
Dua hari berlalu Gara sudah keluar dari rumah sakit sedangkan Putih juga mengikutinya di rumah, perubahan sikap Gara jauh berubah drastis dari yang dulu. Putih sangat heran dan dia juga harus menerima perubahan sikap dari suaminya itu.
Reyhan dan Andre sudah tahu jika Putih sudah beredar kembali di rumah Gara, Andre cukup senang tapi tidak dengan Reyhan. Ia sangat kesepian di apartemennya sendiri, biasanya Putih selalu membawa keceriaan untuknya terutama saat Putih sedang makan.
Gara belum pergi bekerja dan pekerjaannya semua sudah di tangani oleh Dama dan sekretarisnya jadi dia dapat istirahat dan berduaan dengan Putih.
"Kau mau sesuatu lagi?" Tanya Gara saat Putih baru selesai makan cemilan di dalam kamar saat duduk di sofa bersama.
"Tidak." Putih menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau mau sesuatu bilang ke aku ya." Kata Gara sambil memainkan rambut Putih yang di gerai.
"Aku mau makanan Tuan, makanan yang banyak. Mulutku ini tak bisa berhenti mengunyah, aku sangat menginginkan makanan." Batin Putih
Gara melihat wajah Putih yang gelisah sesekali istrinya itu pun cemberut, Putih sering melirik bungkus makanan dan sesekali melirik Gara. Ia ingin meminta makanan yang banyak dengan Gara tapi ia ragu dan takut, ia ingat dengan Reyhan yang selalu memberikan makanan yang banyak untuknya dan ia sangat merindukan lelaki itu hanya untuk makanan.
"Ada sesuatu yang kau inginkan? kau selalu melirikku sayang." Tanya Gara yang penasaran dengan gelagat Putih.
Putih masih menggeleng ia tidak berani meminta tetapi entah kenapa perasaannya begitu sedih jika tidak mendapatkan makanan, rasanya Putih ingin menangis meraung ia ingin segera menuju dapur untuk mendapatkan makanan yang banyak tetapi ia tidak mau bangkit rasanya berat sekali kakinya di tambah ada Gara ia makin malas bergerak.
Gara berdiri ia pura-pura ke kamar mandi, ia ingin mengintai Putih dari kamar mandi ia sangat penasaran entah apa yang di keluhkan istrinya itu.
__ADS_1
Putih melihat Gara bangkit ia tersenyum senang ia kira Gara akan mengambil makanan untuknya tetapi senyumnya langsung hilang saat Gara menuju dapur.
"Huh aku lapar, aku mau makan aku merasakan tidak kenyang-kenyangnya huhu..." Rengek Putih dalam kesendiriannya saat Gara sudah masuk dalam kamar mandi, Gara yang melihat tingkah istrinya dari balik pintu hanya terkekeh.
"Dia lapar, tapi kenapa hanya menahan. Tapikan dia sudah banyak makan, apa ini gara-gara kehamilannya." Gumam Gara di balik pintu.
Putih terdiam saat Gara kembali lagi, Gara duduk kembali di sofa di samping Putih. Raut wajahnya berubah-ubah ia memfokuskan menahan diri tapi ada sesuatu keinginan lebih dari dalam dirinya untuk makan.
"Padahal sudah makan siang tadi, tapi aku lapar lagi." Gara menggosok perutnya, ia berbicara sendiri untuk memancing Putih.
"
"Astaga aku ini kenapa, jika aku makan berlebihan nanti aku gendut dong." Gara geleng-geleng kepala dan mengambil handphone di kantong celananya dan memainkannya.
Putih langsung kecewa mendengar itu, Gara rasanya ingin tertawa melihat Putih yang manyun. Ia sangat ingin Putih bermanja dengannya tetapi tidak mungkin baginya karena kesalahannya dulu, ia yakin Putih belum bisa memaafkannya.
Putih berdiri ia sangat bingung harus bagaimana ia ingin ke tempat tidur untuk berbaring ria menghapus rasa lapar.
"Eh mau kemana?" Cegat Gara saat Putih beranjak dari duduknya.
"Aku mau tidur saja." Jawab Putih lesu.
__ADS_1
"Eh tunggu." Gara menarik tangan Putih, sebenarnya Putih takut jika Gara marah karena meninggalkannya sendiri duduk di sofa ia pun berbalik menghadap Gara dengan wajah takut.
"Kenapa wajahmu?" Tanya Gara yang melihat wajah Putih tidak seperti tadi.
"Maafkan saya Tuan saya bukan bermaksud meninggalkan Anda sendiri tapi saya anu... saya..." Putih bingung mau mencari alasan apa.
Gara meraih tangan Putih dan meletakkan Putih di pangkuannya, ia membelai pipi Putih membuat istrinya itu merinding.
"Ganti baju yang lebih tertutup dan rapi." Suruh Gara.
"Eh... untuk apa Tuan?" Tanya Putih bingung, tiba-tiba suaminya itu memintanya mengganti baju dengan yang lebih tertutup padahal ia hanya memakai kaos dan celana kain saja hari ini.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, kuliner mungkin asik. Apa kau sudah kenyang, aku sangat lapar makanya aku mengajakmu jalan-jalan sambil makan." Gara berpura-pura sedih, Putih mendengar ucapan Gara langsung sumringah rasanya air liurnya ingin menetes keluar.
Putih langsung memeluk Gara tiba-tiba membuat Gara terhenyak sesaat tetapi ia sangat suka dengan sikap Putih kali ini.
"Tuan aku mau jalan-jalan sambil makan, aku lapar sangat lapar ayo kita pergi sekarang." Kata Putih manja, Gara tersenyum senang mendengar itu. Nada manja yang di keluarkan Putih membuat ia begitu bahagia, ia kemudian melihat wajah Putih dan mencium pipi Putih.
"Kita senang-senang hari ini." Ucap Gara cukup keras ia ingin menikmati hari yang bahagia bersama Putih.
Putih mengangguk semangat, ia melihat wajah Gara dan mencium pipi Gara kembali ia sangat tidak sabaran untuk jalan-jalan sambil makan.
__ADS_1