Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
34. Malam Pesta


__ADS_3

"Eh, ya udah lah, Ma. Udah," ucap Dinda dengan malu.


"Bagus kalau udah, tinggal kalian yang rajin aja bikinnya biar cepet jadi. Mama pengen banget nimang cucu."


Dinda melirik Mama Puspa yang berwajah ceria, tapi kemudian wajah itu menjadi murung.


"Mama cuma takut, Din. Kalau sampai Mama nggak panjang umur dan nggak sempet lihat cucu Mama gimana?" tanya wanita itu dengan sedih. Dinda terkejut dan tidak suka dengan ucapan sang ibu mertua.


"Eh, Ma. Jangan bilang gitu lah. Mama pasti panjang umur kok, masa iya Mama dah mikir yang aneh-aneh aja?" tanya Dinda sambil melingkarkan kedua tangannya pada lengan Puspa.


"Mama juga nggak pengen mikir gitu, Din. Tapi kadang nih ya, kalau Mama ingat lagi sakit kok itu yang kepikiran. Mama juga pengen banget urusin cucu Mama."


"Makanya, Mama harus sehat dong. Lagian kan juga di sini ada aku. Aku bakalan urus Mama, bakalan perhatikan kesehatan Mama. Mama jangan sampai sakit lagi ya. Aku sama yang lain kan khawatir jadinya," ucap Dinda.


Puspa mendekat dan mencium kening Dinda dengan sayang. "Mama beruntung, punya menantu yang baik kayak kamu. Sayangnya kamu ke Mama nggak pernah main-main dan nggak pura-pura," ucap Mama Puspa.


Andai Mama tau apa yang kami lakuin, apa Mama akan benci aku? batin Dinda.


"Ma, masih lama nggak film-nya? Aku mau angkatin jemuran soalnya. Banyak baju yang belum dilipat, mau belajar juga sekalian. Nggak apa-apa kan?" tanya Dinda sekalian pamit kepada Puspa.


"Eh, iya. Nontonnya besok lagi aja. Lagian ini juga masih banyak part-nya sih. Besok nonton lagi ya sama Mama?" pinta wanita itu, Dinda menganggukkan kepalanya.


...**...


Malam Minggu, tepat pada saat pesta ulang tahun Galih, Dinda sedang bersiap untuk pergi. Sedari sore tadi dia sudah mempersiapkan pakaian yang akan dikenakannya. Sedikit riasan di wajah Dinda, hanya untuk agar tidak terlihat pucat saja.


Yoga baru saja pulang bekerja, masuk ke dalam kamar dan melihat Dinda yang sudah siap dan rapi.


"Mau ke mana?" tanya Yoga sambil membuka sepatunya.


"Aku diundang ke pestanya Kak Galih."


"Galih cowok yang kamu sukai?" tanya Yoga.


"Iya. Udah bilang kok tadi sama Mama, dan mama izinkan aku buat pergi," ucap Dinda. Tiba-tiba saja Yoga merasa tidak suka mendengar ucapan Dinda barusan.


"Minta izin tuh bukan sama mertua, tapi orang yang udah punya suami, minta izinnya sama suami," ucap Yoga. Dinda tertegun, memikirkan apa yang dikatakan oleh Yoga bukanlah hal yang salah.


"Iya. Kamu benar juga. Kalau gitu sekarang aku bilang sama kamu, aku minta izin buat pergi ke pestanya Kak Galih. Boleh, kan?" tanya Dinda kepada Yoga sambil tersenyum kecil.


"Boleh aja, tapi aku mau ikut boleh nggak?" tanya Yoga sambil tersenyum meringis.


"Loh mau ikut? Memangnya kamu diundang?" tanya Dinda heran.

__ADS_1


"Ya, nggak juga sih. Tapi kan aku juga pengen ikut ke pesta kayak kamu. Soalnya dari kemarin aku kerja, kan bosen juga kalau cuma di rumah, di kampus, atau di tempat kerja doang. Aku juga pengen ikut lah, kayaknya juga nggak apa-apa deh. Galih nggak akan marah juga," ucap Yoga dengan pedenya.


"Oh, gitu. Kayaknya nggak papa sih, Kak Galih kan juga orangnya baik banget, nggak mungkin juga dia bakalan usir kamu." Dinda tertawa, tidak mungkin juga melarang Yoga untuk ikut ke sana, apalagi memang Yoga akhir-akhir ini sibuk untuk bekerja. Benar apa katanya, dia butuh hiburan juga.


"Cepat mandi deh, gue mau ke rumah Ratu dulu."


"Loh, ngapain ke rumah Ratu?" tanya Yoga sedikit bingung.


"Ya, karena gue memang sama dia mau berangkatnya."


"Oh gitu. Pakai apa?" tanya Yoga sambil membuka kancing kemejanya.


"Ya taksi lah, memangnya pakai apa lagi?" tanya wanita itu menatap malas Yoga. Andai dia bisa mengendarai mobil sendiri sudah pasti dia akan membawa mobil milik ibunya.


"Ya udah. Elo tungguin deh gue mandi dulu lima menit aja. Nanti kita berangkatnya sama-sama, kita jemput Ratu juga," ucap Yoga sambil melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.


Dinda kembali duduk di tepi kasur dan mengirimkan pesan kepada Ratu.


Sebenarnya Dinda merasa tidak rela karena Yoga ingin ikut berangkat dengannya, yang mana Ratu juga akan bersama dengan mereka untuk pergi ke sana.


"Kenapa nggak berangkat sendiri aja coba?" Gumam Dinda kesal apalagi jika dia membayangkan Ratu yang akan menempel dengan Yoga. Semoga saja tidak ada satu orang lagi yang berada dekat-dekat dengan suaminya itu. Siapa lagi jika bukan Maya.


[Yoga juga mau berangkat? Asik dong!] Balasan pesan dari Ratu. Sudah bisa Dinda bayangkan jika wanita itu sedang meloncat-loncat kegirangan di sana.


Dinda mengetuk pintu kamar mandi saat Yoga sedang menyabuni tubuhnya.


"Gue tungguin di bawah ya!" teriak wanita itu yang dijawab oleh Yoga dengan teriakan juga. Dinda meninggalkan kamar untuk menunggu juga di lantai bawah. Duduk menunggu sambil menonton TV bersama dengan Mama Puspa.


"Loh, Din. Kok kamu nggak langsung berangkat?" tanya Puspa melihat Dinda yang duduk di sampingnya.


"Nunggu Yoga, Ma."


"Dia mau ikut juga?" tanya Puspa, Dinda menganggukkan kepalanya.


"Iya, tadi katanya mau ikut ke sana."


Seperti yang dikatakan oleh Yoga tadi, dia hanya mandi dengan waktu yang singkat. Yoga sudah tampak segar setelah tubuhnya diguyur dengan air dingin. Aroma sabun menguar dari tubuhnya yang tinggi kekar.


"Ye, itu anak. Kenapa baju gue nggak disiapin juga?" gumam Yoga sedikit kesal, seharusnya agar lebih cepat berangkat, Dinda menyiapkan pakaiannya juga, tapi ya sudahlah. Lagi pula hanya sekedar pergi ke pesta perayaan ulang tahun saja.


"Kenapa juga harus ulang tahun?" tanya Yoga. "Seperti anak kecil saja," tambahnya dengan gumaman yang pelan.


Yoga kemudian pergi ke lemari dan membuka pintu lemarinya. Tampak di dalam sana ada pakaian miliknya dan juga milik Dinda yang sudah dipindahkan oleh Mama dan juga mertuanya.

__ADS_1


Yoga sudah terbiasa saat melihat benda-benda milik Dinda ada di sana. Dia melirik laci dengan kunci yang menggantung. Di sana adalah tempat und*rwear milik Dinda, sengaja Yoga memberikan laci itu untuk menyimpan benda-benda pribadi milik sang istri. Rasanya sedikit mengganggu saat pertama kali dia membuka lemari dan melihat kacamata besar dan juga segitiga bermuda ada di sana, membuat pikirannya menjadi pening saja. Cukup saat dia tidur bersisian dengan Dinda jangan ditambah dengan yang lainnya.


Yoga telah siap dengan kemeja berwarna biru muda, warnanya senada dengan gaun yang dipakai oleh Dinda.


"Eh kamu sudah siap. Wah, kalian pasangan yang sangat serasi sekali. Sudah cepat pergi sana keburu malam."


Dinda mengalihkan tatapannya dari tv ke arah Yoga berada, laki-laki itu memakai kemeja berwarna senada dengannya, padahal mereka tidak janjian sama sekali.


"Ish, apa dia ikutin aku?" gumam Dinda sebal. Bisa saja kan teman-temannya akan memikirkan hal yang tidak-tidak nantinya?


"Iya, dong. Yuk, Sayang. Kita pergi. Kita party!" ujar Yoga sambil bergerak ala-ala menari. Puspa tertawa melihat kelakuan sang anak, tapi tidak dengan Dinda yang melihat Yoga bak cacing kepanasan.


"Hati-hati kalian, jangan pulang terlalu malam Jam sepuluh harus udah ada di rumah loh ya. Kecuali sih kalian mau nginep di hotel, mencetak generasi muda ya nggak apa-apa pulang besok juga," ucap Puspa yang membuat wajah kedua orang itu menjadi merah.


"Ish, Mama apaan juga? Ngapain ke hotel kalau di rumah aja bisa?" ujar Yoga sambil tersenyum kecil.


"Ya kali aja kan pengen suasana yang baru. Mama nggak apa-apa kok, kalau kalian mau bermalam di sana. Kali aja kalian nggak bebas karena ada Mama dan Papa," ujar Puspa sambil tertawa kecil.


"Udah ah, nggak usah lama-lama di sini. Bikin keki aja si Mama," ujar Yoga kemudian menarik tangan Dinda untuk pergi dari sana.


Dinda hanya menurut saja, mengikuti Yoga keluar dari rumah tersebut. Makin lama, Mama Puspa memang makin berani saja menggodanya seperti itu.


"Kita jemput Ratu dulu?" tanya Yoga.


"Iya, kita jemput dulu, soalnya tadi gue udah bilang kalau mau ke sana terus perginya bareng sama dia."


"Kok repot banget sih kamu yang ke sana. Bukannya jemput ke sini?" tanya Yoga kemudian menyalakan mobilnya.


"Ya kan sengaja. Kalau dia yang gue suruh ke sini nanti keterusan lagi dia pengen datang dan lihatin elo!" ujar Dinda lagi-lagi tidak bisa menahan kekesalnya mengingat itu.


"Cieee, mencium bau-bau cemburu ini," ujar Yoga sambil menjawil dagu Dinda.


"Nggak ya, nggak cemburu gue. Cuma nggak suka aja tuh si ratu makin centil." Dinda menepis tangan Yoga darinya. "Cewek kok centil kayak gitu, kan nggak baik!" kilahnya. Yoga tertawa terbahak mendengar alasan yang diberikan Dinda.


Sementara itu Dinda tidak berani menatap Yoga.


"Ya udah. Gue janji akan jaga jarak dari dia. Demi elo apa sih yang nggak," ucap Yoga kemudian menjalankan mobil itu dan pergi dari rumah.


Yoga memang lelah hari ini. Banyak pekerjaan yang dia lakukan, terutama karena suruhan seniornya yang membuatnya membersihkan toilet di dua lantai, belum lagi mengangkat beberapa galon dari lantai dasar. Andai mereka tahu siapa Yoga sebelumnya, pasti mereka tidak akan berani untuk berbuat yang lebih jauh lagi dari pada itu. Sialnya, sang papa tidak mau membantunya sama sekali melihat dia yang dibully oleh seniornya itu. Menyebalkan!


Yoga hanya bertekad, untuk bekerja dengan baik tanpa yang lain tahu siapa dirinya. Toh lama kelamaan juga mereka akan tahu siapa jati dirinya.


Bukan hanya ingin berpesta saja Yoga meminta ikut ke tempat Galih, tapi ada sesuatu yang membuat Yoga harus ikut. Memastikan keselamatan Dinda.

__ADS_1


Gue nggak akan biarin elo dideketin yang lain, Din!


__ADS_2