Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
33. Pertanyaan Puspa


__ADS_3

"Oh, iya juga sih. Ya udah, yang penting elo ati-ati aja di sana. Ntar kapan-kapan gue antar makanan, sekalian ngecek kalau-kalau elo main mata di sana."


Yoga melirik dengan mata yang menyipit, juga dengan senyum yang lebar ke samping, mendekati Dinda dan bertanya, "Elo cemburu ya?" Tunjuk laki-laki itu tepat di depan hidung Dinda.


Dinda seketika menjadi malu, wajahnya berubah merah. "Ish, siapa lagi yang cemburu? Nggak ya! Gue cuma ... cuma. Terserah juga sih kalau elo mau deket sama yang lain juga. Nggak apa-apa gue. Ya, elo harus hati-hati aja di sana. Jangan sampai ada yang mainin elo, terutama kan ... anu. Emh, biasanya kalau di perusahaan, karyawan itu suka genit-genit apalagi lihat ada laki-laki musa di sana," ucap Dinda berbicara ke sana kemari untuk menutupi rasa canggungnya.


Yoga tetap melirik Dinda, masih memberikan senyumannya yang seperti tadi.


"Yakin kalau elo nggak cemburu?" tanya Yoga. Andai Dinda berbicara jika dia cemburu, dia pasti akan senang sekali.


"Nggak! Siapa juga yang cemburu? Nggak ya!" Dinda mengelak, tapi justru Yoga melihat Dinda sangat imut jika seperti itu sehingga Yoga mencubit pipi Dinda dengan gemas sedikit keras bak mencubit pipi chubby seorang anak kecil.


“Ih, gemes banget, sih. Kalau aja boleh aku gigit, mau deh. Aku gigit sampai nggak tersisa,” ucap Yoga.


Mata Dinda menyipit, Yoga memang tidak pernah berubah terhadap dirinya, semenjak dulu dia paling senang jika diperhatikan seperti itu olehnya.


“Ga, please deh, tolong lepasin pipi gue, bisa melar kalau terus elo cubit kayak gitu. Elo juga kan harus cepet pergi kerja, nanti bisa kesiangan!” Dinda mendorong dada Yoga dan langsung pergi dari kamar itu.


Entah kenapa dekat dengan Yoga membuat Dinda jadi malu dan salah tingkah sendiri. Padahal selama ini dia selalu cuek terhadap laki-laki itu.


Yoga turun ke lantai bawah, dia menemukan Dinda ada di dapur saat dia ingin minum air putih. Dinda sedang menyiapkan nasi ke dalam wadah bekal.


“Ini buat elo,” ucap Dinda menggeserkan wadah bekal itu untuk Yoga, semua nasi dan juga lauknya telah dia masukkan di dalam sana. Hal ini baru pertama kalinya dia lakukan karena sebelumnya Yoga selalu melakukannya sendiri. Meski di perusahaan juga ada kantin, tapi Yoga diperlakukan yang sama di sana. Bahkan tidak banyak orang yang tahu jika dia adalah putra pertama dan satu-satunya pemilik perusahaan tersebut, yang mereka tahu Yoga adalah sosok pemuda tangguh dan rajin, serta tidak pernah mengeluh. Mereka hanya tahu dan menebak jika Yoga tengah membutuhkan biaya untuk kuliahnya sehingga dia memutuskan untuk bekerja part time menjadi cleaning servis di sana.


“Eh, ini buat gue?” tanya Yoga dengan tidak percaya.


"Iya, ini buat elo, udah gue siapin karena takut elo nggak keburu. Ini udah siang soalnya,” ucap Dinda tanpa mau menoleh kepada sahabatnya itu.


“Iya, makasih banyak dengan bekalnya. Gue pasti akan makan ini, bakalan gue habisin sampai bersih,” ucap Yoga sambil mengangkat kotak bekal itu di depan wajahnya sambil tersenyum manis.


Deg.

__ADS_1


Andai mungkin itu adalah bunyi jantung, Dinda sudah mengira jika jantungnya kini sudah berhenti berdetak.


“Hei, Din. Kok elo ngelamun. Gue bilang gue pamit pergi ya, elo di rumah jangan lupa kalau lipat baju sekalian punya gue,” ujar Yoga membuat Dinda terkejut dan bangun dari lamunan. Rupanya Dinda masih bisa sempat-sempatnya melamun di saat yang seperti ini.


“Eh, iya. Elo mau pergi? Hati-hati deh,” ucap Dinda sambil tersenyum kaku dan melambaikan tangannya.


“Ish, anterin gue sampai ke depan. Biar kelihatan sweet gitu dong!” ujar Yoga sambil mencebik kesal. Dia melirik sang mama yang ada di ruangan lain sedang menonton TV. “Ayo anterin gue, biar Mama seneng,” bisik Yoga. Dinda tersadar dan segera menggamit tangan Yoga dengan reflek. Tiba-tiba saja dia melakukan itu, padahal biasanya juga tidak sampai menggandeng lengannya.


Sadar jika apa yang dia lakukan jika berlebihan, Dinda ingin melepaskan tangannya, tapi kini malah Yoga yang melingkarkan tangannya di bahu Dinda dan segera membawa sang istri hingga ke pintu depan.


“Kamu mau berangkat sekarang, Ga?” tanya Mama Puspa yang melihat sang putra melewati sofa yang dia gunakan untuk berbaring.


“Iya, Ma. Aku mau pergi kerja. Pamit ya.” Yoga mencium punggung sang ibu dengan khidmat.


“Iya, yang rajin kamu di sana biar cepet naik pangkat. Mama doain anak Mama ini cepet sukses.” Puspa mendoakan sambil mengusap lengan putranya.


Yoga menatap sang ibu malas. “Sukses untuk cleaning servis itu yang gimana, sih? Coba bilang sama aku kalau anak OB naik pangkat tuh yang gimana?” tanya Yoga sedikit bingung sekaligus ingin tahu isi pikiran dari sang ibu.


“Ma, please deh, korban sinetron! Mana ada di dunia nyata begituan? Seratus juta banding satu. Kalau gitu bilang sama Papa tinggalin dompetnya di rumah biar aku anter ke perusahaan, jadi aku bisa naik pangkat semudah itu,” ucap Yoga sambil menggelengkan kepala. Andai tatanan kerja dunia bisa sesimpel itu.


“Kalau itu namanya curang. Paling nggak kan kamu bisa dapat bonus tips yang lumayan,” ujar Puspa.


Yoga tidak mau mendengarnya lagi, dia tidak mau terlambat untuk mendengarkan ceramah ala-ala sinetron dari ibunya, sehingga dia menarik tangan Dinda untuk pergi menjauh dari sana.


“Ayo, Sayang. Lebih baik kamu antarkan aku ke depan,” ucap Yoga sambil tersenyum. Dinda tidak menolak, dia ikut bersama dengan Yoga hingga ke pintu depan.


“Iya, Sayang. Aku akan hati-hati kok di sana. Aku nggak akan main mata sama yang lain. Cuma kamu My Honey-ku. Cuma kamu kesayanganku. Istriku yang paling cantik dan gemesin!” teriak Yoga demi untuk terdengar romantis di telinga sang ibu. Sementara itu, Dinda terpaku mendengar teriakan Yoga dan akhirnya seperti biasa tersenyum kaku hingga giginya terasa kering.


“Aku berangkat, ya. Makasih makanannya, jangan lupa tolong lipat baju aku juga ya, sekalian.”


“I-iya.” Dinda sedikit gelagapan, menjawab sebisanya. Masih untung suaranya keluar, kalau tidak dia bisa malu dengan Yoga.

__ADS_1


“Ya sudah, Istriku. Aku pamit dulu, salim dong!” Yoga mengulurkan tangannya, Dinda menyambut tangan itu, tapi bukan sang istri yang mencium punggung tangan suaminya saat akan pergi bekerja, Yoga lah yang mencium dan menempelkan punggung tangan Dinda ke keningnya. “Aku berangka, ya. Assalamualaikum,” ucap Yoga sambil tersenyum.


“Wa-waalaikum salam,” jawab Dinda. Yoga berjalan menuju ke motornya berada dan segera melesat pergi dari sana.


Dinda terpaku dengan kepergian Yoga barusan, dia masih dalam suasana yang shock karena mendapati perlakuan Yoga yang seperti itu padanya. Biasanya Yoga hanya pamit dengan kata-kata, bukan dengan perbuatan.


Dinda kembali ke dalam rumah, saat dia akan menaiki tangga, Puspa memanggilnya dan menyuruhnya untuk duduk.


“Ada apa, Ma?” tanya Dinda pada Puspa.


“Nggak ada apa-apa, sih. Cuma Mama pengen ajak kamu nonton aja. Adasdatu film yang pengen Mama nonton, tapi nggak ada temen nonton nggak seru deh,” ucap Puspa. Dinda yang ingin rebahan terpaksa kali ini menurut saja, tidak enak rasanya jika menolak keinginan Mama Puspa.


“Nonton apa, Ma?” tanya Dinda penasaran.


“Ada, ini. Kamu mau kan Din nonton sama Mama?” tanya Puspa dengan senyuman yang bahagia.


“Iya.”


Puspa segera mengganti channel sehingga tersambung ke WiFi dan tak lama film yang Puspa ingin tonton tersedia di layar.


“Film apaan ini? 365?” tanya Dinda yang bingung dengan judul film tersebut yang hanya bertuliskan angka saja.


“Film mafia, Mama pengen banget nonton ini, rekomendasi dari teman rumpi,” ujar Puspa sambil tersenyum. “Sebenarnya Mama pengen nonton ini sejak lama, tapi nggak ada temen nonton tuh nggak seru rupanya. Kebetulan sekarang kan ada kamu, jadi kita bisa nonton film sama-sama,” ucap Mama Puspa sambil tersenyum senang.


Dinda menurut saja menonton film tersebut, mengisahkan tentang satu orang laki-laki yang mencari keberadaan seorang wanita yang telah menolongnya saat dia diberondong tembakan di masa lalu.


Di beberapa puluh menit selanjutnya, adegan sesuatu yang ada di dalam tanda kutip membuat Dinda panas dingin, meski tidak diperlihatkan sesuatu yang menusuk-nusuk dengan jelas, tapi gerakan dan d*sahannya membuat resah saja. Dinda merasa ini adalah tontonan orang dewasa untuk dua puluh tahun ke atas.


Ish, Mama apa-apaan juga nonton beginan? Bikin gatel geli aja deh, batin Dinda yang sudah tidak nyaman dengan sesuatu yang dia kira sudah basah di bawah sana.


“Buat referensi kalau kalian na-ni-nu. Eh, kamu sama Yoga sudah begituan, kan?” tanya Mama Puspa.

__ADS_1


__ADS_2