JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Perubahan Putih


__ADS_3

"Hemm... iya aku sudah bangun, bangunlah ini sudah sore." Jawab Putih ia melirik malas ke arah Gara yang masih terbaring di atas tempat tidur.


"Lelahnya... terimakasih ya tadi sayang." Ucap Gara sambil beranjak duduk.


"Hem... Oh iya aku gak mau di rumah ini besok jadi ajak aku ke kantor, dan istri kedua mu gak boleh ikut. Kamar ini juga di kunci gak boleh ada yang masuk kecuali Bu Ani dan Bu Tia, kak Gara gak apa-apakan kalau aku ikut ke kantor?" Putih bicara dengan datar ia pun tidak memandangi wajah Gara ia masih sibuk dengan isi lemari, Gara mendengar itu langsung bangkit tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhnya ia langsung memeluk Putih.


"Kamu manggil aku apa tadi sayang?" Tanya Gara dengan lembut.


"Kak Gara, emangnya kenapa?"


"Aku menyukainya sayang, jangan lupa panggil aku juga dengan kata sayang oke." Gara mencium pipi Putih, ia pun membiarkan kelakuan suaminya itu.


"Hmm... jadi bagaimana besok, apa di beri izin?"

__ADS_1


"Apapun yang kamu inginkan akan aku beri sayang." Gara membalikkan badan Putih menghadapnya dan mengangkat dagu Putih agar mereka beradu pandang, Putih hanya menatap Gara datar.


"Apapun yang aku inginkan?" Tanya Putih lagi untuk meyakinkan, ia tidak tahu kenapa sikapnya berubah sejak bertemu dengan Putih Sanaya dia merasa sudah seperti kakak perempuan dari Aya yang harus tampak tegas.


"Iya sayang."


"Termasuk menceraikan Lisa?" Gara terdiam ia membelakangi Putih, melihat tubuh Gara yang bugil Putih langsung mengambil handuk dan memberikannya ke Gara.


"Bagaimana apa permintaan satu itu sangat sulit, tampaknya kak Gara tidak akan mengabulkan permintaanku satu itu." Ucap Putih, Gara sudah melilitkan sebagian tubuhnya dengan handuk dan kembali menatap Putih.


"Oke bagus lah, aku akan menunggunya jika tidak bisa menceraikannya ceraikan saja aku kak." Kata Putih mantap, ia berani menatap mata Gara yang sudah akan tersulut emosi mendengar ucapan cerai untuknya.


"Aku tidak akan menceraikan mu Putih, tolong jangan buat aku marah."

__ADS_1


"Aku akan mengingat kata-kata kak Gara, tapi juga tolong kak jangan buat aku juga marah karena aku akan membalaskannya nanti jika bukan aku pasti anak kita." Kata Putih sambil memainkan dada bidang Gara, di sentuh Putih membuat Gara hanyut ia seolah-olah termakan oleh omongan Putih.


"Apa kak Gara paham?" Tanya Putih saat ia melepaskan sentuhannya di dada bidang itu, Gara membuka matanya dan tersenyum ke arah Putih.


"Aku mengerti sayang."


"Cup... mandilah kakak sangat bau." Putih mencium dada Gara dan langsung menutup hidung tanda menyuruh Gara mandi, bukan karena bau dia hanya ingin mengakhiri pembicaraan itu.


"Astaga apa aku se bau itu? maafkan aku sayang aku akan mandi kok." Gara langsung berjalan cepat dan masuk kamar mandi, Putih yang melihat itu langsung tersenyum miring.


"Kenapa Putih jadi berbeda? apa hanya perasaanku saja? tapi sungguh dia sangat berbeda tidak sepolos atau selemah Putih yang dulu, tapi aku tetap mencintaimu Putih." Ucap Gara sambil berkaca di kamar mandi.


"Sayang bagaimana nasib kita kedepannya ya? Mama harap kamu terus sehat ya dan buat mama tersenyum setiap hari mama janji akan menjagamu." Putih duduk di atas ranjang sambil mengelus perutnya, ia mengenang Lisa ia takut jika madunya itu berbuat macam-macam kepadanya dan janin di kandungannya.

__ADS_1


"Dama, sebaiknya aku minta tolong Dama untuk mengurus Lisa." Putih langsung beranjak dan ingin pergi tetapi terhenti karena mengingat Gara, ia memutuskan akan membicarakan soal itu besok ke Dama.


__ADS_2