JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Hasrat dan Penculikan


__ADS_3

Di dalam kamar di ruang kerja Gara terdengar desahan yang menggairahkan, Gara dan Lisa sedang memadu rindu karena lama tidak bertemu. Gara terpesona dengan tampilan Lisa yang menawan dan menggoda, bagi Gara penampilan Lisa sangat menarik wanita itu sudah hampir seperti Putih yang mulai agak montok. Gara tidak kuat menahan dorongan hasratnya, walaupun ia berusaha keras menahan demi Putih tetapi rayuan dan godaan Lisa membuatnya terlena.


"Ah... kau memang yang terbaik." Lisa ambruk di atas tubuh Gara, sedangkan Gara yang belum puas ia segera membalikkan tubuh Lisa di bawahnya dan menguasai tubuh perempuan itu sampai lemas tak berdaya.


Gara panik saat ia menyadari mengeluarkan spermanya di dalam milik Lisa, biasanya ia selalu mengeluarkan di luar tetapi hari ini ia terlalu bernafsu jadi ia tidak sengaja mengeluarkannya di dalam sementara Lisa tersenyum menang.


"Arghh brengsek." Kata Gara saat mencabut kepemilikannya yang menempel di milik Lisa.


"Kenapa sayang?" Tanya Lisa lemah, nafasnya masih terengah-engah dan badannya sampai lemas akibat perbuatan Gara yang buas.


"Sial." Umpat Gara sambil meremas rambutnya.


Gara duduk di tepi ranjang membelakangi Lisa yang sedang terbaring sambil tersenyum bahagia, wanita itu bangun dengan perlahan dan memeluk Gara dari belakang.


"Sudahlah jangan marah, kau menikmatinya kan?" Lisa mengelus dada Gara dari belakang membuat lelaki itu terbuai, entah mengapa hasrat bercinta Gara sangat cepat meningkat karena sudah lama tidak making love di tambah dengan Putih malam tadi ia melakukan sangat pelan sampai ia tersiksa sendiri walaupun ia juga mencapai kenikmatan.


Sementara di rumah Gara yang mewah Putih sedang makan dengan lahap, sedari tadi ia mengunyah tidak berhenti ia merasa kesal karena tidak di belikan es krim oleh Gara. Putih tadi melihat Dama pulang tetapi ia segan meminta dengan lelaki itu karena takut merepotkan.


"Huh... Tuan Gara lama sekali pulangnya padahal kan aku mau es krim, apa aku pergi sendiri aja ya?" Putih bingung sendiri ia tidak ingin merepotkan orang lain, Ani dan Tia sibuk dengan pekerjaan mereka yang tersisa hanya bapak sekuriti di depan tapi jika tidak ada yang menjaga rumah Putih takut kemalingan.

__ADS_1


"Aku harus berani keluar sendiri aku kan sudah besar dan akan memiliki anak." Putih mengelus perutnya dan tersenyum, ia pun mengambil uang yang sudah tersedia di dalam laci lemari di kamar itu. Ia langsung keluar dan berpamitan dengan bapak sekuriti yang menjaga rumah itu, awalnya tidak di izinkan karena ia sudah menelpon Gara berkali-kali tidak dapat di hubungi karena masih m lanjutkan aksi panasnya di kantor jadi bapak sekuriti itu mengizinkan karena Putih membicarakan tentang ngidam.


Putih memilih berjalan kaki walaupun ia mengambil uang cukup banyak dan untuk jaga-jaga tetapi ia ingin tetap sehat dengan berjalan kaki, ia melihat kafe di seberang jalan dan ia segera pergi kesana.


Putih memesan es krim banyak sekali, orang sekitar melihatnya dengan tatapan jijik karena Putih makan dengan lahap tanpa mempedulikan sekitar.


"Wah ini enak sekali sepertinya aku harus memesan lagi." Kata Putih senang.


Sementara di gudang rumah mewah Gara, suara teriakan kesakitan akibat cambukan dari anak buah Dama menggelegar. Dama tertawa melihat ketiga orang itu kesakitan, tidak seperti awal datang ketiga orang itu kini terlihat menyedihkan karena banyak bekas luka di tubuhnya yang mengering dan bahkan ada yang membusuk.


"Hahaha aku suka melihat ini, cambuk mereka lagi dengan keras setelah itu beri makan mereka dengan makanan yang basi." Kata Dama dengan suara besar.


"Hai cantik kamu sendirian?" Tanya seorang pria menghampiri Putih yang tengah sibuk makan es krim sampai belepotan, pria itu langsung duduk di depan Putih tanpa izin sementara Putih hanya memperhatikan saja kelakuan pria itu.


"Kau siapa?" Tanya Putih dengan mulut belepotan.


"Bersihkan mulutmu dulu sayang." Ucap lelaki itu sambil terkekeh, Putih langsung mengelap dengan tisu mulutnya.


"Sudah." Kata Putih memberitahu.

__ADS_1


"Aku adalah Saga temannya Gara."


"Kau adalah temannya Tuan Gara?" Tanya Putih meyakinkan.


"Iya, Gara memintaku untuk menjemputmu katanya ia akan memberikanmu hadiah."


"Hadiah? Wah benarkah itu tapi Tuan Gara tidak mengetahui jika aku keluar dari rumah, jadi bagaimana kau bisa sampai ke sini?" Kata Putih bingung.


"Ayolah ikut aku sekarang nanti dia akan marah jika tidak mengikuti perintahnya." Kata pria itu memelas.


"Tidak, aku tidak mengenalmu sebaiknya kau pergi dari sini." Kata Putih yang sudah takut dengan laki-laki di depannya itu.


"Diam kau, sebaiknya kau ikut aku atau kau mati!" Ancam pria itu sambil memainkan pisau lipat di depan Putih.


Putih melihat kiri kanan ia ingin berterima tetapi tangannya sudah di pegang dengan erat oleh Saga dan di tempelkan pisau di tangannya.


"Sebaiknya ikut denganku atau kau akan mati." Ucap laki-laki itu lalu mencengkeram tangan Putih kuat dan membawa Putih keluar dari kafe itu tak lupa ia meletakkan uang dia tas meja untuk membayar es krim Putih tadi.


"Aw... tanganku sakit." Kata Putih sambil menitikkan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2