tapi kenapa di poto ini wajah Putih tampak sedikit bulat dan matanya juga tidak sebesar Putih yang saat ini. Apa karena setahun pergi Putih jadi kurus, aku yakin itu." Dama berkutat dengan pikirannya sendiri.
" Apa kau mengenalinya nak?" Tanya Sonia yang penasaran kenapa pria muda di depannya ini termenung melihat poto Putih.
" Eh iya tante ini Putih kakak ipar ku." Jawab Dama santai.
" Hah kakak ipar mu, maksudnya Putih sudah menikah?" Tanya Sonia kaget mendengar jika anaknya sudah menikah.
" Kau bisa membawaku ke tempat Putih nak?" Ucap Sonia memohon membuat Dama menyeringai.
" Tentu tante, mobilku ada di depan sana" tunjuk Dama ke arah parkiran depan supermarket." Tante bisa mengikuti mobilku dari belakang." Sonia mendengar itu dengan antusias ia tidak sabar segera bertemu dengan anaknya.
" Oke ayo, aku ingin segera bertemu dengan Putih." Dama tersenyum, Sonia langsung masuk ke dalam mobil dan Dama segera pergi ke tempat mobilnya yang terparkir.
Saat masuk mobil Sonia mengambil pistol yang ada di dalam tas sandangnya dan menyimpannya di balik rok di bawah lutut di letakkan ya di paha, ia hanya jaga-jaga jika terjadi sesuatu padanya nanti.
__ADS_1
Dama tersenyum menang ia langsung merogoh kantong celananya dan mengeluarkan handphone untuk menelpon seseorang.
" Ada tugas untukmu segera datang ke rumah Gara segera dan tangkap wanita yang ada di belakang mobilku nanti dan ikat dia di gudang, aku akan sampai 15 menit dari sekarang."
" Baik Boss." Dama tersenyum melihat mobil di belakang yang mengikutinya.
" Putih aku ingin menikmatimu lagi, di depan ibumu tentunya." Dama ingin melihat reaksi Sonia saat ia menjamah tubuh Putih di depan hadapannya.
Pagar rumah mewah itu terbuka anak buah yang di perintahkan Dama sudah bersiap, Dama turun dari mobil di ikuti Sonia.
" Apakah Putih menikah dengan orang yang punya rumah ini?" Tanya Sonia kaget sebab ia tahu betul rumah siapa ini.
" Kenapa tante apakah tante mengenali orangtua ku?" Tanya Dama yang melihat raut wajah Sonia yang panik.
" Ti.. dak, eh apa-apaan ini lepaskan aku." Teriak Sonia saat anak buahnya sudah memegang tangan Sonia kuat ke belakang dan langsung membius Sonia sampai wanita itu tidak sadarkan diri.
" Hahaha bawa wanita sialan ini ke gudang dan ikat dia dengan kuat." Sesuai perintah anak buah Dama segera menjalankan tugas.
" Saatnya menikmati Putih, oh betapa indahnya hidup ini. Kak Gara ke luar kota dan aku dengan bebas melakukannya apalagi di depan ibunya sendiri." Dama berjalan masuk ke dalam rumah saat di diperjalanan ia hanya tertawa dengan keras.
__ADS_1