
Gara pergi meninggalkan Putih di dalam apartemen yang masih merengkuh di dalam kamar mandi, ia ingin memberi pelajaran dengan Dama karena telah berani menyentuh Putih.
Gara kembali kerumahnya saat masuk ke dalam rumah ia melihat Dama tengah duduk di tangga sedang meremas rambut karena gusar, Gara langsung menghampirinya dan menghantamkan satu pukulan ke arah Dama. Lelaki itu langsung terjengkang ke belakang karena mendapat pukulan secara tiba-tiba dari Gara.
"Aww... Kak..." Dama meringis mendapatkan pukulan telak dari Gara.
"Diam kau brengsek, beraninya kau tidur dengan istriku." Gara benar-benar naik pitam rasanya ia ingin memukul habis-habisan adik di depannya ini.
"Kak aku minta maaf soal itu, tapi percayalah aku pakai pengaman kak. Kak ada hal yang lebih penting dari itu, bukan..." Dama tak dapat menyelamatkan kata-katanya karena ia kembali mendapatkan pukulan dari Gara.
" Kau memang brengsek sialan, pergi dari rumah ini dari sekarang." Usir Gara dengan suara keras, sedangkan Ani dan Tia hanya mengintai dari dapur melihat Gara menghajar adiknya.
Dama berdiri menghadap ke arah Gara yang masih marah, Dama mengelus bibirnya yang pecah sejenak lalu menatap Gara. Gara yang melihat itu hanya menanti apa yang akan di katakan oleh Dama.
"Dengarkan aku kak soal itu aku benar-benar minta maaf, tapi ada yang lebih penting ini masalah Putih kak. Ibu Putih bukan pembunuh, dia hanya di jebak." Ungkap Dama sambil memegang penyanggah dekat tangga.
__ADS_1
"Apa maksudmu hah, jelas sekali itu benar jika ibu Putih yang membunuh orang tua kita." Gara benar-benar kesal mendengar itu, ia yakin jika Dama hanya memberi alasan saja.
"Tidak kak, aku menangkap kembaran ibu Putih Sonia namanya dan dia menjelaskan semuanya." Gara yang mendengar itu masih belum percaya dengan apa yang di katakan anaknya.
"Kau punya bukti?" Tanya Gara yang menuntut bukti dari Dama.
"Ikut aku ke gudang kak, dia ada di gudang." Dama berjalan dulu di ikuti Gara, Gara mengikuti dengan langkah malas ia benar-benar tidak percaya dengan bualan dari Dama.
Sampai di gudang Gara tertegun melihat wanita yang sedang terikat duduk di kursi, wanita itu yang membuat kebencian semakin dalam di hatinya. Ia ingin sekali membunuh wanita di depannya itu, wanita itu sedang tertidur karena kelelahan berteriak terus karena minta di pertemukan dengan anaknya.
"Dia kembaran ibu Putih tapi bukan ibu Putih yang membunuh tetapi paman dan bibi." Jawab Dama sambil memberikan rekaman yang di rekam saat Sonia bercerita tadi.
"Apa ini?" Tanya Gara saat menerima rekaman itu.
"Cerita saat kematian mama dan papa." Dama langsung keluar dari gudang ia merasa sumpek di dalam ruangan itu begitupun Gara ia juga mengikuti Dama.
__ADS_1
Dama dan Gara kembali ke dalam rumah tepatnya di ruang tamu, mereka duduk di sana Dama sedang bersandar sedangkan Gara masih sibuk menonton rekaman itu. Selesai menonton Gara langsung berdiri ia menjatuhkan rekaman itu membuat Dama melihatnya.
"Ja..di.. Putih tidak bersalah?" Gara melihat adiknya yang mengangguk.
Gara langsung berlari keluar ia ingin menemui Putih segera, ia tahu wanita itu saat ini sedang ketakutan akibat perbuatannya. Ia sangat menyesal telah menganiaya gadis polos yang tidak bersalah.
Gara masuk ke dalam apartemen ia langsung masuk ke dalam kamar dan menuju ke kamar mandi, ia melihat sekitar tetapi tak menemukan Putih. Gara langsung mencari sekeliling ruang tetapi tidak menemukan Putih di manapun, Gara berdiri di depan pintu apartemennya ia meremas rambutnya kuat saat menunduk ia melihat jejak air yang panjang ke arah pintu apartemennya.
Gara langsung mengikuti jejak air itu ia tahu jejak itu dari Putih, saat masuk ke dalam lift jejak itu tampak hilang begitu juga saat keluar dari lift jejaknya tampah hilang. Gara sangat frustasi di buatnya, ia berlari kesana-kemari mencari Putih tapi tidak menemukannya.
Di sepanjang jalan Putih berjalan dengan baju yang lembab dan tanpa alas kaki membuat kaki putihnya memerah, ia menyusuri jalan sambil memeluk tubuhnya sendiri dan menunduk.
"Aku mau mati ibu, aku mau ikut bersamamu." Ucapan itulah yang di sebutnya sepanjang jalan sambil gemetaran karena kedinginan.
Dress yang di pakai Putih hanya sebatas lutut, ia benar-benar kedinginan saat itu ia juga lemas karena susah mengatusy nafas karena menahan nafas cukup lama tadi.
__ADS_1
"Putih." panggil pria itu.