
Selesai bersiap-siap Gara hendak pergi ke rumah sakit lagi menemani Putih, pukul 7 malam Gara keluar kamar ia turun ke lantai satu di bawah tangga Gara sudah di tunggu oleh Kira sang bibi.
" Kamu mau ke rumah sakit sekarang Gara?" Tanya Kira saat Gara sudah dekat dengannya.
" Iya bi, aku pergi dulu." Jawab Gara meninggalkan Kira sendiri.
" Tunggu Gara." Cegat Kira saat Gara berjalan beberapa langkah.
" Ada apa bi?" Gara menoleh, sebenarnya ia malas meladeni bibinya itu.
" Gara kamu panggil pembantu dong kerja disini, maksudnya yang malam juga kan repot kalau cuma pagi aja mereka di sini." Tutur Kira ia malas kalau mau ngapa-ngapain sendiri kalau tinggal suruh kan enak.
" Iya nanti aku suruh mereka tinggal di sini sekalian." Jawab Gara langsung melanjutkan langkahnya.
" Makasih ya sayang." Teriak Kira tetapi tidak di ladeni Gara.
Gara menyetir mobil sendiri ia mampir sebentar membeli buah untuk Putih, kemudian kembali melakukan mobil menuju rumah sakit.
Sesampainya di ruang rawat Putih ia melihat Putih sedang termenung sendiri, sebenarnya ia tak tega menyakiti Putih tetapi rasa dendamnya terlampau besar hingga ia tak bisa mengontrol diri.
" Putih." Panggil Gara.
__ADS_1
Putih tetap termenung ia terbaring dan melihat langit-langit kamar.
"Putih." Panggil Gara lagi saat sudah dekat dengan Putih ia langsung menoleh melihat ke arah Gara tanpa ekspresi.
" Aku bawa buah-buahan, kamu sudah makan bubur?" Putih hanya mengangguk ia masih menatap lekat wajah Gara.
" Aku kupaskan buahnya ya kamu mau makan sekarang?" Gara duduk di samping Putih sambil mengupas buah apel.
" Kamu siapa?" Tanya Putih membuat Gara kaget, ia takut jika Putih benar-benar amnesia seperti yang di katakan dokter Andre.
" Aku suamimu Putih, Gara." Jawab Gara mantap.
" Siapa aku?" Tanya Putih lagi.
" Oh aku kira Tuan akan menjawab jika aku adalah orang yang akan kau balas dendam kan kematian orang tuamu yang kau tuduh ibuku yang membunuhnya." Jawab Putih menatap lekat mata Gara.
" Kau membuatku jantungan Putih aku kira kau benar-benar amnesia, sudahlah Putih sebaiknya kamu makan buah ini sekarang." Gara menyodorkan potongan apel kemulut Putih tetapi Putih mengambil dengan tangannya.
" Tuan kenapa kau tidak menyakitiku lagi, aku ingin cepat segera mati saja." Setelah berkata Putih dengan santai makan potongan apel yang di beri Gara dengan santai.
Gara geram mendengar perkataan Putih ia sudah mencintai gadis itu tak di pungkiri ia juga ingin membalas dendam tetapi dengan cara lain ia tidak ingin menyakiti Putih lagi.
__ADS_1
" Diam lah Putih sebaiknya kau makan dengan baik." Jawab Gara mengalihkan pandangannya dari Putih.
" Tuan apa kau mencintaiku?" Tanya Putih ia melihat Gara yang tidak melihatnya lagi.
" Tuan kapan kau akan menyakitiku lagi?" Gara tetap terdiam.
" Tuan apa kau menikmati permainan dengan wanita yang di kantormu tadi pagi?" Gara langsung menoleh ia melihat wajah Putih yang datar.
" Kau melihatnya?" Tanya Gara penasaran.
" Tentu saja aku melihatnya kau kelihatan sangat menikmatinya Tuan." Jawab Putih tersenyum melihat wajah Gara yang sedikit pucat.
" Putih bukan maksudku..." Gara mencoba menjelaskan tetapi langsung di potong oleh Putih.
" Sudahlah mungkin kau tak cukup dengan satu lubang." Gara bangun ia mengangkat tangan ingin memukul Putih tapi tidak jadi melakukannya karena ia mendengar perkataan Putih.
" Bunuh aku saja Tuan aku lelah untuk hidup jika terus tersakiti." Putih memejamkan mata saat berucap saat hendak membuka mata Gara langsung mencium bibir Putih dengan ganas.
" Aku mencintaimu Putih." Kata Gara dengan ngos-ngosan, Putih langsung mengeluarkan air mata setelah Gara mengucap itu. Apalah daya Putih hanyalah wanita biasa yang jika suami melakukan hubungan badan dengan wanita lain tentu akan membuat sakit hati.
" Aku ingin tidur." Putih menghapus air matanya dan baring menyamping membelakangi Gara.
__ADS_1
Gara melihat Putih membelakanginya tanpa sadar ia juga meneteskan air mata.
" Tidurlah." Gara masih setia melihat Putih yang membelakanginya.