Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
38. Ucapan Perhatian Dari Sahabat


__ADS_3

Dinda dan Yoga baru saja sampai ke rumah, langkah kakinya pelan saat masuk ke dalam karena mereka tidak ingin mengganggu penghuni rumah yang mungkin saja sudah tertidur.


"Pelan-pelan, Ga!" seru Dinda berbisik sambil menempelkan telunjuknya di depan mulut saat Yoga menutup pintu dan terdengar bunyi berderit.


"Iya, ini juga pelan. Telinga elo aja yang kayak kelinci, suara kecil juga."


Yoga menutup pintunya dengan sangat hati-hati, tidak lupa untuk menguncinya lagi.


Tampak layar tv masih menyala, menandakan jika masih ada orang di sana.


"Mama belum tidur," bisik Dinda lagi, melihat bagian belakang kepala yang dia yakini sebagai Puspa.


"Iya, tapi diam aja kayaknya tidur deh, tv-nya yang nyala."


Kedua orang itu berjalan berjinjit supaya tidak mengeluarkan suara berisik. Benar saja, saat mereka telah sampai di dekat Mama Puspa, teryata wanita yang belum genap usia lima puluh tahun itu sudah tertidur.


"Tuh, kan, Apa gue bilang, Mama udah tidur. Elo ke atas dulu deh, gue bangunin Mama. Kali aja Mama nunggu kita. Kasihan kalau tidur di sini terus."


Dinda menganggukkan kepalanya dan segera pergi ke lantai atas dengan menjinjing sepatunya di tangan.


"Ah, sakit banget kaki," ucap Dinda kemudian duduk di tepi ranjang. Kakinya memang lecet, ini pasti karena tadi dia yang berjalan lumayan jauh.


"Ada salep nggak ya?"


"Ingat dengan kotak P3K ada di dapur, Dinda kembali lagi ke lantai bawah. Dia melihat Yoga sedang mematikan TV dan membereskan bekas makanan yang ada di meja depan tv.


"Kamu ngapain?" tanya Yoga saat menemukan Dinda di dapur.


"Cari salep. Kayaknya kemarin lihat, tapi di mana ya?" gumam Dinda lebih kepada dirinya sendiri.


"Sale apaan?"


"Buat yang luka atau lecet."


"Oh, kayaknya yang ini bukan? Bentar."


Yoga mengeluarkan sesuatu yang ada di samping kulkas, dan benar saja jika itu yang sedang dicari oleh Dinda.


"Ini, bukan?" tanya Yoga.

__ADS_1


"Iya yang itu."


"Sebentar." Yoga membaca nama salep dan juga kegunaannya, tak lama dia mendekat dan bertanya kepada Dinda apa yang sakit.


"Kaki, kayaknya kena high heel tadi deh. Perih," ucap Dinda.


Yoga menuntun Dinda untuk duduk di kursi, dia menunduk, berlutut di depan Dinda dengan posisi satu kaki di depan tubuhnya seperti seseorang yang akan menyatakan cinta.


"Eh, elo ngapain?" tanya Dinda bingung menatap apa yang dilakukan oleh Yoga.


"Kaki elo sakit, kan? Apa bisa elo obatin kakinya sendiri?" tanya Yoga, lalu tanpa persetujuan dari Dinda dia membuka tutup salep tersebut dan mencari tahu di mana kakinya yang sakit, Yoga mengangkat kaki kanan Dinda, menempatkannya di lutut, kemudian mengoleskannya di belakang kaki Dinda yang lecet dan memerah. Dinda sampai meringis kesakitan merasakan perih di kakinya itu.


"Makanya, kalau nggak biasa pake heels nggak usah pake. Kan jadinya gini, lecet. Yang rasain sakit siapa? Elo, bukan gue."


Dinda hanya diam, dia memanyunkan bibirnya. Mana ada memakai gaun tanpa mengenakan heels?


"Memangnya ada yang pake gaun tapi pake sepatu biasa?" ucap Dinda.


"Dari pada kaki elo lecet kayak gini? Lagian juga ngapain elo harus susah payah pake apa yang nggak elo suka? Elo tuh kebiasaan, mikir lebih pengen nyenengin orang lain, kenapa nggak elo mikirin kenyamanan buat elo sendiri? Gue tau elo nggak suka tempat rame kayak gitu, tapi elo tetep datang ke tempat si Galih. Gue tau elo nggak suka pake heels, masih elo pake juga. Terus kalau suatu saat si Galih nyuruh elo buat minum bayklin, elo mau minum juga?" tanya Yoga.


Dinda sebal mendengar Yoga yang berbicara seperti itu. Seakan dirinya akan melakukan hal apa pun untuk seorang laki-laki dan tidak menyayangi nyawanya sendiri.


"Ya nggak lah, enak aja. Gue mungkin bucin, tapi gue nggak gila!" ujar Dinda. Yoga mengangkat wajahnya dan tersenyum mendengar ucapan gadis manis itu.


Ucapan Yoga membuat Dinda menjadi tenang kali ini.


"Sudah. Kaki elo yang satu sakit nggak?" tanya Yoga, masih dengan senyum manis di bibrnya.


"Sakit lah, kan belum diobati," ucap Dinda, kemudian menurunkan kakinya yang tadi dari atas lutut Yoga dan menaikkan kaki yang lain ke tempat yang tadi.


Yoga dengan telaten mengolesi kaki Dinda yang sakit, meski tidak separah yang tadi.


"Sudah. Kita tidur yuk." Yoga bangkit dari lantai dan menutup kembali salepnya dengan erat.


"Gendong gue."


"Cih, manja!"


"Kaki gue lagi sakit!" Dinda mengulurkan kerdua tangannya.

__ADS_1


"Kan udah gue obati!"


"Iya, tapi tadi kan elo yang bikin kakinya perih. Ayolah suamiku, masa kamu nggak mau gendong aku? Mager jalan nih."


Yoga menggelengkan kepalanya. Kelakuan Dinda menyebalkn, tapi anehnya dia tidak ingin memarahi atau mengomel seperti biasanya.


"Ya udah. Mau digendong?" tanya Yoga. Dinda tersenyum dan menganggukkan kepalanya senang.


"Mau, tapi nggak mau di belakang."


"Loh, terus di mana?"


"Depan lah!"


"Ish, kayak penganten baru aja." Namun, Yoga tetap menggendong Dinda di depan tubuhnya ala-ala pengantin baru.


Baru saja Yoga akan melangkahkan kakinya keluar dari area dapur, Dinda menyuruh Yoga untuk berhenti.


"Apaan? Elo berat. Pake berhentiin segala lagi?"


"Ke sana dulu. Gue ingat itu di sana ada cemilan. Mau buat nonton drakor," ucap Dinda sambil menunjuk lemari yang ada di depannya.


"Ish, bukannya tidur, malah mau nonton drakor. Apa bagusnya nonton drakor?"


"Apa bagusnya nonton anime?" Dinda bertanya balik.


"Bagus, karena tekhnik menggambarnya!" ujar Yoga.


Setelah selesai mengambil yang Dinda mau, Yoga membawa Dinda ke lantai atas dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin tersandung anak tangga dan membuat dirinya dan Nayla terguling ke bawah.


Sampai di kamar, Yoga merebahkan Dinda dengan sangat hati-hati di atas kasurnya, tapi tubuh Yoga hilang keseimbangan sehingga dia tidak bisa menahan dirinya dan terjatuh di atas tubuh sang istri.


Tatapan mereka seketika saling bertubrukan, saking terkejutnya sehingga keduanya kini hanya saling diam saling menatap satu sama lain.


Dag-dig-dug, dada yang berdebar di dalam dada sedikit membuat nyeri, tapi aneh. Geli, malu, tapi masih ingin bertatapan sebentar lagi.


*


*

__ADS_1


*


Hayooo, pasti mikir selanjutnya mau apaan ya?


__ADS_2