
"YOGAAAA!!!" teriakan Dinda menggema di dalam kamar. Pasalnya, saat dia membuka mata
Di kampus, Yoga dan Dinda masih bersikap biasa saja sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari teman-temannya. Lagi pula jurusan mereka berbeda, sehingga mereka hanya bertemu saat berangkat atau pulang kuliah, itu pun jika jam kepulangan mereka sama. Akan tetapi, sebagai suami yang baik, sering kali Yoga menjemput Dinda dengan sengaja karena rasa tanggung jawab yang dia miliki.
“Hei, Dinda, ya?” tanya seseorang menyentuh bahu Dinda.
“Eh, siapa?” tanya Dinda, padahal dia sudah tahu jika wanita itu adalah Maya, wanita yang telah membuatnya kesal dua hari yang lalu karena bersama dengan Yoga.
“Maya, masa nggak tau? Nggak kenal sama aku? Aku pernah ngalahin kamu kok di pertandingan badminton waktu itu,” ujar Maya. Ratu tidak tahu siapa wanita cantik ini, tapi dia cukup menarik juga dengan tubuhnya yang tinggi.
“Oh, iya. Inget. Apa kabar?” tanya Dinda.
“Baik. Aku nggak nyangka kamu sama Yoga di kampus yang sama, apalagi Yoga. Jurusan kita ternyata sama.” Wanita itu tersenyum senang, tapi tidak dengan Dinda dan juga Ratu, dari senyumannya dan nada saat menyebut nama Yoga tersirat sesuatu yang tidak baik untuknya.
“Kamu masih sahabatan sama dia kan?”
“Iya, masih.”
“Oh, syukur deh kalau gitu. Ya udah, aku ke kelasku dulu ya. Bye-bye!” Maya melambaikan tangannya dan pergi dari hadapan Dinda dan Ratu. Langkah kaki wanita itu semakin menjauh, tapi tatapan para mahasiswa masih terlihat mengiringi kepergian Maya.
"Siapa dia? Temen SMA? Kok kayaknya gimanaaa gitu waktu tadi sebut nama Yoga.” Ratu menyenggol lengan Dinda.
“Iya, dia juga sama kayak kamu, suka sama Yoga.”
“What?! No! Jangan lagi ada pelakor diantara aku dan dia!” ujar Ratu dengan nada merengek.
Dinda menatap sang sahabat yang seperti anak kecil yang cemburu, kemudian dia meninggalkan Ratu di sana dan memilih pergi ke kantin saja.
“Gimana kalau dia tau hubungan aku sama Yoga?” gumam Dinda.
Melihat Dinda yang pergi meninggalkannya, Ratu berteriak, “Din, tungguin Gue! Kok elo malah ninggalin gue?” Tak ingin ketinggalan, Ratu bergegas pergi dan mengimbangi langkah kaki Dinda.
“Bener dia suka sama Yoga?” tanya Ratu sambil terus melangkahkan kakinya yang panjang.
“Hem.”
“OMG, mana dia cantik pula. Saingan gue berat amat ya, apa lagi dia tuh temen kalian zaman SMA. Ya Tuhan, kalah saing gue!” ujar Ratu, kini dia berpikir keras harus bagaimana untuk mendekati Yoga. Dinda melirik Ratu dengan malas. Dia merasa kesal juga, tapi tidak tahu kesal karena apa. Apakah karena tadi Maya menyebutkan dia yang pernah mengalahkannya, atau apa?
Sampai di kantin mereka menunggu pesanan hingga makanan itu ada di atas meja. Mereka mengobrol, tepatnya Ratu yang mengoceh membahas tentang Maya, bertanya apa yang dimiliki wanita itu dan soal masa lalu mereka.
“Jadi, sudah semenjak kelas sepuluh dia coba deketin Yoga?” tanya Ratu.
__ADS_1
“Hem,” jawab Dinda dengan malas.
“Akhhh! Nggak boleh! Ini nggak boleh terjadi. Aku nggak bisa kalah dari dia. Enak aja mau ambil gebetan gue. Nggak bisa!” ujar Ratu menggebrak meja dengan keras sehingga mendapatkan tatapan heran dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Pun dengan Dinda yang juga terkejut karena perbuatan sahabatnya itu.
“Apaan sih elo? Lihat tuh yang lain pada lihatin kita. Bisa nggak sih kalau nggak usah heboh?” tanya Dinda. Ratu tidak menggubris ucapan Dinda, dia melanjutkan kekesalannya dengan mengoceh tanpa henti.
Dinda tidak ingin mengganggu Ratu lagi, biarkan saja jika wanita itu masih ingin mengoceh seperti itu.
"Eh, Din. Kan elo udah kenal sama Yoga sedari dulu, elo bisa kan kasih tau gue apa yang Yoga suka dan Yoga nggak suka?" pinta Ratu kepada Dinda. Ratu menatap sahabatnya itu dengan tajam dan tatapan memohon.
"Bukannya udah ya gue bilang apa yang dia uska dan dia nggak suka?" tanya Dinda kesal. Ratu tersenyum malu, Dinda memang pernah memberi tahunya apa saja yang Yoga sukai, tapi dia masih belum puas saja dengan itu semua.
"Iya, udah. Tapi ada hal yang lain lagi nggak sih? Bantuin gue dong buat ngomong sama dia." Ratu menggoyangkan tangan Dinda sehingga bakso yang ada di sendok Dinda terus-terusan terjatuh kembali lagi ke mangkoknya. Dinda pun menjadi sebal dengan apa yang sahabatnya ini lakukan.
"Ayo dong, Din. Bantu gue please!" seru Ratu sekali lagi.
Dinda menyimpan sendoknya di atas mangkok, kemudian menatap sahabatnya itu dengan malas.
"Gue harus bantu apa?" tanya Dinda.
"Ya apa kek, nonton atau apa gitu? Bantuin gue lah sampia Yoga jadian sama gue. Ya, ya. Please!" Ratu sampai menangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk memohon kepada Dinda.
Mendengar ucapan penolakan Dinda membuat Ratu mencebikkan bibirnya.
'Nggak asik lo!"
"'Biarin, daripada gue yang pusing, mendingan elo aja yang berjuang sendiri, biar kerasa perjuangannya dan Yoga jadi jatuh cinta sama elo."
Ratu kembali makan dengan tenang meski dia masih merasa kesal dengan apa yang Dinda ucapkan.
"Eh, malam Minggu nanti elo jadi berangkat?" tanya Ratu.
"Nggak tau."
"Kok nggak tau?" tanya Ratu heran, pasalnya Dinda sangat menyukai laki-laki berkaca mata itu.
"Nggak tau, gue nggak bisa menjanjikan sesuatu. Kali aja nanti ada kesibukkan lain atau hal yang mendesak. Nggak enak kan kalau gue udah janji, tapi gue ingkar?" ujar Dinda. Ratu mengangguk, mengiyakan ucapan sahabatnya itu.
"Elo berangkat?" tanya Dinda.
"Berangkat dong, masa nggak. Jarang-jarang sekarang ada pesta ulang tahun, bosan di rumah mulu belajar mulu. Sesekali kan healing gitu," ujar Ratu.
__ADS_1
Saat mereka sedang makan, tiba-tiba oandangan Ratu tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam sana, berjalan menuju ke kursi yang ada di sisi lain dari tempat Dinda dan Ratu makan.
"Din," bisik Ratu sambil menggerakkan dagunya ke arah kedua orang itu.
Dinda sedang menyuapkan makanannya, tapi dia terhenti saat melihat Yoga dan Maya ada di sana, bergabung dengan para teman yang lainnya.
"Nggak apa-apa, kali. Mereka kan rame-rame." Lirikan Dinda tertuju pada Yoga dan Maya, di dalam hatinya juga terasa sedikit tercubit melihat dua orang itu yang tampak akrab sekali. Akan tetapi, Dinda masih bisa menahan dirinya dengan baik, tidak seperti Ratu yang sudah meningkat emosinya.
"Nggak bisa dibiarin! Gue mau ke sana! Din, elo nyusul. Kita makan di sana!"
Tidak Dinda sangka jika Ratu pergi dengan membawa mangkok bakso dan minumannya ke arah meja Yoga dan Maya berada.
"Astaga, apa yang bakalan dia lakukan?" gumam Dinda yang tidak habis pikir dengan kelakuan sang sahabat.
Dinda sebenarnya tidak ingin pergi, tapi jujur saja dia takut jika Ratu akan nekat. Ratu, wanita manja, anak pertama, dan orang yang tidak bisa menerima kata tidak, kini terus berjalan dengan langkah kaki yang cepat pergi ke arah Yoga dan Maya berada.
"Hai, kita boleh gabung nggak?" tanya Ratu sambil duduk di depan Yoga meski tidak ada ucapan dari laki-laki itu mempersilakan. "Sepi di sana makan berdua. Kita makan di sini nggak apa-apa, kan? Ikut gabung?" tanya Ratu. Dinda juga ikut duduk di samping Ratu, tepat di hadapan Yoga.
Yoga tersenyum ke arah keduanya dan menganggukkan kepalanya. "Iya, boleh. Lebih banyak orang lebih rame kan?" ujar Yoga, Ratu senang, tapi tidak dengan Dinda dan Maya yang tidak menyukai keberadaan yang lainnya. Terlalu ramai sehingga tidak nyaman untuknya.
"Eh, kalian sedang apa di sini? Kok tumben banget ada di gedung D?" tanya Ratu berbasa basi. Siapa pun tahu jika kantin adalah tempata yang bebas dan siapa pun boleh pergi ke gedung mana pun yang mereka inginkan.
"Iya, kami lagi pengen di kantin ini, nih. Yoga bilang makanan di sini lebih enak daripada di gedung jurusan kita," ujar Maya menoleh dan tersenyum pada Yoga yang dijawab anggukkan kepala oleh laki-laki itu.
"Eh, perasaan rasanya sama aja deh," gumam Ratu menoleh ke arah Dinda. Dinda yang bingung mendapati tatapan tajam dari sahabatnya hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.
"Nggak tau juga gue. Kan gue mah nurut apa kata Yoga, gue diajak pergi ke sini ya hayu aja. Nggak ada salahnya kan cobain?" Maya tersenyum lagi kepada Yoga dengan tatapan genitnya, membuat Ratu dan Dinda menjadi sebal.
Tidak cukup tatapan tidak suka Dinda kepada Yoga, dia juga menendang kaki Yoga di bawah meja dengan ujung sepatunya cukup keras.
"Akh!" teriak Yoga mersakan sakit pada tulang keringnya. Yoga sedikit menunduk untuk mengusap kakinya yang sakit.
"Kenapa, Ga?" tanya Maya. Ratu juga bertanya hal yang sama.
"Eh, nggak apa-apa," ucap Yoga masih mengusap kakinya.
"Nggak apa-apa kok kayak sakit?" tanya Maya bingung.
Yoga dengan cepat menggelengkan kepalanya dan tersenyum meringis. "Nggak apa-apa kok, kayaknya ada semut yang gigit kaki aku, rasanya panas kayak digigit aja," ujar Yoga. Tatapan kesal Yoga layangkan kepada Dinda, tapi wanita yang ditatanya itu malah abai saja dan menikmati makanannya kembali.
Is, Dinda. Awas ya nanti d rumah! batin Yoga.
__ADS_1