JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Cerita Sonia


__ADS_3

Putih termenung di atas ranjangnya ia bingung harus melakukan apa, Gara pagi-pagi berangkat keluar kota dengan tergesa-gesa karena ia agak bangun kesiangan karena aksi melelahkan mereka semalam. Ketukan pintu menyadarkan Putih dari renungannya, belum ia beranjak dari tempat tidur tetapi pintu itu sudah terbuka.


" Tuan Dama ngapain kamu ke sini?" Putih kaget karena Dama main masuk saja ke dalam kamar tanpa izin.


" Tenanglah sayang aku hanya ingin bermain-main nikmat saja denganmu." Dama menyeringai mendekati Putih.


" Stop Tuan di rumah ini ada cctv." Tutur Putih ketakutan jika ketahuan Gara.


" Hah kenapa aku baru tahu dan kenapa kau baru bilang." Dama melihat sekeliling kamar ia menemukan cctv membuat ia meremas kepala.


" Aku baru tahu tadi malam Tuan." Ucap Putih yang menutupi tubuhnya dengan selimut.


" Jadi perbuatan kita kemarin apa Kak Gara mengetahuinya?" Dama sangat takut jika Gara mengetahuinya bisa-bisa ia mati di tangan kakaknya sendiri.


" Tidak Tuan, Tuan Gara tidak mengetahuinya. Sebaiknya Tuan segera pergi sebelum Tuan Gara melihat Anda masuk ke dalam kamar ini." Dama menggeram ia mengepalkan tangannya kuat kemudian ia keluar dari kamar menahan hasrat.


Gara melihat cctv ia tersenyum sinis melihat Dama di dalam kamarnya.

__ADS_1


" Jadi kalian bermain di belakangku ya, Putih kau memang wanita murahan dua minggu lagi aku akan memberi hukuman untukmu yang setimpal." Gara mematikan handphonenya, perjalanan yang jauh membuatnya selalu mengumpat kesal.


Dama masuk ke dalam gudang di mana Sonia dengan keadaan kaki dan tangan terikat di kursi, melihat Sonia yang masih belum sadarkan diri membuatnya tambah marah.


" Ambilkan air seember." Dama menyuruh anak buahnya yang dari tadi menjaga Sonia.


" Baik Boss." Anak buah Dama yang berbadan tegap dan besar itu segera keluar dari gudang dan mengambil seember air, sedangkan anak buahnya yang lain berjaga di luar gudang.


Dama menyiram air yang di berikan anak buahnya tadi ke tubuh Sonia membuat wanita itu terbangun dengan kaget.


" Sial kenapa kau mengikatku?" Pekik Sonia saat Dama berdiri di depan Sonia dengan bersedekap tangan di dada.


" Karena aku ingin membunuhmu di depan anak mu wanita sial." Jawab Dama menekankan suaranya.


" Lepaskan Putih ia tidak tahu apa-apa." Jerit Sonia dengan geram.


" Aku tidak akan melepaskan pemberi nikmat di atas ranjangku Tante." Dama tertawa setelah mengatakan itu.

__ADS_1


" Brengsek... Hiks... hiks..." Sonia menangis ia tak dapat membayangkan apa yang lelaki di depannya itu menggagahi anaknya.


" Menangislah aku ingin melihatmu terus menderita, aku ingin menikmati tubuh anakmu di depanmu apa kau setuju?" Tanya Dama membuat Sonia memberontak kuat.


" Jangan.... Aku mohon jangan." Sonia tidak sanggup jika melihat anaknya di paksa melakukan itu di depannya.


" Baiklah aku tidak akan melakukannya, tapi kau harus ceritakan bagaimana kau membunuh orang tuaku sial." Teriak Dama keras.


" Baik.. baik akan aku ceritakan tapi aku mohon jangan sakiti anakku." Dama meminta anak buahnya mengambil kursi untuknya agar dengan leluasa mendengar cerita dari wanita di depannya itu tak lupa ia menyuruh anak buahnya merekam semua cerita yang keluar dari mulut Sonia.


" Dua tahun yang lalu ada sepasang suami istri meminta tolong denganku untuk membunuh orang tuamu, mereka bernama Kira dan Doni aku tidak tahu alasannya apa yang jelas mereka ingin sekali orang tuamu mati. Sejujurnya aku tidak ingin membunuh tetapi dengan bayaran yang pantastis akhirnya aku menerimanya, saat pembicaraan itu mereka datang ke rumahku meminta bantuan hanya kami bertiga yang mengetahui rencana tersebut. Aku tidak ingin mengotori tanganku, Kira dan Doni mengira jika aku Sania yang bekerja menjadi pembantu di rumah ini saat itu mereka tidak tahu jika aku mempunyai kembaran. Dulu aku sangat kekurangan uang makanya aku menerima ajakan mereka untuk membunuh orangtuamu, aku menceritakan kepada mereka yang bekerja di rumah orangtua mu bukan aku tetapi kembaranku."


Dama yang fokus mendengar itu sangat kaget setelah mendengar jika orang di depannya ini mempunyai kembaran.


" Putih." Gumam Dama pelan tetapi masih terdengar oleh Sonia.


" Aku dan Sania sama-sama memiliki anak perempuan bahkan mereka sangat mirip seperti kembar dan sama-sama bernama Putih."

__ADS_1


__ADS_2