
Dua bulan sudah berlalu, Doni dan Kira kini sudah di sekap bersamaan dengan Sonia mereka di siksa setiap hari oleh anak buah Dama karena memang Dama yang menyuruh mereka. Gara tampak acak-acakan penampilannya saat ini sangat memprihatinkan, ia mabuk-mabukan setiap hari dan tak mengurus diri lagi.
"Kak keluarlah dari kamar ini kau bisa gila kalau terus mengutuk diri di dalam kamar ini terus." Ucap Dama mencoba membangunkan Gara dari atas ranjang yang berantakan itu.
"Putih." Gumam Gara berat, ia berusaha mengeluarkan suaranya yang susah karena tenggorokannya sangat kering.
"Aku melihat Putih tadi di jalan tapi aku kehilangan jejak." Kata Dama bohong, mendengar itu Gara langsung bangun dari tempat tidurnya ia mencoba berdiri menghadap Dama tapi karena terus-menerus mabuk ia kehilangan kendali, Dama meraihnya dan mendudukkan Gara kembali ke ranjang.
"Jika mau bertemu dengan Putih kakak harus semangat lagi." Dama menyemangati, padahal ia benar-benar tidak tahu di mana Putih sekarang, ia juga bertanya dengan Andre tetapi dokter itu juga tidak mengetahuinya.
Dama mengangguk ia mengambil handphonenya dan melihat poto Putih di sana dan menciumnya, Dama membantu Gara membersihkan diri di dalam kamar mandi agar kakaknya tampak segar kembali.
***
"Iihh.. kak Reyhan jangan panggil aku gendut." Kata Putih dengan manja, ia sangat sebal karena dari bangun tidur sampai sesudah sarapan Reyhan selalu memanggilnya gendut.
"Makanya makan tuh jangan banyak, tuh kan akhirnya gendut banget." Ejek Reyhan sambil menjulurkan lidahnya.
"Mana ada aku gendut, aku cuma naik beberapa kilo aja tapi gak gendut." Balas Putih ikut menjulurkan lidahnya.
"Sama aja tuh namanya, dasar gendut." Mendengar itu Putih berdiri ia ingin memukul Reyhan karena sebal tetapi laki-laki yang duduk di sofa sedangkan dia di atas ranjang, Reyhan langsung keluar kamar Putih mengejarnya tapi gerakan Reyhan lebih cepat membuat ia kewalahan.
"Gendut." Ejek Reyhan di sela berlarinya.
__ADS_1
"Argh.." Reyhan langsung berlari ke arah Putih yang sedang memegang kepalanya.
"Kamu gak apa-apa Putih?" Tanya Reyhan panik kemudian ia memimpin Putih untuk duduk di sofa.
"Aku gak apa-apa kak, cuma tadi tiba-tiba pusing aja." Jawab Putih sambil mengurut pelan keningnya.
Ting Tong
Saat Reyhan mau membantu Putih bell apartemennya berbunyi, ia langsung bergegas menuju pintu dan membuka kenop pintu. Alangkah terkejutnya ia melihat Andre yang berdiri di depan pintu apartemennya, sudah lama Andre tidak kesini hampir satu tahunan.
"Kak Andre." Kata Reyhan kaget.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Andre yang penasaran.
Reyhan tak mampu mencegat ia tahu jika ini pastia kan ketahuan, jadi ia membiarkan saja.
"Putih." Andre sangat kaget melihat adik angkat kesayangannya yang cukup lama ia tidak lihat ada di apartemen adiknya sendiri.
"Kak Andre, kakak aku rindu." Putih langsung berlari dan memeluk Andre dengan erat, ia sudah melupakan sakit di kepalanya saat melihat Andre yang sedang berada di pelukannya.
"Kamu selama ini tinggal di sini sayang?" Tanya Andre dengan penuh kasih.
"Iya kak, Kak Reyhan sangat baik sama aku. Tapi kalau ku ingin bertemu dengan Kak Andre dia malah gak ngasih." Kata Putih sambil memanyunkan muncungnya.
__ADS_1
Andre menatap tajam Reyhan yang sedang tersenyum hambar saat ia menengok, Putih langsung menarik tangan Andre untuk duduk di sampingnya.
"Kak Andre lihat deh aku tambah berisikan, tapi aku tidak gendutkan?" Tanya Putih antusias, Andre menatap tubuh Putih sambil mengangguk.
"Kamu tambah berisi aja Putih." Itulah kata-kata yang di keluarkan dari mulut Andre.
"Iya kak, aku disini makan banyak banget. Kak Reyhan baik banget sama aku, dia suka beliin aku novel dan buku-buku yang menarik lainnya." Putih makin antusias menceritakannya.
"Wah kak Andre yakin kamu pasti bahagia sekali kan?" Andre balik antusias, jujur ia juga bahagia melihat Putih tampak bahagia tetapi yang masih ia tanyakan mengapa Putih ada di apartemen Reyhan.
"Iya aku bahagia sekali kak, ngomong-ngomong kakak ngapain kesini?" Tanya Putih.
"Kakak ada perlu sama Reyhan, soalnya anak kakak lagi pengen main sama dia." Jawab Andre dengan jujur, memang kedua anaknya ingin sekali bertemu dengan Reyhan karena sudah lama tidak bertemu.
"Wah bolehkah aku ikut?" Tanya Putih antusias, entah kenapa ia begitu senang mendengar kata anak-anak.
"Tidak boleh." Jawab Reyhan cepat, Andre menatapnya dengan curiga.
"Lain kali ya Putih, kami akan pergi dulu." Reyhan langsung menarik tangan Andre keluar apartemennya.
Putih melihat itu tertunduk sedih, ia menatap punggung belakang Andre dan menghilang di balik pintu. Ia pun berdiri dan berjalan membuka pintu apartemen perlahan, ia melihat Andre dan Reyhan sudah memasuki lift. Ia kemudian menutup kembali pintu belum menutup rapat ada kaki yang menyanggah pintu itu agar tidak tertutup, Putih sangat kaget saat orang itu membuka pintunya sampai terlihatlah orang tersebut.
"Putih."
__ADS_1
"Am..."