Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
7. Tinggal Berdua di Rumah Yogi


__ADS_3

Wildan tergelak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh putrinya. "Tentu aja nanti kamu akan tinggal sama suami kamu. Kalau Papa sih kamu mau di mana aja nggak masalah, mau tinggal di rumah kita bisa, atau mau tinggal di rumah Yogi juga bisa. Kan cuma terhalang pagar aja. Atau, kalian ada rencana tinggal di tempat lain? Papa akan atur rumah untuk kalian," ucap Wildan dengan senang, sementara sang istri memberikan tatapan tajam pada suaminya.


"Nggak, Mama nggak setuju Dinda tinggal jauh dari kita. Mama kan belum puas jadi ibu. Rasa-rasanya baru kemarin kamu Mama lahirkan, sekarang kamu sudah menikah aja." Irma menjadi sedih. Kesibukannya dengan pekerjaan membuat dia seringkali meninggalkan sang putri. Waktu tentu saja tidak bisa diputar kembali, maka dari itu dia sangat menyesal dan sebenarnya berat hati kemarin saat mengiyakan permintaan putrinya untuk menikah.


Mobil sudah sampai di rumah. Yogi juga memasukkan motornya ke garasi rumahnya.


"Gi. Malam ini kamu tidur di sini ya. Mama dan Papa akan ke luar kota, mungkin kalau nggak nanti malam, pulangnya bakalan besok," titah Wildan. Yogi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya, Pa."


Motor dimasukkan ke dalam garasi, berdampingan dengan mobil miliknya.


"Ma, aku nggak apa-apa di rumah sendirian," ucap Dinda membuat Irma yang memasukkan pakaian ke dalam tas menatapnya.


"Loh, kenapa? Kan kalian ini sudah menikah. Masa iya mau pisah rumah?" Irma terkekeh mendengar permintaan putrinya.


"Anu ... rasanya aku kok belum siap ya buat tinggal bareng," ucap Dinda. Takut tentu saja, meskipun dia dan Yogi sudah melakukan perjanjian, tapi tetap saja dia itu laki-laki yang sangat normal.


"Huss, jangan begitu. Kalau pun belum siap buat bikin anak, ya kamu tinggal bilang aja sama Yogi. Mama juga sama Papa kamu malam pertama nggak langsung olah raga malam. Paling enggak, dulu berapa hari ya, Pa?" tanya Irma pada sang suami yang sedang menyiapkan jaket.


"Semingguan ada," jawab Wildan.


Dinda tentu saja tertarik untuk mendengar cerita orang tuanya, tapi mereka menolak karena takut jika akan terlambat untuk pergi ke kota sebelah.


"Mama sih pengennya kamu cepat punya anak, biar Mama bisa gendong cucu. Tapi, itu terserah kamu juga sih kalau memang kamu mau tunda sampai setahun ke depan juga nggak apa-apa. Kamu juga kan masih kuliah," ujar Irma. Dinda mengangguk setuju.


"Iya, Ma. Lagian juga kami masih sama-sama kuliah. Yogi juga kan belum kerja. Mungkin kami akan tunda dulu sampai kami siap," ucap Dinda mengulangi kata-kata sang ibu. Senang rasanya karena tadi dia sempat mengira jika seperti Mama Puspa, mamanya juga akan menyuruhnya untuk memiliki momongan secepatnya.


"Kok Yogi nggak ke sini juga? Susulin gih. Atau, kamu mau ke rumah sana?" tanya Irma.


"Nggak, di sini aja deh. Rasanya aku nggak tau bisa tidur atau enggak di sana."

__ADS_1


"Ya sudah. Kamu susul Yogi. Biar dia tidur di sini."


"Iya."


Dinda pergi ke rumah Yogi dan mendapati pemuda itu tengah bermain game.


"Ya, ampun. Hei, mama sudah nunggu kamu. Kan tadi suruh datang ke rumah bukan?" ujar Dinda menatap Yogi yang tengah serius memainkan game di tangannya.


"Eh, ini aku lagi tanggung, Din."


"Ayo keluar. Sesudah mama dan papa pergi kamu bebas mau main game sepuasnya juga. Ayo!" Dinda menarik tangan Yogi. Mau tak mau pemuda itu terpaksa menghentikan permainannya.


"Bentar, di save dulu lah. Aku nggak mau ini hilang. Sudah bagus ini, jangan sampai kalah," ucap Yogi menarik tangannya dari Dinda.


Kesal dengan kelakuan sahabat sekaligus suaminya itu, Dinda pergi ke arah TV dan mencabut semua kabel yang terhubung pada PS.


"Eh, Din! Astaga! Apa yang elo lakuin? Ah. Jadi kalah gue!" ujar Yogi kesal.


"Eh, iya. Ish, elo tuh ya. Gue lagi main juga elo gangguin."


Mau tak mau Yogi mengenakan kaosnya dan pergi ke luar menemui Irma dan Wildan.


"Kalian lama banget di dalam, Mama sudah hampir telat ini."


Wildan mesam-mesem melihat Dinda yang kesal, sementara Yogi dengan raut wajah yang biasa saja.


"Yogi nih, Ma. Main game mulu!" cecar Dinda. Yogi melotot tajam.


"Hehe, maaf, Ma. Lupa. Mama sudah mau pergi sekarang?" tanya Yogi.


"Iya, kamu temenin Dinda ya. Terserah mau di rumah apa di rumah kamu. Pokoknya Dinda jangan ditingalin. Di rumah ada lauk pauk, kalian tinggal angetin aja makanannya. Kami pergi dulu ya!" seru Irma. Yogi menyalami kedua mertuanya.

__ADS_1


"Hati-hati di rumah, jangan kelayapan. Kalian sudah nikah, syukur-syukur kalau kalian main berdua aja di dalam kamar, biar Mama cepet dapat cucu. Haha!" Irma melenggang masuk ke dalam mobil, sementara Dinda yang mendengarnya menjadi malu.


Ish, Mama ini! Padahal tadi juga setuju buat menunda momongan. Omongannya nggak bisa dipegang! ujar batin Dinda.


Kami berangkat, ya. Ingat Gi, jangan sampai Dinda main ke luar sendirian ya." Tunjuk laki-laki itu pada sang menantu. Dinda mendelik sebal, sebenarnya dia memang ingin sekali menginap di rumah sahabatnya. Takut tinggal berdua dengan Yogi, tapi dia juga takut tinggal sendirian di rumahnya.


Mobil itu kemudian pergi meninggalkan halaman rumah. Yogi dan Dinda menunggu hingga kendaraan itu tak nampak lagi.


"Tuh, inget. Nggak boleh kelayapan!" ujar Yogi menunjuk hidung Dinda.


"Ish, padahal gue mau ke rumah Rahma. Anterin, ya! Please!" ucap Dinda mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Yogi yang sudah melajukan langkah kakinya berhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Nggak! Elo nggak denger, apa lupa? Belum juga lima menit tadi mama dan papa mertua ngomong, masa elo udah hilang ingatan!" ujar laki-laki itu kemudian menarik tangan Dinda untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Eh, gue mau dibawa kemana? Yogi!" teriak Dinda. Yogi terus menarik tangan Dinda dan masuk ke dalam sana kemudian melanjutkan kembali permainan game yang tadi sempat hilang.


"Udah, elo diam di sini. Jangan kelayapan ke luar rumah. Nanti kalau Mama Irma dan Papa Wildan tanya soal elo, gue mau jawab apa?" ujar Yogi tanpa mengalihkan tatapannya dari layar yang ada di depannya.


"Elo kan bisa jawab aja gue tidur di kamar. Nggak usah jujur juga, kali!" ujar wanita itu. Yogi mendelik menatap sang istri.


"Nggak! Elo mau ngajarin gue bohong? Tidack yeaa!" ujar laki-laki itu.


Dinda bisa apa jika Yogi tidak bisa diajak berbohong.


"Ya, udah. Gue mau pulang ke rumah aja." Dinda berdiri membuat Yogi mau tak mau mengalihkan tatapannya dari TV.


"Eh, mau kemana? Nanti kalau di sana ada apa-apa di rumah gue nggak mau ya lari ke sana. Gue capek!"


Mendengar itu Dinda kembali duduk di sofa, Yogi melirik sebentar dengan disertai senyuman di bibirnya. Puas karena Dinda tak jadi pergi dari sana.


"Ish, nyebelin!"

__ADS_1


__ADS_2