Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
24. Pemuda Lain Di Hati Dinda


__ADS_3

Dinda dan Yoga telah sampai di universitas, baru saja mereka turun di parkiran motor, sebuah suara terdengar dengan cukup kencang dari kejauhan.


“Dinda!” teriak Ratu sambil melambaikan tangannya dengan sangat riang. Wanita itu tersenyum dengan lebar dan segera berlari mendekat ke arah dua orang yang baru saja datang.


Dinda memutar bola matanya malas melihat wanita itu, tidak biasanya dia datang dan menyambutnya dengan ramah seperti itu.


“Sudah pasti buat Yoga,” gumam Dinda.


“Heh? Kamu ngomong apa?” tanya Yoga saat mendengar gumaman Dinda.


“Eh, nggak apa-apa.” Dinda segera menjawab dan tersenyum. Ratu telah sampai dua langkah di dekat mereka.


“Hai, selamat pagi!” sapa gadis itu dengan ramah. “Kalian barengan lagi? Ih, enak banget ya jadi Dinda. Bisa berangkat barengan sama Yoga,” ujar Ratu dengan tutur kata yang sangat manis bak anak kecil yang sedang berbicara karena ada inginnya.


“Eh, iya nih. Memangnya kamu nggak ada yang barengin? Kan ada sopir yang setiap hari nyetir mobil kamu,” ujar Yoga dan hal itu berhasil membuat Dinda tertawa terbahak.


Puas rasanya mendengar ucapan itu yang telah membuat Ratu menjadi kesal.


“Yaa, itu kan beda, Ga. Maksudnya cem-ceman gitu. Bukan sopir juga! Kalau sopir kan sudah biasa.” Ratu menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, sambil mencebikkan bibirnya, kedua tangan di belakang tubuhnya. Tampak sangat manis sekali gaun yang dipakai bergerak-gerak pada bagian rok.


“Oh. Ya kan tetep sama, ada yang temenin berangkat kuliah. Daripada berangkat sendiri,” ucap pemuda tersebut kemudian menyimpan helm-nya di stang motor. “Aku ke dalam dulu ya. Din, nanti pulang bareng lagi?” tanya Yoga kepada Dinda.


“Hem, terserah. Kalau gue nggak sibuk sih pulang bareng juga oke,” ujar Dinda, kemudian menarik tangan Ratu untuk pergi dari sana.


Ratu protes akan apa yang dilakukan oleh Dinda, dia ingin lebih lama bersama dengan laki-laki itu.


“Heh, kelas kita beda. Emang kamu mau jalan ke kelas dia terus balik lagi ke sini? Jauh, Ratu!” ujar Dinda.


“Ya, nggak apa-apa. Yang penting kan bisa bareng sama orang yang kita suka,” ujar Ratu sambil mesam mesem sendiri.


Dinda semakin malas saja mendengarnya. Inginnya menghipnotis Ratu agar wanita ini lupa dengan Yoga dan tidak lagi mendekatinya.


“Eh, Din. Kira-kira Yoga suka makan apa? Suka nongkrong di mana?”


“Mau apa nanyain itu?”

__ADS_1


“Ya, mau coba deketin dia lah. Besok gue mau bawain dia makanan enak, atau ngajak dia ke tempat yang dia suka,” ujar Ratu.


“Nggak perlu, dia tuh omnivora, pemakan segalanya termasuk beling dan kawat,” ujar Dinda kesal.


Tiba-tiba saja Ratu tertawa mendengarnya. Dia geli karena Dinda mengatakan ini. “Kamu tuh lucu banget sih, Din. Memang cocok kalau kamu jadi adik Yoga yang suka nyebelin kalau kakaknya dideketin orang,” ucap Ratu sambil mencubit pipi Dinda.


“Ish, jauhin tangan elo! Sakit tau!”


“Din!” panggil seseorang yang berteriak dari belakang Dinda dan juga Ratu. Dua orang itu sontak menolehkan kepalanya dan melihat seorang pemuda mendekat. Galih.


Dinda terpaku saat melihat kakak angkatannya itu ada di sana. Kacamatanya sedikit turun akibat berlari ke arahnya.


Semenjak Dinda menikah dengan Yoga, dia memang baru kali ini bertemu dengan pemuda ini. Debar di dalam dadanya mulai bereaksi setelah Galih berhenti dua langkah di depannya.


“Hai, Kak Galih. Lama nggak ketemu,” ucap Ratu sambil melambaikan tangannya di depan Galih.


“Hai juga. Iya nih, udah lama kita nggak ketemu. Maaf, aku sibuk banget soalnya,” ucap pemuda itu sambil tertawa kecil hingga memperlihatkan lesung pipinya yang selalu membuat Dinda ketar ketir di dalam hatinya.


"Kalian sudah mau masuk kelas?" tanya pemuda itu.


"Oh, oke deh. Eh, jam kosong nanti aku tunggu di kantin ya."


"Wah, ada apa di kantin? Mau traktir kita ya?" tanya Ratu sambil mencolek lengan Galih.


"Eh, iya nih. Aku lagi happy aja, makanya pengen traktir Dinda."


Ratu mencebikkan bibirnya saat mendengar hanya Dinda saja yang menjadi prioritas dari pemuda ini.


"Dinda aja, nih? Aku nggak?" tanya Ratu tidak menyembunyikan perasaan kesalnya sama sekali.


"Yaa, kalau kamu pengen ikut boleh sih. Kalau nggak ya lebih baik," ujar Galih.


"Oke. Fix. Aku ikut dan nggak peduli mau disebut pengganggu atau nggak. Aku pengen ditraktir," ucap Ratu. Dinda menyikut lengan Ratu dan berbisik dengan nada yang kesal.


"Heh, nggak tau malu!" ujar Dinda berbisik, tapi masih terdengar oleh Galih dan membuat pemuda itu tertawa geli.

__ADS_1


"Apaan? Kan Kak Galih juga yang nawarin tadi. Jadi, ya aku terima tawaran itu," ucap Ratu dengan santai.


"Haha, nggak apa-apa kok. Lagian semakin banyak orang kan bakalan semakin rame. Datang ya jam kosong nanti. Aku tunggu!" seru pemuda itu kemudian membenarkan kembali kaca matanya sebelum pergi dari hadapan kedua gadis itu sambil melambaikan tangan.


"Bye, Kak Galih!"


Ratu melambaikan tangan untuk membalas Galih, tapi segera diturunkan oleh Dinda setelah pemuda itu sudah tidak ada lagi di dekat mereka.


"Ish, elo ini. Apaan juga!" ujar Dinda kesal.


"Apa?" tanya Ratu menatap sahabatnya tidak mengerti.


"Stop ya ganggu dia."


"Siapa yang ganggu? Kan elo dari tadi cuma diam aja, jadi gue ngewakilin elo buat jawab, dan balas lambaian tangan dia," ujar Ratu tidak peduli.


Dinda menarik tangan Ratu dan masuk ke dalam kelas mereka.


...*...


"Waaah, bener-bener traktiran mewah ini!" seru Ratu saat melihat meja mereka yang penuh dengan hidangan makanan yang telah Galih pesan. Semua makanan itu biasa saja untuk Dinda, tapi untuk pecinta makanan seperti Ratu, itu adalah makanan yang sangat istimewa.


"Eh, nggak juga. Ini kan makanan biasa yang ada di sini. Ayo dimakan," tawar Galih memberi izin untuk yang lain makan.


"Dengan senang hati!" Ratu mengambil bakso yang sudah terhidang di atas meja, juga dengan minuman jus mangga yang dingin dan menyegarkan. "Eh, Kak Galih. Makasih ya traktirannya. Betewe, kok Kak Galih tau makanan kesukaan kami sih?" tanya Rau sambil menyedot jus mangga manis asem miliknya.


"Iya, lah. Siapa yang nggak tau makanan favorit para ciwi-ciwi di sini. Tapi, aku juga udah tau makanan kesukaan Dinda dan kebiasaannya," ucap Galih.


Dinda menjadi salah tingkah dibuatnya. Hanya beberapa kali mereka makan bersama di kantin, dan itu juga karena tidak sengaja. Entah bagaimana caranya mereka bisa beberapa kali bertemu dan Galih mengetahui makanan apa saja yang disukai oleh Dinda.


"Waaah, memang Kak Galih ini cowok idaman. Andai aku belum punya incaran, aku mau deh ngincar Kak Galih, hehe." Ratu tertawa malu.


"Oh ya? Siapa?"


"Yoga. Nih, sahabat Dinda!"

__ADS_1


__ADS_2