
Gara dan Dama sudah berada di depan UGD sebab Putih sudah di larikan ke rumah sakit, Gara yang tadi tampak marah sekarang berubah panik ia khawatir jika terjadi apa-apa dengan wanita yang sudah menjadi istrinya, Dama yang sedang duduk memperhatikan Gata yang berjalan mondar-mandir di depannya membuatnya berdecak kesal.
" Kak apakah kau bisa duduk, aku pusing melihatmu mondar-mandir terus." Ucap Dama dengan kesal.
" Diamkan aku takut terjadi apa-apa dengan wanita itu." Jawab Gara juga kesal dengan adiknya itu.
" Bukankah rencana awal ingin balas dendam ya biarkan saja aku ingin melihatnya menderita kesakitan." Jawab Dama malas.
" Ini semua salahmu kau yang membuat aku menyakitinya dengan kasar tadi." Kata Gara dengan geram.
" Apa maksud kakak bicara seperti itu, kak Gara yang menyakitinya tiba-tiba kenapa aku yang di salah." Ujar Dama.
" Ya karena kau sudah menikmati tubuh wanita itu." Gara mengingat saat Dama keluar kamar dengan menggunakan handuk saja.
" Cihh aku tak akan sudi, menyentuhnya saja aku tidak akan mau." Dama sangat kesal dengan tuduhan kakaknya.
" Lalu kenapa dia tidak ada di rumah tadi?" Gara tak yakin dengan jawaban Dama ia tahu jika adiknya itu juga suka bermain wanita.
Belum sempat menjawab pintu UGD terbuka, Gara langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
" Dok bagaimana keadaannya?" Tanya Gara yang bimbang dengan keadaan Putih, sedangkan Dama hanya memperhatikan Gara dan sang dokter.
" Boleh tau Anda siapanya Putih?" Tanya dokter itu, ia sangat penasaran siapa lelaki yang di depannya ini ia tahu betul jika Putih pasti tidak mau berkenalan dengan sembarang pria.
" Saya suaminya dok." Jawab Gara yang menunggu kabar tentang keadaan Putih.
" Suaminya? Kapan Putih menikah?" Tanya dokter yang makin tak yakin dengan pria di depannya ini, Putih memang tidak pernah mengatakan tentang pernikahannya ia tahu jika adik angkatnya itu sangat berhati-hati dengan pria karena tragedi masa kelamnya.
Melihat raut wajah sang dokter yang tidak percaya Gara langsung menunjukkan Poto pernikahannya dengan Putih, dokter yang melihat itu langsung mengangguk. Mungkin Putih belum sempat membicarakannya buktinya tadi saat check up dia sangat terburu-buru ingin cepat pulang.
" Baiklah saya percaya, silahkan ikut keruangan saya ada sesuatu yang serius yang ingin saya bicarakan."
" Maaf dok pasien sudah sadar apa kita bisa pindahkan ke ruangan ICU?" Tanya suster.
" Dok bolehkah saya bisa melihat istri saya sebentar?" Sanggah Gara ia ingin melihat Putih yang sekarang sedang terbaring lemah, ia mengingat perkataan Dama yang berkata tentang balas dendam tadi.
" Ya silahkan, saya akan menunggu di ruangan saya nama saya Andre." Dokter itu langsung meninggalkan mereka sedangkan suster menunggu di luar pintu saat melihat Gara yang langsung masuk kedalam ruangan.
Gara berjalan mendekat ke arah Putih dengan wajah datar ia melihat wajah pucat sang istri membuatnya tertawa kecil, Putih melihat itu hanya menatap wajah Gara yang seakan bahagia dengan penderitaannya. Ia merasa ingin segera mengakhiri kehidupannya saat ini daripada harus hidup bersama lelaki yang berstatus suaminya sekarang.
__ADS_1
" Halo sayang, kau sudah sadar ternyata. Sudah ku bilang aku tidak suka jika ada yang membuatku marah, jika bukan dengan adikku lelaki mana yang menjamahmh tadi?" Gara menatap wajah Putih yang tanpa ekspresi ia merasa kesal jika Putih tidak memiliki ekspresi seperti itu.
" Kenapa dengan wajahmu yang tak berekspresi itu?" Tanya Gara geram ia langsung memainkan payudara Putih dengan kuat membuat Putih meringis kesakitan.
" Hahaha jadi kau hanya berekspresi jika ada lelaki yang menyentuh mu ya, dasar wanita murah." Umpat Gara.
" Kenapa kau menyakitiku Mas?"
" Balas dendam, dengan perlahan kau akan kesakitan sampai kau mati Putih."
" Aku tidak pernah melakukan kesalahan yang membuat orang akan dendam terhadapku." Jawab Putih yang mengelak tuduhan Gara.
" Kau tidak Putih tetapi ibumu dia yang membunuh Ayah dan Ibuku dan kau harus menerima hukuman yang sepantasnya di dapatkan ibumu, sayangnya ibumu meninggal duluan dan sungguh sayangnya aku tidak melihat jasadnya jika saja aku melihatnya akan aku beri jasad ibumu ke anjing liar." Seru Gara yang membuat hati Putih tercabik, ia sangat yakin jika ibunya tidak membunuh orangtua Gara bahkan ibunya tidak pernah memukul Putih saat mereka bersama.
" Kau mungkin salah orang Mas ibuku tidak membunuh siapapun." Putih mencoba mengontrol emosinya karena ia tidak mau terpengaruh omongan Gara yang akan membuat kepalanya semakin sakit.
Ceklek pintu terbuka belum sempat Gara menjawab suster sudah memasuki ruangan.
" Maaf tuan pasien akan segera di pindahkan ke ruangan ICU." Kata suster.
__ADS_1
" Baiklah " Gara langsung meninggalkan ruangan ia langsung menuju ruangan dokter Andre.