JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Alarm


__ADS_3

" Lo kenapa senyum-senyum sendiri?" Leon mendekati Gara dan duduk di samping Gara yang berusaha menutupi handphonenya agar tidak di lihat Leon.


" Lo abis dari mana?" Tanya Gara yang sedikit gugup.


" Muka Lo kenapa begitu, aku tadi abis di apartemen sebelah. Ada apa kesini?" Leon bangun dari duduknya dan berjalan mengambil minuman botol di kulkas.


" Aku sudah nikah." Ucap Gara mantap.


" What, Lo nikah kapan cewek mana yang Lo buntingin?" Setelah mengambil minum Leon dengan cepat duduk di tempatnya kembali.


" Dia belum hamil, aku sengaja memang mau nikah entahlah aku bosan hidup sendirian." Jawab Gara jujur.


" Cewek mana yang bisa membuat Lo jatuh hati?" Tanya Leon penasaran.

__ADS_1


" Cewek dari Klub Malam langganan kita." Leon yang mendengar itu tak percaya jika sahabatnya menikah dengan wanita ****** dari Klub Malam walaupun mereka berdua juga brengsek.


" Lo benaran Ga, kenapa harus cewek dari sana sih?" Leon seperti tidak menyukai pendamping sahabatnya karena pasti wanita malam.


" Aku udah incer dia dari dua bulan yang lalu, udah lah jangan tanya lagi aku mau tidur sebentar di sini." Gara membaringkan badannya di sofa ia mendorong Leon dengan kakinya agar menyingkir.


" Lo cinta sama dia?" Tanya Leon yang sudah berdiri di samping Gara.


" Sudahlah aku mau tidur." Gara langsung memejamkan matanya ia tak menghiraukan pertanyaan Leon.


" Permisi non kami izin pulang dulu." Pamit Bu Ani dan Bh Tia.


" Eh ibu kirain udah pulang tadi, iya Bu hati-hati di jalan ya." Jawab Putih ramah kemudian mereka menundukkan kepala dan berlalu pergi meninggalkan Putih sendirian.

__ADS_1


" Huh Mas Gara kemana ya, ngeri juga sendirian di rumah besar ini. Oh iya sudah lama tidak melihat handphone ku." Putih berbicara sendiri ia langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mencari handphonenya.


Putih masuk ke dalam kamar ia mencari tas kecil yang berisi handphone dan dompetnya, ia melihat di sudut kamar di atas meja tas kecil miliknya dan langsung mengambil nya. Putih mengecek satu persatu pesan yang masuk banyak yang tidak penting hanya ada Rossa temannya yang di Klub Malam menanyakan kabar Putih.


Tiba-tiba alarm berbunyi pengingat pemberitahuan untuk Check Up kerumah sakit, raut wajah Putih menjadi sedih ia baru ingat jika hari ini harus ke rumah sakit. Putih ke rumah sakit satu bulan sekali ia harus konsultasi rutin di sana, di tambah bulan kemarin ia tidak pergi membuat wajahnya makin khawatir ia masih belum bisa ke rumah sakit karena biaya pengobatan untuknya sangat besar.


" Apa aku pinjam sama Mas Gara aja ya atau pinjam sama Rossa, ah.. aku bingung kalau sama Mas Gara nanti dia marah kalau sama Rossa pasti dia tidak punyak uang sebanyak itu." Putih makin bingung ia takut jika penyakitnya bertambah parah.


" Kenapa wajahmu seperti itu." Putih terlonjak kaget tiba-tiba saja Gara sudah di ambang pintu.


" Eh... tidak apa-apa Mas." Jawab Putih gugup.


" Heh kenapa ada yang booking kamu ya?" Pertanyaan Gara membuat Putih sedih ia merasa dirinya sangat buruk di mata suaminya ini.

__ADS_1


" Ti..dak Mas, emm.. Mas boleh aku izin keluar aku mau jumpa sama teman aku." Putih bicara tanpa melihat ke arah Gara ia masih merasa sedih dan juga takut dengan Gara.


Gara berjalan mendekat ke arah Putih, " bersiaplah kita akan keluar jangan lupa pakai celana dalam." Gara langsung berjalan merebahkan tubuhnya ke kasur sebentar.


__ADS_2