
"Termasuk keduanya, kakak yakin jika kakak mampu adil untuk aku dan Lisa?" Tanya Putih memastikan.
"Aku akan mencobanya, maafkan aku Put dengan segenap jiwa aku minta maaf untuk menyakiti hatimu tapi aku mohon jangan tinggalkan aku cobalah untuk bertahan."
"Tenang saja aku akan bertahan untuk anak di dalam perut ku ini."
"Sekarang tidurlah besok kau akan ikut denganku ke kantor dan kita akan pergi ke kedai durian bersama Lisa, tapi apakah istriku yang cantik ini sangat suka durian?" Tanya Gara sambil mencolek hidung Putih.
"Aku tidak terlalu suka."
"Kalau tidak terlalu suka kenapa mau pergi, padahal kamu bebas kok mau makan apa nanti aku akan belikan."
"Kak kamu tidak akan menjadi suami yang adil jika kakak hanya memenuhi satu istri saja, bisanya aja menikahi dua perempuan tetapi untuk memikirkan itu saja susah." Sindir Putih.
"Iya.. iya istri pintar ku, aku salah."
"Sekarang tidurlah di kamar Lisa." Suruh Putih.
__ADS_1
"Gak mau aku maunya tidur sama kamu sayang." Kata Gara manja.
"Tidak, pergilah ada anakmu di dalam perutnya juga jadi sayangi dia aku mohon." Gara menatap mata Putih yang teduh, ia mengelus pipi Putih membuat istrinya menutup mata karena nyaman.
"Aku akan pergi, tidurlah dengan nyenyak ya." Gara mencium pipi Putih dengan sayang dan beranjak dari tempat tidurnya ia memperhatikan Putih yang tidak membuka mata, kemudian Gara keluar dari kamar itu dan saat keluar Putih baru membuka matanya dan meneteskan air mata perlahan.
"Akan aku terima semua kenyataan ini." Ucap Putih lirih.
Gara menuruni anak tangga menuju kamar tamu saat ia ingin membuka pintu kamar itu ternyata pintu itu di kunci. Gara langsung mengetok pintu tak lama Lisa membuka pintu itu, Lisa kaget melihat Gara ada di depan pintu kamarnya ia pun langsung memeluk Gara dengan senang walaupun Gara tidak membalas pelukan itu.
"Sudah, ayo kita masuk." Lisa melepaskan pelukannya ia langsung mengangguk cepat dan menarik tangan Gara masuk ke dalam kamar.
"Iya." Jawab Gara malas.
"Terimakasih sayang akhirnya kamu memilih aku dari pada wanita sialan itu." Kata Lisa sambil menyunggingkan senyumnya.
"Jangan bilang dia sialan, dialah yang menyuruh ku ke sini. Aku tekankan jangan mengganggunya jika kau tidak ingin terganggu." Ucap Gara sambil merebahkan dirinya di atas kasur.
__ADS_1
"Putih menyuruh Gara ke sini, apa itu benar?" Tanya Lisa dalam hati.
"Baiklah, emm apa kau mau melakukannya sekarang sayang." Lisa memainkan dada Gara dengan telunjuknya dan Gara langsung menepis itu.
"Tidurlah kau sedang hamil muda dan jangan macam-macam."
"Baiklah tapi biarkan aku memelukmu." Lisa langsung memeluk Gara, walaupun Gara belum menerimanya menjadi seorang istri tetapi Lisa cukup senang karena Gara mau tidu sekamarr dengannya.
***
"Gara-gara kalian aku menderita seperti ini sial." Ucap Sonia dengan lemah ia menatap benci ke arah Zira dan Doni.
"Mulut embermu yang membuat kami seperti ini wanita jal*ng." Balas Zira dengan keadaan lemah juga walaupun lemah kebencian di hatinya makin kuat.
"Cih... Jika ikatan tanganku lepas aku akan membunuh kalian berdua." Kata Sonia dengan geram.
"Hahaha aku akan menanti itu, jika kau terlepas tapi jika tidak kau yang akan membusuk disini." Doni tertawa setelah mengatakan itu membuat Sonia makin ingin membalas semuanya.
__ADS_1
"Akan aku bunuh kalian dan keponakan malang ku Putih, gara-gara kau aku tertangkap di sini kau sama saja dengan ibumu sama-sama menyusahkan." Kata Sonia dalam hati lalu ia menyeringai.