Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
10. Dinda Sakit


__ADS_3

"Hachuuh!!"


Beberapa lembar tisu bekas pakai memenuhi asbak yang ada di sana, sebagian tergeletak di atas meja dan di lantai. Disusul suara batuk dan juga bersin yang tak kunjung hilang.


Yoga datang dengan membawa teh jahe yang telah dibuatnya barusan, menyimpan cangkir itu di atas meja untuk Dinda.


"Huh, padahal elo yang pake jas ujan, kenapa elo yang bersin-bersin?" ujar Yoga.


"Yee, kan elo sendiri yang bilang kalau kulit gue kayak kulit ari. Lagian nih ya, emang gue kan nggak kuat kalau kehujanan malam-malam."


"Ya, udah. Minum ini dulu. Biar badan elo anget," ucap Yoga, kemudian menggeserkan cangkir teh itu kepada Dinda.


"Thank's." Dinda langsung menyeruput teh jahe. "Panas!" serunya. Tak menyangka jika teh itu panas. Dia kira teh itu hangat.


"Ya elah, ati-ati dong! Tuh pada tumpah. Lagian elo nggak lihat tuh asep ngepul gitu?" ujar Yoga, mengambil tisu dan mengelap meja karena Dinda menyimpan cangkir teh tersebut dengan kasar.


"Ya, kan gue kira itu anget. Lagian elo keterlaluan. Harusnya elo tuh kasih gue teh anget. Bukan teh panas. Elo mau bikin lidah gue kebakar? Duh, nggak enak banget nih." Dinda menjulurkan lidahnya, memperlihatkan lidahnya yang tadi kepanasan.


"Sorry, gue tadi keburu-buru. Habisnya denger elo bersin-bersin terus. Nih." Satu bungkus obat Yoga berikan kepada Dinda, membuat wanita itu meringis dan menggelengkan kepala.


"Nggak mau. Apaan? Gue nggak sakit. Nggak mau minum itu!" seru Dinda menolak.


"Elo bersin terus. Kalau nggak minum obat, besok tambah parah gimana?"


"Tapi gue nggak bisa minum obat. Kan elo sendiri tau gue nggak suka obat."

__ADS_1


"Hah, ya ampun. Elo tuh dah jadi seorang istri sekarang. Harusnya elo dah mulai bisa nelen obat. Nanti gimana kalau kita punya anak? Bisa-bisa anak kita nanti juga takut minum obat kayak emaknya."


Perkataan Yoga mendapatkan lirikan maut dari Dinda. "Hei, ingat ya. Pernikahan kita ini nggak beneran. Nggak ada tuh anak 'kita'. Yang ada tuh nanti, anak 'gue' dan anak 'elo'."


Yoga tersenyum lebar sambil menatap Dinda. "Ya, kan kali aja gitu selama kita bersama nanti elo rela punya anak dari gue. Nggak akan nolak sih gue. Lagian kan bikin anak katanya enak," ucap Yoga membuat Dinda mengangkat kepalan tangannya di depan wajah Juna.


"Sekali lagi elo bilang soal bikin anak, gue tampol lu!" seru Dinda kesal.


Yoga tertawa terbahak, dia kemudian berdiri dan pergi ke arah dapur. Tak lama, pemuda itu kembali lagi dengan sendok yang ada di tangannya.


"Kalau ini nggak akan nolak kan?" tanya Yoga menyodorkan obat yang sudah dia haluskan di sendok tersebut.


"Ga---"


"Ayolah, Sayang. Minum obatnya. Suamimu ini nggak mau kalau istrinya sakit. Atau, kamu mau aku paksa untuk minum obat? Kayak di film-film gitu loh." Yoga menggerakkan alisnya naik dan turun dengan cepat, serta senyuman mengerikan di bibirnya. Mengerti dengan apa yang Yoga maksud, Dinda segera merebut sendok itu dan segera meminumnya. Tak akan dia mau Yoga memperlakukannya seperti yang ada di film-film, di mana meminumkan obat dari mulut ke mulut. Iuuhhhh, apa jadinya dunia ini?


Kesal. Itulah yang Dinda rasakan sekarang, pahit dari obat yang melekat di lidahnya masih terasa meski dia sudah minum banyak.


"Makan martabak coklatnya, Sayang. Biar nggak pahit. Sudah ini kamu tidur ya. Di kamar gue," perintah Yoga.


"Nggak mau! Enak aja gue tidur di kamar elo. Nggak mau, ya. Elo bisa aja kan macem-macem sama gue?" tunjuk Dinda tepat di wajah Yoga.


"Nggak lah." Yoga mengambil stik game yang ada di dekat TV. "Tenang aja, gue bakalan begadang main game. Lagian gue juga nggak bisa tidur kayaknya, keinget Mama," ucap Yoga dengan suara yang lirih di akhir kalimat. Dinda bisa merasakan apa yang Yoga rasakan, dari nada suara dan juga tatapan Yoga yang sendu menandakan jika laki-laki itu sangat khawatir dengan sang ibu melebihi dirinya. Dinda kemudian turun dari atas kursi dan duduk di samping Yoga, mengeratkan selimut tebal yang melingkari tubuhnya hingga rapat.


"Gue juga tidur di sini aja, deh. Tapi elo jangan macam-macam, ya!"

__ADS_1


Yoga yang baru saja akan memulai game-nya melirik, menatap sang istri sekilas, kemudian kembali fokus pada game-nya.


"Di kamar aja, elo bisa tambah sakit kalau tidur di sini. Lagian di kamar lebih hangat, Din. Gue nggak apa-apa kok di sini sendirian. Nggak akan gue masuk ke dalam kamar. Suer. Atau, elo tidur di kamar tamu, deh. Besok kan elo kuliah," ucap Yoga panjang lebar, tapi tidak mendapatkan respon dari Dinda. Yoga melirik Dinda yang menyandarkan kepala pada bahunya, ternyata Dinda sudah tertidur dengan lelap sehingga napasnya terdengar dengan sangat jelas sekali.


"Eh, cepet banget dia tidur." Yoga tersenyum geli. Dinda yang biasanya tidak bisa tidur secepat ini, nyatanya sekarang malah mungkin sudah masuk ke alam mimpinya. Dia membiarkan saja Dinda tidur seperti ini, akan dia baringkan nanti beberapa saat lagi setelah Dinda benar-benar terlelap.


Setengah jam kemudian, Yoga merasakan pegal pada bahunya. Posisi Dinda masih seperti tadi, tidur dengan bersandar nyaman padanya. Gadis manis itu tidak terusik sama sekali dengan suara-suara game yang cukup keras.


"Aih, kamu ini. Tidur kok kayak kebo. Pasti karena pengaruh obat juga sih." Yoga tersenyum geli, dia ingat ekspresi Dinda saat tadi dia mengancam akan memberi obat dengan cara yang lain.


"Padahal itu hanya gertakan saja. Kalau pun elo mau gue pasti akan melakukannya dengan senang hati, Din," ujar Yoga kemudian tertawa kecil.


Jam yang ada di dinding menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Udara semakin dingin menusuk ke kulit. Hujan masih saja turun meski tidak sebesar tadi. Benar saja perkiraannya Yoga tadi, hujan memang tidak berhenti sama sekali. Entah, hujan akan berhenti jam berapa nanti.


"Din, bangun. Pindah ke kamar tamu, gih," ucap Yoga sambil menggoyangkan bahu Dinda. Akan tetapi, gadis itu tidak bangun sama sekali.


"Dinda. Bangun hei. Nanti malah masuk angin loh kalau elo tidur di sini," ucap Yoga lagi, tapi Dinda tidak terusik sama sekali. "Ish, ni anak apa lagi jadi putri tidur kali ya?" gumam Yoga. berkali-kali dia membangunkan Dinda, tapi dia sangat sulit sekali dibangunkan.


"Mama. Aku ... sakit!" gumam DInda di tengah-tengah tidurnya.


Yoga menatap wajah Dinda yang sudah memerah. Dia pun menepuk pipi itu, rasa panas seketika terasa di telapak tangannya.


"Din. Elo sakit?"


Tak henti Yoga menepuk pipi itu, tapi Dinda hanya membuka matanya sedikit dan tersenyum lirih.

__ADS_1


"Ga, gue sakit," ucap Dinda, kemudian kembali menutup matanya lagi.


__ADS_2