Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
51.


__ADS_3

Seperti apa yang Yoga inginkan tadi saat dia sebelum pergi bekerja, Dinda menunggu suaminya itu dari kantor. Dia menunggu sambil menonton acara drakor yang masih belum sempat dia tonton hingga habis.


"Din, udah malam loh. Kamu masuk aja. Nggak usah nungguin Yoga," ujar Mama Puspa menemui Dinda yang duduk di kursi di teras rumah. Dinda tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak apa-apa, Ma. Aku nunggu aja. Biasanya juga kan sebentar lagi dia pulang," ucap Dinda.


"Malam dingin loh. Yoga juga nggak apa-apa kali kalau nggak ditungguin. Anginnya dingin ini," ucap Mama Puspa.


Dinda lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa, Ma. Nggak terlalu dingin kok. Lagian kan aku juga pake baju lengan panjang," ujar Dinda. Puspa hanya menggelengkan kepalanya melihat sang menantu yang keras kepala.


"Ya sudah." Puspa pergi dari sana, tapi tidak sampai sepuluh menit, dia kembali lagi menemui Dinda dengan membawa jaket milik Yoga yang tadi pagi dicuci. Semenjak putranya menikah, Puspa tidak berani memasuki kamar sang anak dan menantunya kecuali jika keadaan yang terpaksa atau mendesak nantinya.


"Nih, kalau kamu mau nungguin Yoga, pake jaketnya. Biar nggak dingin. Nanti kalau setengah jam lagi dia belum juga pulang, kamu masuk aja ya," perintah Mama Puspa.


Dinda tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mengambil jaket milik Yoga dan memakainya segera. Memang cukup dingin, tapi karena banyak hal yang terjadi di hari ini membuat dia merasa bingung dengan apa yang sedang dia lakukan sedari siang tadi.


"Mama masuk dulu ya, nemenin Papa di dalam," pamit sang mertua. Dinda menganggukkan kepalanya sebelum Puspa masuk ke dalam.


Dari seberang rumah Yoga, dua orang sedang memperhatikan dari balkon kamar mereka, tersenyum dan saling menyikut satu sama lain.


"Anak kita sudah benar jatuh cinta sama suaminya," ujar Wildan pada sang istri. Irma melirik sang suami, masih belum paham apa yang dia maksud.


"Walaupun sebelumnya Dinda cuma pura-pura cinta sama Yoga, tapi sekarang ini dia sudah benar cinta dengan pemuda itu. Benar kan, Ma?" ujar Wildan. Irma hanya tersenyum dan mengiyakan.


"Papa tau?" tanyanya sambil merebahkan kepalanya pada bahu sang suami.


"Tau lah. Memangnya Mama kira Papa nggak tau apa yang terjadi sama anak kita? Memangnya cuma Mama doang yang tau? Papa juga bisa kali pura-pura kayak Mama dan juga Dinda. Nggak tau deh kenapa Dinda sampai mau menikah muda sama Yoga. Kalau diingat pas kejadian di rumah sakit itu sih, mungkin karena Dinda kasihan sama Mbak Puspa karena sakit. Tapi di luar dari itu, Papa setuju Dinda menikah dengan Yoga karena Papa percaya dengan anak itu.”


“Papa percaya sama Yoga?” tanya Irma lagi. Wildan menganggukkan kepalanya.


“Iya, Papa percaya kalau Yoga bisa menjaga Dinda dengan baik. Papa juga percaya dengan Mbak Puspa dan Mas Heru yang akan bisa menjaga Dinda seperti anak mereka sendiri,” ucap Wildan sambil tersenyum kecil. Setidaknya kedua orang itu sudah tahu watak Dinda baik maupun jeleknya dan bisa menerima putrinya dengan baik.


“Papa sempat ragu karena pernikahan dadakan itu, tapi Papa yakin kalau Dinda juga sudah memikirkan akibat dari apa yang dia lakukan kemarin. Anak kita sudah besar, kita hanya perlu mendukung keputusannya.”


Sekali lagi Irma menganggukkan kepalanya, setuju jika Dinda sudah cukup dewasa dan tidak gegabah dengan langkah yang sudah dia ambil.


“Ayo kita masuk, di sini dingin. Suasana dingin kayak gini lebih enak kalau kita bikin adik buat Dinda,” ujar sang suami sambil mengedipkan matanya dan tersenyum serta menarik tangan sang istri untuk masuk ke dalam kamar.


Sesaat setelah Wildan dan Irma masuk ke dalam kamarnya, motor Yoga telah sampai di pagar. Dia membuka pagar tersebut dan tersenyum saat melihat keberadaan Dinda yang ada di teras rumah tengah terkantuk-kantuk di sana meski terdengar suara dari film Korea yang sedang ditontonnya. Senyumnya mengembang sempurna karena Dinda ternyata ingat dengan permintaannya tadi.


“Din, di sini?” tanya Yoga basa basi setelah sampai di depan Dinda. Dinda melirik sebal, seakan Yoga lupa jika dirinya tadi yang meminta untuk ditunggu kepulangannya.


"Iya lah, tadi yang minta ditungguin siapa coba?" tanya Dinda sebal.


Yoga meringis memperlihatkan giginya yang rapi. "Hehe, iya. Aku pikir kamu nggak mau nungguin."

__ADS_1


Dinda jadi berpikir, Iya juga, kenapa aku nungguin dia? gumam Dinda bingung. Tidak biasanya dia mau menunggu laki-laki ini jika pulang berkerja.


"Nih." Yoga memberikan sebuah bungkusan plastik berwarna putih kepada Dinda. Gadis itu mengangkat kepalanya.


"Apa ini?" tanya Dinda sambil menyambut bungkusan makanan itu dan mengintipnya ke dalam sana.


"Makanan lah. Kesukaan istriku tercinta. Martabak manis dengan keju coklat yang banyak."


Dinda tersenyum senang, ucapan Yoga double kick untuknya. Meleleh karena makanan dan pernyataan laki-laki itu yang menyebutnya istri tercinta.


"Ish, apaan sih. Nggak usah nge-gembel kali!" ujar gadis itu kemudian berdiri dan hendak pergi dari hadapan Yoga, terasa dag-dig-dug rasa di dalam hatinya karena ucapan Yoga hari ini.


"Nggak nge-gembel, cuma gombal aja dikit. Muji istri sendiri nggak ada salahnya, kan?" ucap laki-laki itu sambil tertawa kecil dan menggandeng tangan Dinda dan membuat wanita itu menghentikan langkah kakinya sebentar. “Gandengan tangan, biar kelihatan romantis,” ucap Yoga berbisik, sontak perkataan laki-laki itu membuat Dinda menjadi panas di wajahnya dan seketika menjadi merah.


“Ish, apaan sih. Nggak lucu tau!"


Yoga tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh istrinya, dia menarik tangan Dinda dan masuk ke dalam rumah.


Puspa dan Heru sedang berada di ruang keluarga, tengah menonton tv berdua. Mereka melirik anak dan menantunya yang melewati ruangan itu.


“Ga, sudah pulang?” sapa sang ibu.


“Iya, sudah. Aku ke kamar dulu ya, mau mandi. Gerah.”


“Iya.”


“Ga, aku mau makan martabak—“


“Nanti aja. Aku lagi pengen sama kamu. Ayo!”


“Eh, tapi—“


Belum sempat Dinda selesai bicara, Yoga sudah membawanya pergi dari sana, Puspa dan Heru yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya itu.


“Udah pintar dia taklukan istri,” ujar Heru sambil tersenyum dan mengambil makanan yang Dinda simpan di atas meja. Puspa tertawa kecil menanggapi perkataan sang istri.


Sementara itu di lantai atas, Yoga yang telah berhasil membawa Dinda ke kamarnya menutup pintu, dan menarik Dinda ke arah kasur. Dinda merasa takut saat laki-laki itu dengan tergesa memaksa menariknya ke sana.


“Ga, ada apa ini?” Takut Dinda, pikirannya mulai berlari ke arah yang tidak baik dan sukses membuat dadanya berdebar dengan tidak karuan.


“Sini duduk.” Yoga memberi perintah, tapi Dinda yang masih takut tidak lantas mengikuti perintah dari laki-laki itu. Dia belum siap andaikan Yoga meminta haknya sekarang ini.


“Eh, itu—“


“Sudah duduk dulu. Kenapa sih? Kok kayak takut gitu sama gue?” ujar Yoga sedikit kesal. Barulah setelah itu Dinda duduk di samping tempat tidur dengan mengambil jarak cukup jauh dari Yoga.

__ADS_1


“Ada apa?”


“Gue mau tanya sesuatu.”


Dinda kira ini bukan tentang perasaan. Yoga berbicara dengan bahasa ‘elo-gue’ dengannya.


“Ada apa sih? Jangan bikin gue bingung deh!” kesal wanita itu.


“Ish, gue mau tanya sesuatu.”


Dinda diam dan memperhatikan.


“Ini soal kita sih. Papa ingin kita bikin resepsi, elo setuju nggak?” tanya Yoga dengan menatap sang istri.


“Re-resepsi?”


Yoga menganggukkan kepalanya. “Iya, resepsi pernikahan kita. Papa pikir kan kita juga udah beberapa bulan nikah, kita belum bikin pesta. Papa pengen undang orang lain dan publikasikan pernikahan kita. Gimana?” tanya Yoga.


Sedari di perjalanan pulang tadi, Yoga sudah memikirkan hal ini dan dia tidak mau menundanya lagi. Semakin cepat maka akan semakin baik karena dia takut jika akan ada lagi laki-laki yang lain yang ingin mendekati istrinya. Urusannya dengan Galih saja, masih belum selesai, dan Yoga tidak ingin Dinda didekati lagi oleh yang lainnya.


“Itu—“ Dinda terdiam sebentar, dia sedang memikirkan sesuatu. Akan tetapi, bukan memikirkan Galih seperti yang Yoga duga kini.


“Kenapa?” tanya Yoga menatap sang istri dengan lekat. Di dalam pikirannya Dinda sedang memikirkan Galih.


“Ratu, Maya. Gimana sama mereka?" tanya Dinda bingung menatap suaminya.


“Kamu takut mereka marah?”


“Iya.”


“Kita akan bicara sama mereka. Lagian dia juga kan bilang suka sama aku setelah kita menikah kan? Soal Maya, aku nggak tau apa-apa loh. Dan aku nggak peduli apa pun tentang dia. Yang aku pengen sekarang ini kita jalani hidup bersama tanpa adanya rahasia dari yang lain. Kamu pernah mikir nggak sih, kalau ternyata kita bahagia hidup bersama sedari dulu?" tanya Yoga yang kemudian mendapati anggukkan kepala dari sang istri.


“Iya, sih. Tapi aku takut kalau mereka akan marah.”


Yoga memegang tangan sang istri dengan lembut. “Jangan takut. Kalau mereka marah itu hal yang wajar, nggak ada yang bisa menyalahkan takdir. Jika kita bersama itu sudah garis dari Tuhan untuk kita, kan? Bukannya kamu juga ngerti soal itu, jodoh, rezeki, dan semua hal sudah Tuhan gariskan untuk kita. Kalau memang hidup kita seperti sekarang ini memangnya kenapa? Kita nggak mengakui bukannya kita ini sedang dzolim kepada diri sendiri?" tatap Yoga kepada sang istri.


Yoga bukan laki-laki yang pandai berbicara dan bisa meyakinkan seorang wanita, tapi dia yakin jika Dinda paham dengan maksudnya ini.


Namun, Dinda masih diam, tidak menanggapi ucapan sang suami.


Digenggamnya tangan Dinda dan ditatapnya sang istri dengan lembut.


"Maaf, andai saja semua ini nggak terjadi karena terpaksa, mungkin kita bisa lebih baik dalam menjalani hubungan ini."


"Tapi, andai nggak terpaksa, apa mungkin kita bisa sama-sama seperti sekarang ini?" tanya Dinda yang membuat Yoga menatapnya tidak percaya.

__ADS_1


Seulas senyum Yoga berikan kepada sang istri dan mengangguk dengan pelan.


"Ayo kita jalani rumah tangga seperti rumah tangga pada umumnya," ajak Dinda.


__ADS_2