
" Siapa nama panjang Putih?" Tanya Dama penasaran.
" Nama putriku Putih Sanaya sedangkan nama putri Sania adalah Putih Haliya." Dama tertegun mendengar perkataan wanita di depannya ini.
" Lanjutkan lagi ceritamu sampai selesai." Dama ingin tahu semua ceritanya ia tidak tahu siapa yang salah saat ini.
" Saat itu sarapan pagi, ada dua pembantu yang lain di rumah itu tetapi aku tidak tahu siapa namanya yang aku tahu mereka sangat baik dengan Sania. Pagi itu mereka menyuruhku membersihkan kamar tetapi aku menolak karena aku ingin memasukkan sianida ke dalam susu orangtuamu, awalnya mereka membantah karena Sania memang tidak pernah menyiapkan sarapan tetapi saat itu aku bersih kokoh meyakinkan kedua pembantu itu untuk menyiapkan sarapan akhirnya mereka mau. Setelah itu mereka makan sarapan dengan baik, aku tidak tahu jika mereka akan pergi jadi setelah sarapan mereka langsung keluar saat hendak masuk ke dalam mobil saat itu ayahmu sendiri yang mengendarai aku mencegatnya karena aku ingin ikut menumpang....,
...., awalnya mereka kaget akhirnya mereka mengiyakan, di jalan yang sepi mereka menghentikan mobil karena reaksi dari racun tersebut. Aku langsung keluar dan saat itu aku melihat Kira dan Doni sudah ada di belakang mobil kami, aku melihat Sania yang berlumuran darah sedang di papan mereka berdua. Aku kaget bukan main, mereka menghampiriku aku melihat Doni membuka pintu mobil bagian depan kemudian ia menembak orangtuamu. Aku kaget bukan main kemudian mereka memasukkan Sania ke dalam mobil dan menembak kepala Sania seakan-akan bunuh diri, Doni langsung memberi pistol di tangannya dan di letakkannya di genggaman tangan Sania."
" Hiks.. hiks.. aku yang bersalah, karena aku Sania meninggal. Tapi tolong lepaskan putriku dia tidak bersalah."
Dama termenung mendengar cerita dari Sonia ia tidak percaya Paman dan Bibinya lah yang membunuh orangtuanya, jadi itulah kenapa saat Putih melihat Paman dan Bibi ia bilang mereka yang pembunuh. Dama terus berkutat dengan pikirannya, Dama mengeluarkan handphonenya ia menunjukkan poto Putih kepada Sonia.
" Apa ini anakmu?" Tanya Dama saat menunjukkan poto Putih.
__ADS_1
" Bukan, ini Putih Haliya anak Sania."
Deg
" Jadi Putih selama ini tidak bersalah, Ya Tuhan aku merasa bersalah sekali." Dama langsung keluar dari gudang yang luas itu ia ingin menemui Putih untuk minta maaf.
" Lepaskan aku, aku ingin bertemu anakku." Jerit Sonia tetapi Dama tidak menghiraukan ia meninggalkan gudang karena ingin segera menemui Putih.
Belum menaiki tangga menuju lantai dua handphone Dama berbunyi tertera nama Gara di sana.
" Kenapa dengan Putih apa kau belum puas menggagahinya?" Tanya Gara dengan geram.
Bagai di sambar petir Dama terdiam saat Gara mengatakan itu, ia tidak tahu jika akan ketahuan ia yakin pasti kakaknya sudah melihat cctv.
" Kenapa kau diam brengsek." Teriak Gara di ujung telepon.
__ADS_1
" Kak maafkan aku, ada sesuatu yang harus aku bicarakan ini sangat penting kak. Putih..."
" Kenapa dengan Putih kau ingin menggagahinya lagi, tidak akan bisa Dama aku akan memberikan pelajaran yang setimpal untuk perempuan murahan itu." Potong Gara saat Dama ingin menjelaskan tentang Putih.
" Tapi kak..." Belum selesai bicara Gara sudah mematikan telponnya secara sepihak.
" Argghh sial, Putih." Dama langsung berlari menuju lantai dua ia ingin segera bertemu dengan Putih secepatnya.
Dama mencari sekeliling kamar Putih tetapi tidak menemukan wanita itu ia menyusuri satu persatu ruang di dalam rumah itu tetapi tidak menemukan Putih, ia mencari ke dapur ia hanya melihat kedua pembantunya.
" Lihat Putih pergi kemana?" Tanya Dama kepada kedua pembantunya yang sedang berkemas di dapur.
" Loh bukannya tadi Tuan Gara membawa Nona muda Putih pergi." Jawab Ani, sebab ia melihat Putih di tarik kasar oleh Gara keluar rumah dan di masukkan ke dalam mobil dengan paksa.
" Oh tidak Kak Gara." Dama menuju pintu depan dengan wajah bimbang, ia menelpon Gara kembali tetapi nomor Kakaknya sudah tidak aktif.
__ADS_1