JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Lapar


__ADS_3

"Tuan tidak marah?" Tanya Putih mendongak saat Reyhan melepaskan pelukannya.


"Tentu saja tidak, kau mau apa bilang saja nanti akan aku pesan." Reyhan menyeka air mata yang ada di pipi Putih, wanita itu tersenyum karena mendapatkan kasih sayang dari pria yang ada di depannya.


"Hmm... Kak Reyhan aku mau..." Putih menggantungkan kata-kata ia berfikir sangat keras, sedangkan Reyhan yang di panggil kakak oleh Putih langsung tersenyum.


"Aku mau mie ayam, bakso, sate, seblak, rujak buah, es doger, dan cappucino cincau." Lanjut Putih ia menatap ragu melihat raut wajah Reyhan yang kaget mendengar permintaannya.


"Kau yakin akan menghabiskannya?" Tanya Reyhan penuh keraguan.


"Sudah lama sekali sejak ibu meninggal aku sudah tidak memakan itu kak, aku jadi kepingin makan semuanya." Jawab Putih sambil menunduk, ia sedih mengingat makan bersama sang ibu.


Mendengar kata ibu dari mulut Putih membuat Reyhan benar-benar iba dengan wanita di depannya ini.


"Oke baiklah jika itu permintaan Tuan Putri akan hamba laksanakan, pesanan akan datang." Jawab Reyhan dengan bercanda.

__ADS_1


"Terima kasih kakak." Jawab Putih sambil memeluk Reyhan yang langsung terdiam saat di peluk, Reyhan pun membalas pelukan Putih yang terasa hangat.


Tak sampai satu jam pesanan sampai, Putih sangat senang melihat makanan yang terhidang di atas meja makan di apartemen Reyhan tersebut. Pertama ia mengambil mie ayam dan di susul dengan bakso, terus ia memakan seblak degan lahap dan yang terakhir di makannya adalah sate dan meneguk cappucino cincau dengan cepat. Reyhan yang melihat itu hanya tertegun, ia seakan tak percaya dengan porsi makan wanita di depannya ini.


"Kenapa rujak buahnya dan es doger tak di habiskan sekalian?" Tanya Reyhan sambil menelan ludah.


"Nanti Kak, aku makan dan minumnya sambil baca buku ngelanjutin bacaan ku tadi." Jawab Putih dengan senyum merekah.


"Oh... Putih apakah di rumah Gara kamu makan dengan layak?" Tanya Reyhan penasaran, saat melihat cara Putih makan seperti itu membuatnya penasaran.


"Mulai sekarang jika ingin makan sesuatu atau menginginkan sesuatu kamu bisa minta sama aku ya?" Reyhan sebenarnya sangat marah dengan Gara, bagaimana tidak ia memperlakukan istrinya sendiri sangat tidak baik apalagi istri secantik dan sepolos Putih.


"Terimakasih ya Kak Reyhan sudah memberikanku tumpangan dan memberiku makan." Kata Putih penuh dengan terimakasih.


"Karena kau adalah adik kesayangannya Kak Andre ya jadi kau juga akan menjadi kesayangan ku juga."

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Putih antusias.


"Tentu dong."


"Wah jadi aku punya dua kakak laki-laki yang menyayangiku dong." Ucap Putih yang begitu kegirangan.


"Ya dan juga yang mencintaimu Putih." Gumam Reyhan pelan.


Malam sudah menunjukan wajahnya, mataharipun sudah terbenam. Gara dengan kondisi memprihatinkan, sedangkan Dama sedang menyusun rencana untuk menangkap paman dan bibinya. Dengan minuman yang berakohol tinggi Gara tampak sangat mabuk, ia mengunci diri di dalam kamar dan terus mencium baju-baju Putih yang pernah di pakai Putih tersebut.


"Putih." Racau Gara lalu kembali meminum alkoholnya lagi.


Gara tertawa dan menangis di dalam kamarnya, ia mengingat perbuatannya yang terus menyakiti Putih. Dia selalu terbayang saat Putih selalu bilang kesakitan dan setelah itu istrinya itu selalu mengatakan ingin mati, Gara langsung menangis membayangkannya. Perlahan kesadarannya tumbang, ia pingsan di dalam kamarnya sendiri.


"Maafkan aku Putih." Ucapnya sebelum pingsan.

__ADS_1


__ADS_2