Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
43. Ciuman Pertama


__ADS_3

Tiba-tiba saja Yoga tertawa kecil mendengar Dinda yang berbicara seperti itu.


"Kamu kesal kenapa?" tanya Yoga merasa lucu melihat Dinda yang berbicara dengan menundukkan kepalanya seperti itu.


"Nggak tau. Udah, jangan tanya-tanya lagi! Ish elo nyebelin banget!" seru Dinda mendorong dada Yoga menjauh. Yoga tertawa keras dan terduduk di tepi ranjang. Sementara Dinda semakin menundukkan kepalanya.


"Din, sebenarnya kita ini kenapa? Apa mungkin kita ini sudah saling suka sedari dulu?" tanya Yoga tiba-tiba.


Dinda menatap sahabatnya itu. "Masa sih? Kayaknya nggak deh, mungkin karena kita udah terbiasa sama-sama."


"Jadi, kalau gue lagi sama cewek lain, hati elo panas nggak?" tanya Yoga.


Dinda terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Terus, sekarang kenapa? Kok bisa gitu? Elo kesel lihat gue sama yang lain."

__ADS_1


"Elo sendiri? Kenapa elo juga suka sama gue? Yakin kalau elo cinta?" tanya Dinda membalikkan ucapan Yoga.


Yoga mengangkat kedua bahunya membuat Dinda kecewa.


"Gue nggak paham, Din."


"Nggak paham gimana?"


"Ya, nggak tau aja. Apa ini memang cinta apa gimana. Meskipun gue yakin kalau apa yang gue rasain buat elo itu cinta, bukan hanya keegoisan semata," ujar Yoga.


"Mungkin nggak sih, Din?" tanya Yoga tiba-tiba.


"Heh? Apa?" Dinda melirik Yoga, merasakan canggung yang terjadi di antara mereka berdua.


"Mungkin nggak sih kalau kita memang saling suka dari dulu?" tanya Yoga lagi.

__ADS_1


"Nggak tau. Gue nggak tau. Udah, ah. Jangan tanya itu lagi. Gue bingung, Yoga!" seru Dinda kemudian berencana untuk pergi dari sana untuk mengambil air. Kerongkongannya kering dan sedikit tidak nyaman. Akan tetapi, belum dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja Yoga bangkit dan merengkuh pinggang Dinda dan mendekatkan wajahnya.


Dinda terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Yoga, karena jarak wajah mereka sangat dekat sekali sehingga lagi-lagi dia bisa merasakan hangat napas dari pria itu.


"E-elo mau apa?" tanya Dinda terbata karena terkejut.


"Mau buktiin kalau kita ada rasa. Boleh kan?" tanya Yoga. Akan tetapi, dia tidak mau menunggu jawaban Dinda yang sudah pasti akan menolaknya. Dia menarik tubuh Dinda semakin mendekat dan menahan tangannya di belakang kepala Dinda, menempelkan bibirnya di bibir istri yang tidak pernah dia sentuh lebih dari hanya sekedar pelukan.


"Yo--"


Dinda tidak bisa mengelak, Yoga memeluknya dengan erat dan dia tidak bisa bahkan untuk menggerakkan kepalanya ke samping atau mundur untuk menghindar laki-laki itu.


Hangat bibir Yoga terasa di sana, masih diam dan tidak ada kelanjutannya, sementara itu mata Yoga terpejam hingga Dinda ikut memejamkan matanya. Sesaat sesuatu basah dan menggelitik bibirnya, seakan mencoba untuk melesak dan memaksa sesuatu masuk ke dalam rongga mulutnya.


"Ah ...." Rasanya basah, sakit, saat Yoga menggigitnya sedikit. Tanpa sengaja Dinda membuka mulutnya atas apa yang dilakukan oleh sang sahabat yang sudah menjadi suaminya sejak hampir dua bulan yang lalu. Benda kenyal merangsek di celah bibir terbuka, ******* dan bergerak masuk semakin dalam dan membuat Dinda membulatkan matanya. Namun, sedetik kemudian dia memejamkan matanya lagi saat merasakan hangat dan nikmat dari permainan lidah Yoga.

__ADS_1


Perlahan, Dinda menikmati permainan itu, hingga desir darahnya menjadi lebih cepat, jantungnya berdetak semakin tak karuan. Pikiran Dinda jauh pergi entah kemana. Rasanya dia sedang berada di tempat yang tidak pernah dia datangi sebelumnya dengan banyak bunga mekar dan wangi aroma lembut di sekitarnya.


__ADS_2