
Semakin malam pesta itu semakin meriah dengan suara dari DJ dadakan yang menggetarkan tempat pesta tersebut. Lampu-lampu di atas kepala mereka berkelap kelip membuat sakit mata Dinda, tapi demi Galih yang sedang berulang tahun, dia menahan rasa pusing yang ada di kepalanya.
"Ayo, Din. Nikmati malam pestanya," ucap Galih sambil menaikkan kaca mata yang sedikit melorot ke hidungnya.
Dinda tersenyum dan menganggukkan kepala. "Meriah banget," ucap Dinda sambil berusaha untuk menggerakkan tubuhnya meski sedikit mengikuti irama lagu.
"Hah? Apa? Suara kamu nggak kedengeran!" teriak Galih sambil menunjuk ke telinganya, memang suara musik itu terdengar menggelegar sehingga tidak terdengar suara yang lain lagi.
Dinda terpaksa mendekatkan wajahnya ke arah Galih.
"Rame, Kak. Meriah," ucap Dinda di dekat telinga Galih, tidak dia sangka jika Galih menoleh sehingga ujung hidung Dinda tak sengaja menggesek pipinya. Dinda tersipu malu dengan apa yang dia dapatkan tadi, entah apakah Galih sengaja atau tidak, yang pasti secara tidak langsung dia mencium Galih, bukan?
"Eh?" Dinda menjauhkan kepalanya dari sana dan mundur satu langkah, berhenti menari dia menatap malu pada laki-laki yang dia sukai.
"Eh, maaf. Aku nggak sengaja. Maaf, tadi ada yang dorong aku dari belakang."
Entah apakah Galih berbohong atau tidak, tapi Dinda juga tidak tahu hal itu.
Dinda menjadi canggung, sehingga dia menjaga jaraknya dengan laki-laki itu. Tidak tahu mengapa, jika sekarang ini dia tidak lagi seperti dulu yang mengharapkan Galih untuknya. Entah kenapa, perasaannya terhadap Galih seakan menjadi biasa saja. Suka, tapi tidak terlalu menggebu seperti dulu yang ingin jadian dengan laki-laki itu.
"Ayo. Nari lagi," ajak Galih. Dinda kali ini menggelengkan kepalanya dan mendekati Galih.
"Kak, aku mau duduk dulu ya. Aku haus," ucap Dinda sambil mengusap lehernya. Galih mengangguk dan akan mengikuti Dinda, tapi dari belakang dia ditarik untuk tetap berada di tempatnya tersebut dan menari bersama dengan yang lainnya.
Dinda menyingkir dari sana, sedikit kewalahan karena tadi dia sempat terseret juga oleh orang lain yang sedang menikmati lagu di sana. Akhirnya, Dinda bisa menyingkir dan mendapati bangku yang kosong.
"Ah, kakiku sakit," ucap Dinda, menyesal rasanya memakai high heels meski setinggi tiga senti. Seharusnya tadi dia memakai sandal flat saja. Dinda menjadi iri dengan teman-temannya yang lain yang bisa menggunakan heels berjam-jam, tidak seperti dirinya yang baru satu jam saja sudah kelelahan. Bahkan mereka sekarang sedang meliuk-liukkan tubuh di sana diiringi oleh musik yang terdengar jedak jeduk
Musik masih menggema, sepertinya orang-orang itu masih ingin bergerak menari. Dinda tidak sengaja melihat Yoga yang juga melakukan hal yang sama, di depannya ada Ratu yang tersenyum dan menempatkan tangannya di pundak Yoga.
__ADS_1
"Dih, apaan lagi mereka!" ujar Dinda kesal, mengalihkan tatapannya ke arah lain dan enggan melihatnya lagi. Membuat dirinya kesal saja. Akan tetapi, sesekali dia melirik Yoga yang masih saja menari bersama dan kali ini dia memegang pinggang Ratu.
Dinda merasa tidak nyaman, dan rasanya ingin pulang saja. Di dalam keramaian seperti itu, tiba-tiba saja dirinya merasa sepi. Musik yang tadi terdengar jedak jeduk kini sudah tidak terdengar lagi di telinganya, kalah dengan pergolakan batinnya yang kini menggumul di dalam otak dan menghalangi suara-suara yang masuk ke telinga.
"Din. Hei. Dinda!" teriak seseorang membuat Dinda terkejut bukan main. Dinda menoleh dan mendapati Maya yang sedang duduk di sampingnya.
"Eh? Loh, Maya? Kok di sini?" tanya Dinda bingung melihat keberadaan Maya. Maya adalah anak baru pindahan dari dari kampus lain, tapi kenapa dia ada di sini?
"Iya, aku di sini, kebetulan diundang sama si Galih."
Dinda tersenyum kecut. Galih memang pemuda yang baik dan menyenangkan, pantas jika dia kenal dengan banyak orang dan akrab dengan mereka.
"Ah, sebenernya gua malas sih datang. Tapi nggak enak juga sama Om dan Tante."
"Om dan Tante?" tanya Dinda heran.
Seakrab itu kah dia dengan orang tua Galih? Tiba-tiba saja Dinda menjadi aneh, tidak heran sih jika Maya dikenal juga oleh banyak orang, dia cantik, tubuhnya tinggi meskipun kurus, dia juga menyenangkan. Sebelas dua belas dengan Ratu. Jika di telaah, dia selama beberapa hari ini teman Maya semakin banyak saja di kampus.
Dinda terperangah mendengarnya. Ternyata Maya adalah sepupu Galih?
Pandangan Maya teredar ke satu tempat di mana Yoga ada di sana.
"Eh, kok nggak bilang kalau ada Yoga? Gue mau ke sana!" seru wanita cantik itu kemudian mendekat pada Yoga dan ikut bergabung menari di sana. Tampak tatapan Ratu tidak suka saat Maya mendekat dan ikut berjoget bersama dengan mereka.
Dinda apa lagi, dia melihat Yoga yang kali ini meladeni dua orang sekaligus di sana.
"Ish, nyebelin banget deh! Please deh, rakus amat jadi laki-laki!" ujar Dinda kemudian memilih pergi dari sana.
Dinda ingin pamit kepada galih, tapi melihat pemuda berkaca mata itu sedang sibuk dengan teman yang lainnya membuat Dinda urung melakukannya dan memilih keluar saja dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Ah, andai gue bisa pake kendaraan, udah pasti gue bawa mobil sendiri!" gumam Dinda, sayangnya sang ayah tidak mengizinkannya untuk belajar menyetir karena saat belajar, Dinda pernah menabrakkan mobil sang papa hingga bermalam di bengkel selama satu minggu.
Akhirnya, Dinda menunggu taksi yang lewat. Sialnya, meski sudah menunggu sepuluh menit lamanya tidak ada mobil taksi yang lewat di depan rumah itu, padahal jalanan cukup ramai, tapi tidak ada taksi kosong yang mau berhenti.
Dinda kemudian berjalan menuju ke halte, kakinya sakit, sehingga dia memutuskan untuk membuka sepatunya saja. Biarkan saja jika ada orang yang melihat sekali pun, toh yang merasakan sakit bukan mereka.
Lantai trotoar yang dingin tidak menyurutkan keinginan Dinda untuk kembali ke tempat pesta, kesal yang dia rasakan membuatnya enggan dan ingin pulang saja ke rumah orang tuanya dan tidur dengan nyenyak seperti biasa.
"Duh, mana lagi nih halte? Masa iya, sih nggak ada halte bis di sini?" gumam Dinda saat sudah agak jauh dan berjalan, dia tidak menemukan tempat pemberhentian bis tersebut. Kakinya kini sakit, dan terasa sudah sangat kedinginan. Dia berhenti, menoleh ke belakang, sesekali berdiri di pinggir jalan untuk menghentikan taksi, tapi semua itu percuma. Dia tetap saja masih sendiri berdiri di sana seperti orang hilang.
Sepintas, ada sepercik niatan untuk kembali ke tempat pesta, tapi dia sadar jika rumah Galih sudah jauh dari tempatnya berjalan dan dia sedang berpikir, mungkin jika halte bus akan ada di depan sedikit lagi. Mungkin.
Sampai akhirnya, Dinda merasa kelelahan. Meski baginya mustahil tidak ada halte di sekitaran sini. Namun, memang tempat itu tidak dia temui.
"Hah, aku capek!" ujar Dinda, kemudian di bawah tiang lampu jalanan yang bersinar temaram dia berjongkok dan memeluk lututnya sendiri.
"Harusnya aku nggak usah berangkat ke pesta," gumam Dinda. Matanya terasa panas sampai menitikkan air mata, tapi bukan karena lelah. Dinda sendiri tidak paham kenapa dia sampai meneteskan air mata seperti itu.
"Mama, aku mau pulang," gumam Dinda terisak pelan.
Dinda terdiam seperti itu, menatap bayangan tubuhnya yang kecil di bawah sana. Sejenak dia mengangkat kepalanya, menatap langit yang sangat gelap tanpa adanya bintang sama sekali, kemudian dia mengalihkan tatapannya lagi, menatap bayangan di trotoar nyatanya lebih mengasyikkan daripada melihat langit yang kelam.
Dinda teringat akan sesuatu, tapi dia mencoba untuk menepiskannya. Apa yang dia bayangkan adalah hal yang tidak harus dia pikirkan. Yoga sedang bersenang-senang di pesta itu, mana mungkin dia mau diganggu dan mengantarkannya pulang.
Lima menit, selama itu tatapan Dinda tertuju pada bayangannya sendiri. Tetesan air matanya jatuh langsung ke trotoar yang dilapisi tanah.
"Kamu ngapain di sini? Kenapa pergi dari pesta?" ucap seorang pria yang bisa Dinda lihat sepatunya yang besar.
Dinda mengangkat kepalanya dan melihat siluet bayangan seorang laki-laki yang berdiri di depannya, cahaya dari lampu jalanan berada di belakang sehingga tidak menampakkan wajah laki-laki itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja air mata Dinda jatuh semakin banyak.