
"Istriku aja cantik banget kayak gini masa iya aku mau dekat sama yang lain?" ujar Yoga melepaskan dagu Dinda dan merangkul gadis itu dengan erat. "Ya kan, Sayang. Kamu percaya kan sama aku?" tanya Yoga pada Dinda. Terpaksa, Dinda menganggukkan kepalanya dengan kaku.
"Iya, aku percaya kok. Percaya," ujar Dinda dengan terbata-bata.
"Awas kamu, kalau di kampus dia dekat dengan wanita lain kamu harus laporkan sama Mama, Dinda. Jangan diam aja!"
"Iya, Ma."
"Nggak kok, Ma. Aku akan setia sama Dinda, dan akan selalu nurut apa kata Dinda dan juga Mama."
"Awas kamu!" Sekali lagi Puspa mengancam dengan tunjuk lantang pada wajah Yoga dan kemudian pergi dari ruang tamu untuk menuju kamarnya kembali. Puspa memang sengaja masuk ke dalam kamar untuk menghindar dari Ratu karena dia tidak ingin anak itu berlama-lama di sini.
"Lepasin gue!" ucap Dinda mengedikkan bahunya.
"Apa sih, Sayang. Kok kamu gitu. Udah bagus kita romantis kayak gini." Juna menggoda Dinda dan kembali merangkul gadis itu dengan erat, mendekatkan tubuh mereka hingga punggung Dinda menempel pada dada bidang Yoga.
__ADS_1
"Ish, elo apa-apaan juga. Nggak ada romantis-romantisan. Nggak ada mama juga!" bisik Dinda dengan nada yang geram. Tidak ingin berlama-lama di sana, Dinda memilih bangkit untuk pulang ke rumah, tapi kemudian dia urung melangkah dan duduk sedikit jauh dengan Yoga.
"Kenapa?" tanya Yoga.
"Gue bingung. Sekarang ada Mama Puspa sama Papa Heru. Gue mau tinggal di mana? Nggak mungkin kan gue tidur di kamar tamu?" ujar Dinda tetap menjaga nada suaranya pelan agar tidak terdengar oleh yang lain.
"Ya, dengan senang hati gue mau berbagi kamar sama elo," ujar Yoga.
Dinda melirik pemuda itu dengan sebal. Ingin menolak, tapi bingung juga akan apa yang akan dikatakan oleh orang tua Yoga nanti. Akhirnya hanya helaan napas Dinda yang terdengar dengan cukup pelan.
"Hah, nasiiiib-nasiiiib. Gini amat ya?" gumam Yoga sambil mengiringi kepergian Dinda yang sedang menaiki tangga dengan pandangannya. "Ada dua wanita di rumah ini, makin teraniaya gue. Semuanya main ancam."
Yoga membereskan meja dan membawa cangkir serta cemilan ke dapur dan mencuci bekas cangkir yang dipakai tadi.
Dinda tengah berbaring nyaman di atas kasur sambil bermain game, sangat nyaman sehingga terkadang mengantuk, tapi sadar ini di kamar siapa membuat dia menjaga dirinya agar tidak tertidur.
__ADS_1
"Huh, kemarin masih bisa tidur di kamar tamu. Sekarang nggak bisa!" ujar Dinda kesal. Gumamannya itu terdengar dengan jelas saat Yoga masuk ke dalam kamar.
"Bisa, kalau Mama nggak marah sih oke-oke aja," ujar Yoga kemudian duduk di samping Dinda.
"Iya, kalau Mama marah terus nge-drop, emang elo mau disalahin?"
"Ya, nggak. Makanya, udah di sini aja kali. Lagian juga kalau pun kita tidur berdua, juga gue nggak akan sentuh elo. Yakin gue nggak napsu sentuh cewek barbar kayak elo."
Dinda melirik pemuda itu dengan kesal. Bisa-bisanya Yoga mengatakan tidak bernapsu dengannya.
"Enak aja, jadi elo bilang gue ini nggak menarik?" tanya Dinda.
"Yups. Tuh elo sadar."
Dinda bangkit duduk dan melemparkan bantal serta selimut ke arah sofa yang ada di kamar itu.
__ADS_1
"Elo tidur di sofa. Mulai hari ini, kasur ini milik gue!"