JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Adik Andre


__ADS_3

" Kau suamiku Tuan, apakah kita sudah menikah?" Pertanyaan Putih membuat Gara terduduk ia menatap Putih dengan tatapan tak percaya.


" Aku adalah suamimu Putih jangan terus memanggilku Tuan panggil aku Mas, kita sudah menikah 4 hari apa kau lupa?" Putih hanya mengangguk sebab ia lupa dengan pria yang di sampingnya itu.


Gara kembali baring tetapi kali ini ia membelakangi Putih, perlahan air matanya menetes.


" Maafkan aku Putih mungkin karena perbuatan ku tadi kau bahkan melupakanku, entah kenapa aku tidak bisa mengontrol emosiku jika menyangkut mama dan papa aku masih belum bisa melupakan mereka. Bagaimana jika kau melupakan semuanya Putih apakah kau benar-benar akan amnesia, maafkan aku Putih yang tidak bisa mengontrol emosiku.


Tiga hari sudah berlalu bahkan Putih tidak pernah keluar dari dalam kamarnya, Gara merawatnya dengan baik. Doni dan Kira sudah kembali ke rumah mereka jadi tersisa hanya Putih, Gara, Dama dan kedua pembantu yang ada di rumah itu.


" Putih katanya Andre akan kesini malam nanti dan mengajak adiknya, apakah kau mau menemui mereka?" Sejak kejadian itu Putih banyak diam ia sangat jarang berbicara jika tidak di tanya oleh Gara, beda dengan kali ini saat mendengar kakak angkatnya akan datang Putih langsung berdiri dari duduk di sofanya ia berjingkrak-jingkrak senang seperti anak kecil yang di beri es krim.


" Aku memang lelaki yang buruk Putih." Gumam Gara pelan, kemudian ia tersenyum melihat Putih yang tampak senang mendengar Andre akan datang.


Malam sudah tiba Putih sudah bersiap-siap dengan dress berwarna putih sesuai namanya, ia merapikan rambut bergelombangnya di depan meja rias dan senyum-senyum sendiri, Gara yang melihat tingkah Putih ia pun ikut tersenyum.


Bellpun berbunyi dan terdengar oleh Putih yang sedang berkaca, Putih langsung berlari membuka pintu kamar ia berlari tanpa alas membuat Gara menyusul tak lupa membawa sepatu Putih yang tertinggal.


Ani membuka pintu terlihat dua lelaki tampan yang sedang berdiri di depan pintu, Putih yang melihat Andre langsung berlari makin cepat dan meloncat ke tubuh Andre membuat pria itu mundur beberapa langkah. Sedangkan adik Andre melihat itu langsung menatap Putih dengan penuh arti.

__ADS_1


" Wanita itu yang aku cari-cari, yang aku temui di rumah sakit kemarin." Batin adik Andre.


Putih memeluk erat Andre kakinya menyilang pinggang Andre dengan erat, Ani sampai bengong melihat kelakuan nona mudanya.


" Aku kangen kak." Kata Putih lalu mencium pipi Andre sejenak membuat adiknya cemberut.


" Putih kamu kenapa Hem gak malu apa udah besar gini." Andre mencoba menurunkan Putih tetapi Putih malah makin memeluknya erat.


" Rehan." Adik Andre langsung menoleh ke arah suara.


" Bro kau tinggal disini?" Rehan memeluk Gara rekan bisnis sekalian temannya.


" Baik Tuan, saya permisi." Ani langsung bergegas pergi ke dapur.


" Putih ayo turun, malu sama mereka." Andre tersenyum masam melihat Gara yang melihat tingkah istrinya.


" Gak mau aku rindu sama kak Andre hiks.. hiks.." Andre melihat Gara yang masih memperhatikan mereka.


" Sudah-sudah jangan menangis, Gara maaf ya." Ujar Andre melihat Gara.

__ADS_1


" Sudah gak apa-apa Putih memang rindu padamu, ayo masuk ke dalam."


Gara berjalan duluan ke ruang tamu di susul Rehan dan Andre yang masih setia menggendong Putih, Gara duduk di susul Rehan, sementara Andre ia bingung ingin duduk karena Putih masih di bergelantungan pada dirinya.


" Putih turunlah Dokter Andre mau duduk." Gara akhirnya bersuara melihat tingkah Putih.


" Gak mau aku mau di pangkuan kak Andre." Jawab Putih yang melihat Gara yang memandangnya dengan datar, sementara Putih memanyunkan bibirnya membuat Gara gemas.


" Putih kaki kak Andre tak akan kuat menopang berat badan kamu terus sayang." Kata Andre.


" Makanya kak Andre duduk dong." Jawab Putih manja, akhirnya Andre duduk dan tetap memangku Putih di pangkuannya dan masih memeluk Andre erat.


" Astaga adikku mengeras aku ingin segera pulang menemui Gia istriku." Batin Andre.


" Andai kau yang di pangkuanku Putih." Batin Rehan yang menatap iri kakaknya.


" Aku menginginkanmu Putih." Lanjut Gara yang membatin.


" Maafkan aku ya Gara, bukan maksudku..." Kata Andre tetapi perkataannya sudah di potong Gara.

__ADS_1


" Tidak apa-apa aku mengerti."


__ADS_2