
"Ga, gue lapar," ucap Dinda setelah hampir satu jam lamanya dia hanya duduk di sana. "Ga!" panggil Dinda lagi. Akan tetapi, pemuda itu tidak juga menggubris panggilannya.
"Hei, Kampret! Gue ngomong sama elo, bukan sama patung!" ujar Dinda kesal. Yoga yang mendapat toyoran di kepalanya mengalihkan tatapan kesal pada Dinda.
"Apaan sih, lo? Nggak sopan banget deh. Apa? Kalau ada pengen apa-apa tuh ngomong. Jangan KDRT dong!" seru Yoga.
"Gue udah ngomong. Gue udah manggil. Elo-nya aja yang nggak denger. Ish, elo tuh nggak sayang gue," ucap Dinda merajuk. Yoga menyimpan stik game di tangannya dan berbalik menatap Dinda yang duduk bersandar di sofa di belakangnya.
"Apaan? Kapan elo ngomong?"
"Tadi, gue bilang kalau gue lapar. Beliin makanan, dong,"
"Di rumah elo bukannya ada makanan ya? Tadi Mama Irma bilang udah masak?" tanya Yoga.
"Ada sih, tapi gue malas makan nasi. Beliin martabak." Dinda memasang wajah manisnya sambil tersenyum lebar.
"Ya udah. Ayok! Gue juga pengen roti bakar. Duitnya mana?" tanya Yoga sambil menadahkan tangannya pada Dinda. Lirikan mata tajam Dinda berikan terhadap laki-laki itu.
"Ish, elo nih. Gue kan istri elo ya sekarang ini. Sudah sepantasnya elo yang belikan lah. Sebelum nikah aja elo suka jajanin gue, kenapa sekarang udah nikah elo minta duit sama gue? Dikasih nafkah aja enggak!" ujar Dinda kesal. Yoga tersenyum lebar, seperti Joker yang sedang tersenyum dengan tatapan jahatnya.
"Oh, elo mau nafkah dari gue? Boleh!" Yoga membuka kaosnya dengan cepat dan berbalik menatap Dinda. Mata Dinda melotot melihat apa yang dilakukan oleh Yoga.
"Eh, elo mau ngapain?" ujar Dinda takut.
"Katanya mau dikasih nafkah? Ayo. Gue akan kasih elo nafkah batin yang sangat berkesan!" ujar Yoga, dia tertawa di dalam hatinya karena melihat ekspresi Dinda yang ketakutan seperti itu.
"Elo mau gue kasih ini?" tanya Dinda mengangkat kepalan tangannya.
"Katanya tadi pengen dikasih nafkah?"
"Kalau yang itu nggak mau. Gue mau duitnya aja," ujar Dinda. Yoga memakai kembali pakaiannya, dia hanya ingin menakut-nakuti gadis itu saja.
"Ayo, pergi. Tapi kalau duitnya kurang tambahin ya?"
"Hem!" ujar Dinda malas. Sudah biasa untuk mereka seperti itu, tak heran karena keduanya sudah hidup saling berdampingan semenjak lama.
"Harus ya pake motor elo? Mau di mana nyimpen jajanan kita nanti?" tanya Dinda dengan sebal. Terbayang di dalam kepalanya, motor yang seperti ini tidak nyaman untuk bisa memborong semua jajanan yang akan mereka bawa.
__ADS_1
"Pake tas lah, nih. Elo yang pake," ucap Yoga sambil menyerahkan tas. Mau tak mau Dinda menerima tas itu, kemudian naik ke atas motor.
"Tau gini, mending delivery aja!" ujarnya. Yoga hanya tersenyum meringis mendengar ucapan kekesalan sang istri.
"Sudah siap, istriku? Let's go!" Yoga menyalakan motornya dan melajukannya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Angin malam membuat rambut Dinda melambai-lambai. Jalanan yang cukup sepi membuat Yoga dengan bebasnya membawa motornya dengan kecepatan yang tinggi. Dinda sudah biasa dengan apa yang Yoga lakukan, karena sudah lama dia pulang pergi ke kampus bersama dengan Yoga.
"Elo mau beli martabak di mana?" tanya Yoga berteriak melawan angin yang berembus kencang melewatinya.
"Terserah elo! Yang biasa juga boleh, yang jauh juga nggak masalah!" Dinda tak kalah berteriaknya.
Tak sampai dua puluh menit, akhirnya dua orang itu telah sampai di tempat yang biasanya. Dinda turun dengan perlahan, Yoga membukakan helm yang dipakai Dinda dan membawanya ke dalam tenda.
"Cuma ini aja?" tanya Yoga setelah apa yang dipesan sudah diserahkan.
"Ya nggak lah, gue mau cilok, gue mau cibay, pisang coklat, es boba. Oh, sama itu, tuh, kue cubit. Ya, ya. Please!" Dinda menggerakkan kelopak matanya dengan cepat sambil tersenyum, sementara Yoga hanya berdecak kesal.
"Emang bisa habiskan semua?"
"Ckckck, dasar elo tuh ya, mentang-mentang nggak ada mama bisa makan seenaknya. Elo kan nggak boleh minum es, ntar kalau pilek gue nggak mau tanggung jawab ya!" tunjuk Yoga di depan hidung Dinda.
"Iya. Beliin ya?" pinta Dinda sekali lagi. Yoga mengeluarkan dompetnya, uang yang ada di sana hanya tinggal dua puluh ribu lagi sementara apa yang akan mereka beli tidak akan cukup dengan uang yang ada.
"Ke ATM dulu. Duit gue nggak cukup."
Dinda melirik suaminya. "Ish, miskin amat lo. Masa nggak ada lagi duit di dompet?" Dengan sedikit memaksa Dinda mengintip ke dalam dompet milik Yoga.
"Kagak ada! Kan udah gue kasih buat mahar tadi pagi. Lupa lo?" tanya Yoga. Dina tersenyum saat mengingat itu.
"Iya, gue lupa. Ya udah, ayo ke ATM. Tarik duit yang banyak. Kali aja gue juga pengen beli yang lainnya, hehe." Yoga hanya bisa menggelengkan kepalanya saja mendengar ucapan dari Dinda.
"Bisa bangkrut gue kalau elo minta jajan mulu!"
Dua orang itu kemudian pergi ke tempat ATM terdekat.
Dinda menunggu di dekat motor, antrian orang-orang yang akan mengambil uang lumayan banyak, membuat wanita itu sedikit bosan. Dinda melihat ada seorang pedagang jasuke yang ada tak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Mas, beli lima rebu." Uang yang ada di saku bajunya dia keluarkan, tak sampai lima menit jasuke sudah di tangan dan dia nikmati selagi masih hangat.
Yoga sudah keluar dari dalam bilik ATM, dia merasa kesal karena orang yang ada di depannya sangat lama sekali dan melakukan transaksi berulang kali, padahal antrean yang ada di belakangnya masih lumayan banyak.
"Ish, elo tuh enak-enakan di sini. Gue lapar. Minta!" Yoga hendak meraih makanan dari tangan Dinda. Namun, Dinda menjauhkannya.
"Satu suapan pertama cilok lima rebu," ujar gadis itu, rasanya tak rela jika jasuke seenak ini berkurang. Yoga merasa kesal dengan penawaran istrinya.
"Iya, cilok lima rebu, lagian gue juga cuma pengen cobain doang, icip."
Tak rela, tapi Dinda memberikannya juga. Bagaimana pun juga Yoga yang akan membayarkan semua makanannya nanti, kan?
Yoga memasukkan jasuke yang ada di cup ke dalam mulutnya tanpa menggunakan sendok, sehingga semua yang ada di sana meluncur ke dalam mulutnya yang tadi dibuka dengan lebar.
"Nih, enak!" ucap pemuda itu sambil memberikan cup kosong kepada Dinda. Dinda yang sudah menerima miliknya melongo.
"Ih, Yoga! Habis ini!" teriak gadis itu tak terima. Dia memukul lengan Yoga dan hanya tawa saja tanggapan dari pemuda itu. "Ish, elo. Tega! Kan habis ini!" seru Dinda tak terima, sementara Yoga tertawa kemudian mengunyah makanan itu dengan cepat.
"Haha. Habis, ini enak!"
"Habis." Bibir Dinda mencebik menatap cup kosong di tangannya, sebal sekali dia karena makanan kesukaannya ini habis.
Melihat Dinda yang bak anak kecil seperti itu membuat Yoga menjadi gemas, ingin sekali mencubit bibir gadis itu.
"Ya, udah. Beli lagi yuk, tapi lima rebu aja. Jangan banyak-banyak, kan nanti kita juga beli cilok, boba, dan piscok," ucap Yoga yang membuat senyum Dinda merekah lagi.
"Elo yang beliin!"
"Iya."
Yoga pergi menuju penjual jasuke, tapi dia kembali lagi tanpa membawa apa-apa di tangannya.
"Mana?" tanya Dinda.
"Habis."
"Yaaaah!"
__ADS_1