JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Putih Memberontak


__ADS_3

"Ampun Tuan, hiks." Putih berjalan melangkah kebelakang dengan ketakutan, kemudian ia meringkuk saat badannya tersudut dengan tembok.


"Aku mohon ampun Tuan, hiks... hiks..." Putih benar-benar ketakutan melihat pria di depannya itu.


"Putih, aku mencintaimu Putih. Jangan pergi lagi aku mohon." Gara meraih tubuh Putih dalam dekapannya, ia memeluk Putih dengan penuh kerinduan.


"Jangan Tuan, aku takut hiks..." Putih berusaha mendorong tubuh Gara yang mendekapnya kuat, tapi ia begitu lemah membuatnya hanya pasrah.


"Ayo pulang sayang." Gara melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Putih unyuk mengajaknya pulang.


"Tidak mau, aku tidak mau." Putih menggeleng-gelengkan kepalanya kuat, ia benar-benar tidak ingin bersama dengan Gara.


"Putih maafkan aku." Gara berusaha membujuknya tetapi Putih tetap bersih keras tidak ingin ikut.


"Aku tak mau." Kepala Putih terasa pengap, ia benar-benar kelelahan dan sangat ketakutan membuatnya langsung kehilangan kesadaran.


"Putih... Putih..." Gara menepuk pipi Putih mencoba menyadarkan, melihat Putih tak kunjung sadar Gara langsung membawa Putih keluar dari apartemen dan kembali ke rumahnya.


Flashback On


"Kau mau kemana kak?" Tanya Dama melihat Gara yang sudah rapi berpakaian.


"Ke apartemen Leon aku sudah lama tidak kesana." Jawab Gara sambil membenarkan tali sepatunya.

__ADS_1


"Oh.. masih ingatkan jalannya?" Tanya Dama bergurau.


"Kau bercanda, ingatanku masih tetap terjaga 100%." Jawab Gara sombong.


"Cih... baiklah aku juga akan pergi sebentar nanti." Kata Dama yang hendak keluar dari kamar Gara.


"Aku tidak bertanya." Seru Gara tanpa melihat Dama ia masih sibuk dengan tali sepatunya.


"Aku hanya bilang." Dama langsung melengos pergi setelah mengucapkan itu membuat Gara tersenyum miring.


Dama sudah sampai di depan apartemen Leon, saat hendak menekan bell ia melihat pintu apartemen sebelah Leon terbuka. Terlihat kepala wanita yang nongol, kemudian wanita itu keluar selangkah mengamati lift. Setelah itu ia kembali lagi masuk ke dalam apartemen, Gara yang melihat wanita itu seperti istrinya langsung berlari menuju apartemen sebelah Leon. Saat pintu itu hendak tertutup ia menyanggah kakinya agar tidak jadi tertutup, Putih kaget saat pintu itu terbuka ia melihat pria yang di takutinya sedang berdiri di depannya membuatnya melangkah mundur.


"Putih." Ucap Gara senang melihat istrinya.


Gara membaringkan Putih di atas tempat tidurnya, kamar itu sudah di bersihkan oleh Ani. Gara terus menciumi wajah cantik Putih bertubi-tubi, ia sangat merindukan wanita itu.


"Kamu tambah berisi saja sayang." Ucap Gara sambil terkekeh pelan, ia terus memandang Putih tanpa henti.


Dama kembali pulang, ia melihat mobil kakaknya di halaman rumah membuat ia geleng kepala ia pikir kakaknya tidak jadi keluar.


Dama berjalan menuju lantai dua, ia membuka pintu kamar Gara perlahan ia kaget saat melihat kakaknya mencium seseorang yang terbaring di atas ranjang. Ia langsung masuk dan terpaku melihat siapa yang terbaring di atas ranjang.


"Kak ini Putih?" Tanya Dama seakan tak percaya sebab ia sudah mencari Putih kemana-mana tetapi ia tetap tidak bisa menemukannya.

__ADS_1


"Tentu saja dia istriku." Jawab Gara sambil mengambil tangan Putih dan di ciumnya dengan sayang.


"Kakak ketemu Putih dimana?" Tanya Dama yang betul-betul penasaran.


"Di sebelah apartemen Leon." Jawab Gara singkat.


"Hah jadi Putih selama ini tinggal di apartemen, tapi apartemen siapa kak?" Tanya Dama makin penasaran.


"Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas dia makin cantik dan kau lihat dia tambah berisi. Sepertinya dia sangat bahagia dua bulan ini." Gara mengelus pipi Putih yang masih belum sadar.


"Tunggu, kenapa Putih tidak sadar dia tidur atau pingsan?" Dama mencoba menyentuh dahi Putih tapi di tepis oleh Gara.


"Sebentar lagi dia akan sadar, jadi jangan berisik." Gara melirik Dama yang memiliki raut wajah yang tampak khawatir kali ini.


Tak lama kemudian Putih membuka matanya perlahan, ia menatap kabur penglihatannya. Ia mengerjapkan matanya kembali lalu membuka lagi matanya dan baru lah tambah jelas penglihatannya.


"Kak Rey..." Saat hendak memanggil nama Reyhan, Putih langsung berdiam melihat bukan Reyhan di hadapannya melainkan Gara.


"Sayang ini aku." Gara mencoba meraih tangan Putih.


"Argggghhhh..." Jerit Putih keras, Dama kaget bukan main melihat reaksi Putih saat ingin di raih oleh Gara. Putih seperti melihat setan, ia merangkak menjauh dan turun dari ranjang dan segera berlari keluar kamar.


Gara dan Dama segera menyusul, Putih hendak turun ke lantai bawah tetapi saat menuruni tangga kakinya terkilir dan membuatnya akan terjatuh ke tangga yang cukup jauh itu. Dengan sigap Gara menangkap tangannya agar tidak terjatuh, Putih melototkan matanya ketakutan ke arah tangannya yang berhasil di raih oleh Gara. Ia langsung memberontak seperti orang gila, dengan sentakan kuat Gara yang memegang tangannya langsung berbalik dan tergelincir ke tangga saat Putih hendak terikut tetapi tangannya sudah di gapai oleh Dama. Alhasil hanya Gara sendirilah yang menggelinding menuruni tangga, Putih yang melihat itu berteriak sejadi-jadinya sambil menangis.

__ADS_1


"Maaf... hiks... hiks..."


__ADS_2