
Gara sangat frustasi karena tidak menemukan istrinya, ia kembali ke rumahnya ia berfikir jika Putih akan kembali kerumahnya ia tahu wanita itu tidak akan kemana-mana.
"Dama apa Putih ada di rumah ini?" Tanya Gara saat sudah di dalam rumahnya, ia melihat Dama yang sedang duduk di ruang tamu yang sedang mendongakkan kepala.
"Kan Putih sama kakak, dia gak ada di sini." Jawab Dama ia lalu duduk dengan tegak.
"Putih hilang Dam." Kata Gara membuat Dama melongo.
"Kenapa sampai hilang kak, siapa yang menculiknya?" Tanya Dama yang terlihat serius.
"Aku tidak tahu Dam, ini salahku karena menyiksanya tadi." Jawab Gara dengan jujur.
"Astaga kak, kau ini kenapa sangat ringan tangan." Kata Dama kesal dengan kakaknya.
"Aku sudah menyuruh orang-orangku untuk mencarinya tetapi tidak ada jejak dari Putih sedikitpun." Ujar Gara yang semakin frustasi.
"Tenanglah aku yakin Putih tidak akan kemana-mana, tapi hanya satu yang aku takutkan." Kata-kata Dama membuat Gara menatapnya dengan serius.
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya Gara penasaran.
"Aku takut Putih bunuh diri kak." Gara yang mendengar itu langsung berdiri, ia sangat takut jika yang di katakan adiknya benar. Ia memukul wajahnya sendiri dengan kuat, melihat itu Dama langsung meraih tangan Gara dan memegangnya dengan kuat agar Gara tidak dapat memukul diri sendiri lagi.
"Tenanglah kak, aku yakin Putih tidak akan berbuat senekat itu." Kata Dama mencoba menenangkan Gara.
"Tidak Dam, Putih orangnya seperti itu. Waktu aku menyiksanya beberapa hari yang lalu ia sempat ingin bunuh diri, dia sangat nekad. Hiks... hiks..." Gara menangis mengenang perbuatannya yang menyiksa Putih sampai istrinya itu hendak bunuh diri.
"Aku akan membantu mencarinya, jadi tenanglah kak." Pukul Dama, ia juga khawatir Putih nekad bunuh diri. Tapi bagaimana tidak ia tahu Putih hanya sendirian di dunia ini di tambah ia selalu di siksa, maka tidak mungkin jika Putih tidak melakukan hal konyol tersebut.
Sementara si apartemen Reyhan terlihat wanita cantik itu sedang membaca buku, penampilannya sudah baik sekarang karena Reyhan membelikan baju untuknya. Reyhan menatap diam melihat Putih yang sedang asik membaca buku, wanita itu tertawa sebentar saat membaca bagian yang lucu.
"Iya Tuan, ini sangat lucu terimakasih sudah memberikan aku buku ini." Kata Putih tersenyum senang melihat ke arah Reyhan yang hendak duduk di hadapannya.
"Baguslah kalau kau suka Putih, aku suka melihatmu senang dan jangan bersedih lagi oke." Kata Reyhan mengelus rambut Putih sejenak.
"Tuan," panggil Putih membuat Reyhan menatap matanya dalam.
__ADS_1
"Kenapa terus memanggilku Tuan, kau saja terus memanggil kakakku Kak Andre jadi panggil aku Kak Reyhan oke." Kata Reyhan yang di anggukkan Putih.
"Gadis pintar, jadi kenapa memanggilku tadi?" Tanya Reyhan lagi.
"Aku boleh minta sesuatu?" Tanya Putih ragu, wajah polosnya saat meminta membuat Reyhan benar-benar geram dengan wanita di depannya ini.
"Kau mau minta apa, asal jangan meminta matahari saja nanti aku bakalan terbakar nanti." Kata Reyhan sambil tertawa pelan membayangkan tetapi mendengar itu Putih malah diam, ia merasa tidak ada yang lucu dengan perkataan Reyhan.
"Baiklah kau minta apa Putih?" Saat Reyhan sudah diam dan melihat wajah Putih yang sedang menunggu sesuatu.
"Aku lapar lagi, boleh aku minta makanan?" Tanya Putih penuh harap, ia takut jika Reyhan marah padanya.
Reyhan langsung berdiri dengan semangat, melihat reaksi Reyhan membuat Putih langsung mundur dan meringkuk ketakutan. Ia takut jika Reyhan sama seperti Gara yang suka memukulnya.
"Putih kenapa kau ketakutan?" Tanya Reyhy panik saat melihat tingkah Putih.
"Maafkan aku Tuan aku tidak akan meminta macam-macam, aku mohon jangan pukul aku." Kata Putih sambil menangis.
__ADS_1
"Hey.. hey Putih untuk apa aku menyakitimu, aku tadi hanya senang kau meminta sesuatu padaku. Ayolah jangan takut, aku akan membelikanmu makanan kau mau apa sebut saja yang kau mau." Kata Reyhan, ia perlahan mendekati Putih dan memeluk Putih dengan sayang.