JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Menyuapi Makan


__ADS_3

" Tidak kau tidak boleh mati Putih." Gara melepaskan tangan Putih yang menggenggamnya, ia kemudian berdiri membelakangi Putih.


Mendengar itu Putih langsung panik, ia langsung bersujud di kaki Gara membuat lelaki itu kaget.


" Tuan tolong aku mau mati, aku merindukan ibuku." Putih berkata dengan bersungguh-sungguh, Gara mundur beberapa langkah ia melihat Putih yang bersujud kepadanya membuat air matanya jatuh.


" Kau sudah gila Putih, mana mungkin aku membunuhmu." Gara menyeka air matanya.


" Tuan tolonglah aku, kau kan sering menyakitiku tuan jadi kau bisa membunuhku dengan mudah jika tidak biarkan aku melompat dari tempat tadi." Putih merangkak mendekati kaki Gara.


" Kenapa kau jadi seperti ini, jangan mati aku tak bisa hidup tanpamu." Gara mendekat dan menarik Putih dalam pelukannya.


" Tuan jika aku berhasil mati nanti maukah kau percaya jika ibuku yang bukan membunuh orang tuamu?" Kata Putih yang dalam pelukan Gara.


" Ayo kita makan aku sudah membawa makanan untukmu." Gara tidak ingin menjawab pertanyaan Putih.


Putih melepaskan pelukan Gara, ia menatap Gara dengan mata bengkaknya yang terus menangis tadi. Putih membelai pipi Gara membuat lelaki itu terpejam merasakan hangatnya tangan Putih.

__ADS_1


" Tuan kau selalu menyakitiku jika menyangkut kematian orang tuamu, kau begitu sangat marah Tuan. Ibuku juga meninggal, saat aku mengatakan ibuku bukan pembunuh kau menyiksamu. Aku ingin kematian segera datang kepadaku Tuan agar kau tidak perlu selalu menguras emosimu saat membalas dendam kematian orang tuamu, Tuan kau mungkin akan tidak mempercayaiku jika aku berkata tentang kematian ibuku jadi aku tidak akan mengatakannya. Tuan teruslah siksa aku, aku ingin segera menemui ibu dan ayahku yang jauh disana aku sangat merindukan mereka." Air mata Gara perlahan turun tangan Putih tetap berada di pipi Gara perlahan Putih mendekatkan wajahnya ke wajah Gara lalu mengecup bibir Gara perlahan dan mundur bersandar di ranjang.


Gara melihat Putih yang sedang bersandar ia kemudian berdiri dan mengambil makanan yang di bawanya tadi kemudian ia duduk di depan Putih.


" Makanlah kau pasti sangat lapar." Gara menyuapi makanan ke mulut Putih di sambut Putih dengan hangat, kejadian tadi seperti tidak terjadi.


Putih makan dengan lahap hingga makannannya habis, ia makan dengan paksaan dirinya sendiri ia menahan sakit di bibirnya yang pecah. Gara melihat Putih yang sudah selesai mengunyah ia lalu memberikan cangkir yang berisi air putih untuk Putih.


" Gadis pintar aku akan meletakkan piring di bawah, setelah itu aku akan kembali lagi oke." Gara membereskan piring bekas makan Putih tadi ia keluar kamar meletakkan piring di dapur, ia tidak melihat kedua pembantunya.


" Kemana mereka, mungkin sedang di halaman belakang." Pikir Gara ia langsung kembali ke dalam kamarnya.


" Kenapa tidak naik ke atas ranjang hmm?" Putih tak menjawab Gara langsung menggendong Putih membaringkannya di atas ranjang ia pun ikut merebahkan dirinya di samping Putih.


" Istirahatlah." Gara mengelus kepala Putih dengan lembut.


Putih menyampingkan badannya menghadap Gara membuat Gara tersenyum, Putih melihat wajah Gara dengan seksama.

__ADS_1


" Kenapa kau menatapku seperti itu, apa kau ingin menggodaku?" Tanya Gara yang masih mengelus kepala Putih pelan.


Putih menggelengkan kepalanya, ia menatap mata Gara dalam.


" Kapan Tuan akan menyakitiku lagi?" Pertanyaan Putih membuat tangan Gara berhenti mengelus kepala Putih.


" Kenapa bertanya seperti itu?" Gara tak habis pikir dengan pertanyaan Putih.


" Bukankah Tuan seperti itu, di rumah sakit Tuan merawat dan menjaganya kemudian Tuan memukulku. Tadi Tuan memberiku makan bahkan Tuan menyuapiku bukankan Tuan akan menyakitiku lagi.", Gara memejamkan matanya sejenak setelah mendengar perkataan Putih.


" Tidurlah Putih kau butuh istirahat." Gara mengelus kepala Putih kembali perlahan air matanya jatuh, Putih tetap melihat wajah Gara.


" Tuan aku mau tidur." Kata Putih yang masih melihat wajah Gara.


" Kenapa harus bilang tidurlah."


" Tapi kenapa Tuan ikut tidur di sampingku?" Tanya Putih yang membuat Gara membuka matanya.

__ADS_1


" Kau bercanda Putih aku adalah suamimu jadi aku harus tidur di sampingmu." Jawab Gara yang memperhatikan wajah Putih yang terlihat bingung.


__ADS_2