
"Eh, sorry. Lagian elo kenapa sih? Deketin gue mulu. Gue kan ... kan jadi--" Dinda terdiam, tidak melanjutkan ucapannya lagi, dia hanya melirik Yoga yang masih terbungkuk mengusap kakinya yang masih terasa sakit.
"Ya wajar lah, kalau gue deketin elo, emangnya kenapa sih?" tanya Yoga kesal.
DInda menjadi salah tingkah sendiri, terlalu takut memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Yoga selanjutnya sehingga tidak sadar telah melakukan hal yang kasar terhadap laki-laki itu.
"Ya, jangan lah. Kan gue belum setuju buat kelanjutannya. Gue--"
"Dinda, Yoga. Ada apa? Kok Mama denger tadi Yoga teriak?" tanya Puspa yang masuk tiba-tiba ke ruangan dapur dan membuat Dinda yang akan berbicara terdiam.
"Ini, Ma. Aku kesandung kaki meja, sakit," keluh Yoga.
Puspa mendekati putranya dan menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu. "Kok bisa? Gimana ceritanya bisa kesandung kaki meja?" tanya Puspa bingung, padahal tadi dia masih melihat anak dan menantunya sedang bermesraan di dapur itu.
"Iya, aku nggak sengaja aja, Ma. Sakit."
"Ah, baru segitu aja masa udah sakit? Yang kuat napa kalau jadi laki-laki itu!" ujar Puspa memukul bahu sang putra sedikit keras dan mendecih sebal.
__ADS_1
"Aku anak yang kuat, tapi tulang kering kena tendangan kan sakit juga," gumam laki-laki itu.
"Hah? Kenapa?" tanya Puspa dengan cepat saat tidak mendengar suara putranya yang pelan.
"Nggak apa-apa. Cuma sakit aja ini," ujar Yoga dengan cepat seraya meringis malu. "Mama mau makan? Itu sayurnya udah siap. Mama dan Dinda bisa makan sekarang," ujar Yoga lagi.
Puspa melihat masakan yang telah matang di atas meja dan mencium aromanya yang menggugah selera. "Wah, kayaknya enak nih. Apa lagi yang masak kalian berdua," ucap wanita yang baru memasuki usia lima puluh tahunan itu.
"Enak dong, masakan kita nggak ada yang ngalahin."
"Ini piringnya, Ma. Maaf kalau makanannya lama." Dinda memberikan sebuah piring dan sendok untuk sang ibu mertua.
"Kamu juga makan ya, Din."
Dinda mengangguk dan duduk di samping sang ibu mertua, sementara Yoga melepas celemek dan mengambil tas yang tadi dia simpan di salah satu kursi yang ada di sana. "Aku pergi dulu deh. Silakan kalian nikmati makanannya."
"Kamu nggak makan dulu?" tanya Puspa saat Yoga mengulurkan tangannya untuk berpamitan.
__ADS_1
"Nggak, nanti aja di kantor." Juga dengan Dinda yang duduk di samping ibunya. "Aku berangkat ya, Sayang. Jangan lupa makan yang banyak biar kamu nggak kurus. Bohai dikit kan enak kalau dipeluk." Yoga mengedipkan matanya, membuat Dinda kini seakan mendapatkan tiupan dari hawa panas hingga membuat wajahnya terasa panas. Sedangkan, Mama Puspa tersenyum melihat interaksi anak dan menantunya yang sekarang ini sudah lebih baik daripada sebelumnya.
"Eh, aku antar dulu deh." Dinda bangkit dari duduknya dan pergi mengantarkan sang suami yang hendak pergi ke kantor untuk bekerja.
Sampai di garasi, Yoga mengambil helm dan bersiap untuk pergi.
"Aku pergi ya." Sekali lagi Yoga mengulurkan tangannya untuk Dinda, tapi saat wanita itu akan mencium punggung tangan Yoga, malah laki-laki itu yang menarik tangannya dan mencium punggung tangan Dinda dengan lembut. Hati Dinda berdesir kembali mendapati perlakuan Yoga yang seperti itu.
"Kamu jangan terlalu capek di rumah."
Senyum merekah di bibir Dinda, rasanya aneh, tapi cukup menyenangkan juga diperlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki. Sudah tidak ada lagi nama Galih di dalam hatinya yang pernah dia damba untuk mengatakan kalimat ini andai mereka bersama di masa depan.
"Iya."
"Oh, ya. Nanti malam boleh nggak gue minta sesuatu?" tanya Yoga. Dinda terkesiap mendengar ucapan itu.
Permintaan apa? Jangan-jangan ....
__ADS_1