JALAN HIDUP PUTIH

JALAN HIDUP PUTIH
Dia Anakku


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Gara sudah kembali ke kamar utama yaitu kamar dimana Putih tidur, Gara tersenyum melihat Putih yang masih tidur dengan nyenyak. Gara perlahan mengusap perut Putih dengan sayang dan ia pun mencium perut itu sambil di main-mainkanya dengan gemas.


"Ughh... mmm" Putih merasa ada sesuatu yang mengganggu tidurnya dan ia matanya pun perlahan terbuka dan mendapati kepala suaminya berada di atas perutnya.


"Kak Gara sudah bangun?" Tanya Putih hendak duduk tapi di tahan oleh Gara.


"Maaf membuatmu terbangun sayang, aku hanya gemas melihat perutmu aku lihat ini agak membuncit." Ucap Gara sambil tersenyum ke arah Putih yang berwajah sembab.


"Uh kak bagaimana gak buncit kan di dalam ada bayi, oh iya kakak gak tidur di sini kan?" Tanya Putih memastikan ia tertidur semalam setelah menangis alhasil ia tidak tahu jika suaminya kembali ke kamar.


"Aku jam 3 tadi kembali ke sini sayang, soalnya tadi sakit perut makanya aku kembali ke sini." Jawab Gara bohong, ia tidak dapat tidur saat bersama Lisa dan saat Lisa sudah terlelap dan ia pun beranjak dan kembali ke kamar ini lagi.


"Padahal kak Gara makan sedikit malam tadi kok sakit perut sih?"


"Namanya juga sakit harus mau gimana lagi bukan aku loh yang mau sakit tapi dia datang sendiri."


"Hmm... jadi sekarang apa masih sakit?" Tanya Putih sambil melirik perut Gara.


"Sudah enggak, kamu perhatian banget sama aku."


"Iyalah kalau kakak mati siapa nanti yang akan menjadi ayahnya, berarti aku harus mencari papa baru dong buat nih anak." Tunjuk Putih di perutnya.


"Eh kamu nyumpahin aku mati ya, kamu gak boleh nikah lagi apalagi sama orang lain pokoknya."


"Behh iya deh, sudah mandi sana nanti kita ke kantor. Aku mau ke dapur dulu kak bikin susu." Ucap Putih sambil beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


"Biar aku bikinin susunya ya?"


"Ga usah kakak mandi aja nanti telat, aku lagi pengen bikin susu sendiri pokonya."


"Iya deh, tapi hati-hati ya aku mau mandi dulu."


Di dapur Ani dan Tia sedang membuat sarapan, Putih membuat susu rasa stroberi dan langsung menuju pintu luar sambil melihat-lihat dan merasakan udara pagi dan sisa-sisa embun.


"Hai kamu kesini Put." Sapa Dama yang sedari tadi berada di teras rumah itu.


"Iya." Jawab Putih singkat dan ia pun duduk di kursi yang tersedia di situ.


"Bagaimana tidurmu apakah nyenyak?" Tanya Dama sambil memperhatikan perut Putih.


"Nyenyak."


"Dua hari lagi."


"Apa kau bahagia dengan kakakku?"


"Ya begitulah."


"Putih ada yang ingin aku tanyakan padamu?" Tanya Dama nampak mulai serius.


"Mau menanyakan apa?" Jawab Putih tanpa melihat Dama ia sedari tadi melihat halaman rumah tersebut.

__ADS_1


"Tapi kau jawab jujur ya."


"Hmmm."


"Anak yang di kandungan mu adalah anakku kan?" Putih langsung menoleh dan melihat wajah Dama yang menatap wajahnya intens.


"Bagaimana kau menyimpulkan seperti itu Dam"


"Saat kita berhubungan aku melepaskan pengamannya Put." Putih lupa bahkan tidak ingat dan tidak tahu jika Dama melepaskan pengamannya, ia sungguh tak sadar karena saat itu dia sangat menikmati permainan Dama dan tidak mengetahui yang lain.


"Kau bohong Dama?" Tanya Putih tak percaya.


"Aku sungguh-sungguh Put dan aku yakin jika itu anakku."


"Tidak Dam ini anak Gara, kau tidak boleh mengakui seperti itu." Putih gelengan seraya memegang perutnya.


"Apapun yang kau katakan itu tetap anakku dan aku berjanji akan merawatnya."


"Ahhh tidaakk..."


"Putih."


"Aku mencintai anak ini."


"Ibu mana yang tidak mencintai anaknya sendiri." Ujar seseorang.

__ADS_1


"LISA!"


__ADS_2