Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
28. Maya, Teman Masa SMA


__ADS_3

"Eh, cewek? Cewek siapa?" tanya Yoga yang bingung akan perkataan Dinda.


"Cewek seksi yang punya body lurus kayak penggaris. Ya mana gue tau itu cewek siapa! Elo yang dia cubit sambil haha hihi!" ujar Dinda marah.


Yoga mencoba untuk mengingatnya, kemudian dia paham dengan maksud tujuan Dinda tadi. "Oh, Maya? Itu temen SMA kita. Kamu nggak kenalin dia kah?" tanya Yoga sambil duduk di samping Dinda.


"Maya siapa? Temen SMA yang mana?" tanya Dinda. Dia merasa bingung dan tidak tau siapa Maya, tapi tetap saja perlakuan Yoga kepada wanita itu terlalu berlebihan menurutnya.


"Hiss, penyakit lupa kambuh lagi ya? Maya, cewek yang dulu jago main bulutangkis," ujar Yoga mencoba mengingatkan Dinda.


"Nggak tau, lupa gue! Nggak peduli, gue marah! Elo aja sama cewek lain, padahal elo kan yang bilang sendiri kalau kita nggak boleh—"


Yoga membekap mulut Dinda, melirik ke arah pintu. Bisa jadi mereka sedang diawasi atau mungkin saja Irma bisa mendengar ucapan putrinya.


"Shhhttt, kamu mau bilang apa heh? Jangan bahas soal itu. Nanti ada yang denger bisa gawat!” seru Yoga.


Dinda melepaskan tangan Yoga dan menatapnya kesal. “Nggak apa-apa kalau ada yang denger, habisnya elo sih katanya kita nggak boleh deket sama yang lain, tuh elo sendiri yang kayak gitu!” ujar Dinda sebal.


“Ya elah, Din. Dia nyapa masa iya aku cuekin? Lagian nih ya, dia itu baru pindah ke kampus kita, kebetulan aja dia lihat aku di parkiran,” terang Yoga.


“Alesan! Heh, emangnya kamu nggak tau kalau si Maya dulu naruh hati sama elo? Cewek gatel gitu nggak usah deh deket-deket sama dia!” ujar Dinda.


Yoga melirik Dinda dan tersenyum simpul. Lucu menurutnya melihat Dinda yang seperti itu.


“Kenapa lo?” tanya Dinda semakin sebal karena yang dia marahi malah mesam mesem saja.


“Nggak ada. Elo tuh kayak gini apa lagi cemburu, ha?”


Dinda yang mau berbicara mengatupkan mulutnya dan melotot tajam kepada Yoga.


“Nggak. Nggak mungkin gue cemburu. Kan elo sendiri yang bilang sama gue kalau kita nggak bisa deket yang lain selama tiga bulan ini! Elo juga ingat itu, kan?” ujar Dinda.


“Ingat.”


“Terus? Elo mau hubungan kita ini ketahuan sama yang lain?”


“Ya, nggak. Tapi, kalau memang mereka tau nggak apa-apa juga sih.” Yoga meringis memperlihatkan giginya yang tampak rapi. Dinda menjadi kesal dengan ucapan sahabatnya itu. Tidak ada yang boleh tahu akan hubungan mereka saat ini, karena Dinda belum siap sama sekali.


“Memangnya elo nggak mau orang lain tau? Apa karena si Galih itu ya?” ujar Yoga.

__ADS_1


“Nggak juga. Gue lagi nggak pengen aja sekampus heboh karena ini. Mereka kan taunya kita itu sahabatan. Lagian elo juga kenapa sih kayak ngarep hubungan kita orang pada tau. Kan elo juga—“


“Yoga! Mama Puspa datang tuh cari kamu!” teriak Mama Irma yang ada di lantai bawah.


Dinda ingin bertanya, tapi panggilan Irma sekali lagi membuat Yoga pergi dari sana.


“Pulang ke rumah ya nanti, atau mau di sini juga nggak apa-apa sih. Sekali-kali nginep di rumah sini,” ucap Yoga kemudian pergi tanpa menutup pintu kamarnya.


“Ish, apaan juga. Tinggal ngelangkah aja ke sana doang!” gumam Dinda.


*


“Ish, apaan juga. Tinggal ngelangkah aja ke sana doang!” gumam Dinda sambil meneruskan berbaring di atas kasurnya. Dinda menonton film drakor hingga akhirnya dia tertidur sendiri.


*


“Din, hei. Bangun.”


Dinda membuka mata, tampak seseorang mengguncang bahunya beberapa kali. “Hei, bangun. Malam malam dulu, elo belum makan malam.”


“Eh, Ga? Ngapain elo di sini?” tanya Dinda bingung, malas sekali dia bangun, tapi tetap saja dia duduk sambil menguap lebar.


“Nggak lupa, tapi tumben aja elo di sini. Kenapa juga mau nginep? Elo bukannya tidur di rumah sebelah aja,” gumam Dinda.


“Sesekali kan boleh dong nginep di rumah mertua? Bangun sini, makan dulu. Elo dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun. Kebo amat ya istri gue. Kalau ada gempa bumi gue nggak tau deh mesti gimana.”


“Ish, gue capek, ngantuk berat. Nggak mau makan deh, Ga. Besok aja, mau diet,” ujar Dinda kemudian berencana untuk berbaring lagi, tapi sebelum kepalanya menyentuh bantal, Yoga sudah menarik tangan Dinda dan menyuruhnya untuk duduk dan makan malam.


“Eh, jangan tidur lagi lah, makan dulu baru tidur, gue nggak mau ya lambung elo kumat lagi gara-gara elo nggak makan malam. Sini gue suapi, buka mulutnya.”


Yoga mendekatkan sendok dengan isian nasi dan sayur itu ke depan mulut Dinda yang kemudian mengunyahnya dengan malas.


“Ga,” panggil Dinda.


“Hem?”


“Setelah kita pisah nanti, elo mau deketin gebetan elo lagi? Si Tiara?” tanya Dinda.


“Nggak tau. Mungkin aja. Elo?” Yoga balik bertanya.

__ADS_1


“Nggak tau juga, mungkin gue pengen lanjutin jenjang S2 sih di Surabaya. Nggak bisa kayaknya pacaran tapi nantinya kita LDR-an,” ujar Dinda.


“Owh.”


“Elo kenapa nggak tau? Apa udah nggak suka lagi sama Tiara?”


“Bukan gitu, tapi untuk sekarang gue pengen fokus dulu sama kesehatan Mama dulu. Kayaknya sih untuk pacaran nggak tau juga.”


Satu piring nasi telah habis Dinda makan, Yoga memberikan minuman kepada Dinda.


“Alhamdulillah, kenyang gue. Elo tuh baik banget ya, kalau punya istri beruntung banget dia punya suami pengertian kayak elo.” Dinda menepuk pundak Yoga dua kali.


“Iya lah, dia bakalan beruntung banget. Dan sekarang kan elo yang beruntung punya suami kayak gue.” Yoga tersenyum kecil, kemudian membawa piring dan nampan itu ke dapur.


Dinda kembali menonton drakor, Yoga belum kembali ke dalam kamar. Serasa ada yang kurang, Dinda mencari cemilan yang biasanya ada di dalam laci nakas di samping tempat tidurnya.


“Eh, nggak ada cemilan. Kalau nonton nggak sambil nyemil kan masih kurang."


Dinda turun dari ranjang dan menuju ke dapur. Tampak Yoga sedang duduk dan makan dengan lahap sambil menonton film yang bertemakan peperangan.


“Loh, Ga. Elo belum makan apa makan lagi?” tanya Dinda heran melewati suaminya untuk mencari makanan.


Dari ruangan menonton, Irma dan Wildan melihat sang putri dan mendengar pertanyaan itu.


“Dinda, yang sopan kalau sama suami! Yoga itu belum makan, Din. Tadi dia nunggu kamu turun, tapi kamunya nggak turun-turun. Suruh makan duluan nggak mau, malah bawa makanan ke atas,” seru Mama Irma yang membuat Dinda menjadi tidak enak hati, sementara itu Yoga hanya tersenyum tampak tidak keberatan dengan hal itu, dia melanjutkan makannya sambil menonton filmnya.


Dinda tidak enak hati mendengar penjelasan dari sang ibu. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk bersama dengan Yoga.


“Kok malah elo yang belum makan?”


“Nggak apa-apa, gue tadi memang belum terlalu lapar kok.”


Yoga menginap di kamar Dinda malam ini, mereka tidur di satu ranjang yang sama karena di dalam kamar itu tidak ada sofa seperti di kamarnya. Tak lupa dengan bantal guling yang menjadi pemisah di antara mereka berdua.


Dinda sudah terlelap sedari tadi, saking lelahnya dan masih dalam mode mengantuk, dia sudah tidak peduli lagi dengan siapa yang ada di sampingnya. Toh, hanya Yoga.


Yoga masih sibuk dengan kegiatannya di hp. Dia melirik ke arah Dinda tidur, posisinya seperti anak TK. Kedua tangan di atas dan sebelah kakinya tertekuk, selimut hanya menutupi sedikit tubuhnya saja.


Yoga menggelengkan kepala, mengambil selimut itu dan menutupi tubuh Dinda hingga ke dada.

__ADS_1


__ADS_2