
Putih masuk ke kamar terlebih dahulu terus di susul dengan Gara, ia masuk ke kamar mandi meninggalkan Gara yang duduk di ranjang dengan tak sabar. Keluar dari kamar mandi Putih langsung naik ke atas ranjang membuat Gara tersenyum merekah, tetapi senyumnya hanya sebentar saja sebab Putih langsung baring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Ehemm... Putih aku mau melakukannya." Ucap Gara yang masih memperhatikan Putih yang sudah mmendiamkan diri.
" Aku mau tidur Tuan." Kata Putih di balik selimut.
Gara mendesah berat setelah mendengar yang di katakan Putih, ia beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mandi dengan air dingin.
Matahari sudah beranjak Gara tengah bersiap-siap untuk kembali bekerja karena beberapa hari tidak bekerja, Putih yang masih tertidur dengan nyaman membuat Gara enggan membangunkannya. Gara pergi bekerja tanpa sarapan ia memilih sarapan di kantor, tidak lama Gara berangkat bekerja Putih terbangun ia melihat sekeliling kamar tidak menemui Gara.
" Apa dia pergi bekerja hati ini?" Gumam Putih yang duduk di atas ranjang dengan wajah bantalnya.
Putih berjalan ke kekamar mandi ia langsung mandi dengan air dingin agar terasa segar, bekas cambuk yang di berikan Gara masih membekas walaupun tidak separah kemarin perlahan air matanya menetes ia mengenang perbuatan Gara yang tega kepadanya.
Usai berpakaian Putih turun ke bawah untuk sarapan saat hendak menuju dapur Putih di hadang oleh Dama yang hanya memakai handuk meliliti tubuh bagian bawahnya.
" Aku mau sarapan." Ujar Putih tanpa melihat ke arah Dama ia hanya menunduk melihat lantai.
" Kita sarapan bersama, ada yang aku ingin tanya padamu." Kata Dama ia langsung menarik tangan Putih menuju meja makan, Ani dan Tia hanya melihat satu sama lain saat Dama memegang tangan Putih.
__ADS_1
" Lepaskan tanganku Tuan." Ucap Putih menarik tangannya kembali tetapi makin di genggam erat oleh Dama.
" Tenanglah aku ingin menanyakan sesuatu yang penting setelah sarapan, jadi makanlah dulu." Dama melepaskan genggaman tangannya saat mereka sudah sampai di meja makan, Putih hanya menurut kemudian ia memakan sarapan yang sudah di siapkan Ani dan Tia.
" Setelah sarapan ikut ke kamarku." Kata Gara saat sarapan mereka hampir habis, Putih yang mendengar itu hanya menatapnya datar membuat Dama terkekeh.
" Kenapa kau menatap seperti itu sayang?" Kata Dama membuat Putih tidak melihatnya lagi.
" Kenapa Tuan mengajakku ke kamar Tuan, bukannya Tuan hanya akan menanyakan sesuatu padaku?" Putih melirik Dama sebentar kemudian ia meminum air putih.
" Menurutmu aku mau apa?" Pertanyaan Dama membuat Putih berpikir sejenak.
Putih ingat waktu di rumah sakit Dama tampak ingin sekali berhubungan badan dengannya dan Dama pun mengatakannya juga.
" Ha ha ha.. kau ingin sekali ya merasakan punyaku?" Tanya Dama di sela tawanya.
" Jika tidak penting aku mau kembali ke kamar." Putih kesal mendengar ucapan Dama.
" Ikutlah denganku." Dama berdiri ia langsung menarik tangan Putih menuju kamarnya, Putih meronta tetapi Dama terus memaksa Putih masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
" Lepaskan aku Tuan." Dama tak mendengar itu ia mendorong Putih sampai terbaring di atas ranjangnya.
" Kalau kau terus meronta aku akan membuatmu mendesah, jadi diamlah." Mendengar itu Putih langsung terdiam membuat Dama tersenyum sinis melihatnya.
Dama berjalan dan membuka lemari ia mengambil satu lembar Poto, kemudian ia kembali berjalan mendekati Putih yang sudah terduduk di atas ranjang. Dama menaiki ranjang dan duduk di samping Putih membuat Putih hendak turun tetapi di tahan oleh Dama.
" Lihatlah Poto ini, apakah ini ibumu?" Mendengar kata ibu Putih langsung merebut Poto di tangan Dama membuat lelaki itu tersenyum.
" I..ni ibuku Tuan." Ucap Putih yang menahan tangis ia melihat ibunya di poto itu sangat cantik bahkan pakaiannya lebih modis.
" Ibu apakah ibu masih hidup?" Batin Putih.
" Benarkah?" Dama memainkan rambut Putih dengan lembut.
" Iya benar Tuan." Tak tahan menahan air mata yang hendak jatuh akhirnya pertahanannya runtuh.
" Aku melihat ibumu." Kata Dama ia berbisik di telinga Putih membuat wanita itu cepat mengalihkan pandangannya ke wajah Dama membuat nafas satu sama lain berhembus di wajah mereka.
" Bermainlah denganku aku akan memberitahumu." Putih menatap wajah Dama satu kemudian ia memejamkan matanya perlahan membuat Dama tersenyum menang.
__ADS_1