
"Elo kenapa kesel? Sama siapa?" tanya Yoga saat mereka sudah sampai di tempat tujuan. Yoga membawa Dinda ke sebuah tempat karaoke yang biasanya ia dan kawan-kawannya datangi di saat penat melanda. Bukan tempat karaoke yang aneh-aneh, tapi ini benar-benar tempat karaoke yang bisa menghalau dan mengusir rasa penat di dalam diri.
"Nggak apa-apa. Gue lagi kesal aja sama seseorang." Dinda tidak mau berbicara, banyak hal yang dia kesalkan, bukan hanya tentang Yoga dan Maya serta Ratu, tapi juga ada seseorang yang membuatnya seperti itu.
"Ya udah, kalau elo nggak mau bilang, mendingan kita nyanyi aja deh yang kenceng. Elo mau lagu apa?" tanya Yoga sambil memilih lagu yang akan mereka nyanyikan.
Rasa hati Dinda sedang tidak karuan sekarang, dia mengambil remot dan memilih lagu yang dia ingin nyanyikan.
"Elo yakin mau nyanyi ini?" tanya Yoga sambil menunjuk layar yang sudah mulai memutarkan sebuah lagu dari Judika.
"Iya. Gue lagi galau!" teriak Dinda dengan mic yang sudah dia dekatkan di bibirnya sehingga suaranya keluar dari salon yang ada di sana dan menggelegar. Yoga tidak bisa menghentikan Dinda, hanya menutup telinganya menghalau suara keras di ruangan itu.
Gue nggak tau dia lagi galau karena apa. Tapi biarin aja deh, gumam Yoga sambil menatap Dinda yang menghayati lagu itu.
🎵 Andai aku bisa memutar waktu 🎵
🎵 Aku tak ingin mengenalmu 🎵
Yoga tersenyum, mendengarkan suara Dinda yang mengalun indah mengikuti lirik lagu yang dituliskan di layar tersebut. Suara Dinda sangat merdu, tak kalah dengan penyanyi papan atas yang berdiri di panggung yang megah.
🎵 Bagaimana kalau aku tidak baik baik saja 🎵
🎵 Trus mengingatmu memikirkanmu🎵
🎵Semua tentang dirimu🎵
__ADS_1
Begitu dalamnya menghayati lagu tersebut, sehingga Yoga terhanyut dalam suasana, diam dan mendengarkan dengan seksama. Melirik Dinda yang menutup matanya, dari raut wajah itu, seakan ada sebuah rasa sakit yang tidak bisa digambarkan Dinda dengan kata-katanya.
Siapa yang udah bikin elo segalau ini? batin Yoga tiba-tiba kesal. Dinda, meskipun sahabatnya, tapi dia cukup tertutup jika berhubungan dengan laki-laki. Mungkin karena di masa lalu dia pernah tersakiti dan Yoga tidak tahan untuk menghajar pemuda itu hingga babak belur, sehingga semenjak itu Dinda tidak pernah lagi bercerita kepada Yoga soal siapa yang sedang dekat dengannya atau siapa yang dia sukai. Yoga hanya menebak dari seringnya Dinda berinteraksi dengan pemuda lain.
🎵 Mungkin kini kau bersama yang lain 🎵
🎵 Walau hatimu untukku 🎵
🎵 Adakah kesempatan untuk cintaku 🎵
🎵 Bahagia walau kita berbeda 🎵
Yoga mendengarkan sampai lagu itu selesai dinyanyikan. Saat bait terakhir, Dinda sempat mengusap air mata yang merembes keluar dari mata cantiknya.
"Cerita apa?" tanya Dinda pura-pura tidak tahu.
"Ya, apa aja. Elo boleh cerita kok, dan gue nggak akan bikin orangnya babak belur lagi. Janji," ucap Yoga sambil membuat huruf V dengan tangannya.
Dinda tertawa keras, menutupi perasaannya yang memang sedang galau.
"Nggak ah, lagian juga ini bukan apa-apa. Sayang banget kalau kita udah bayar mahal di sini, tapi nggak dipake nyanyi. Mendingan kita nyanyi sampai waktunya habis. Kali aja malah ditambah lagi waktunya jadi dua jam lagi, hehe," ucap Dinda menolak usulan Yoga dan mencari lagu yang lain. "Lagu ini mau nggak?" tanya Dinda memperlihatkan deretan lagu dari musisi kawakan yang lain. Lagu yang dibawakan Slank.
"Boleh, terserah elu deh, yang penting kita happy!" ujar Yoga.
Akhirnya kedua orang itu menikmati waktu mereka dengan bernyanyi, berteriak, berjingkrak-jingkrak di atas sofa dan berjoget tak karuan bak orang stress. Tidak perlu canggung karena dua orang itu sudah biasa dengan hal gila seperti ini.
__ADS_1
Dua jam berlalu, Yoga dan Dinda keluar dari tempat karaoke dengan peluh bercucuran, menyanyi dan menari ternyata membuat tubuhnya lelah juga.
"Ah, pinggang gue. Kayanya rontok deh," ucap Dinda sambil memegangi belakang tubuhnya. Mereka berdua berjalan menuju ke tempat parkiran tempat karaoke tersebut.
"Ah, elu. Masa segitu aja dah payah?" ujar Yoga.
"Beneran, Ga. Pinggang gue sakit. Ini terlalu lincah tadi kayaknya."
"Makanya, olah raga dong. Nanti hari Minggu kita olah raga di Senayan ya?" tanya dan juga ajakan Yoga.
"Ih, nggak mau gue. Mendingan rebahan manja di kasur sambil nonton drakor," ucap Dinda sambil mengambil helm-nya dan menaiki motor Yoga.
...***...
Yoga telah selesai mandi, dia berpamitan kepada ibu dan juga Dinda untuk pergi bekerja. Yoga telah siap dengan seragam navy dengan tag namanya di sana.
"Elo yakin mau kerja jadi OB, Ga?" tanya Dinda saat Yoga telah selesai berpakaian.
"Ya mau gimana lagi, Din? Posisi manager juga nggak akan mungkin kalau gue langsung loncat. Nggak adil dong buat yang lain yang udah capek-capek berusaha nempatin posisi itu," ucap Yoga sambil menyisir rambutnya ke belakang.
"Iya, tapi setidaknya kamu bisa kerja yang lebih baik kan sekarang ini?" tanya Dinda dengan nada protes.
Yoga menyimpan sisir tersebut dan membalikkan tubuhnya, menatap sang istri dengan senyuman kecil.
"Iya, ini memang sementara aja sih. Lain kali aku pasti akan kerja dengan serius, tapi kamu juga harus sabar dulu ya. Kita kan baru aja nikah, kita kan juga kuliah. Coba kamu pikir, siapa yang akan kasih kerjaan buat anak kuliah macam aku? Nggak ada yang mau, Din. Jadi, sementara aja nih sampai gue selama kuliah, gue bakalan ada di perusahaan Papa," ucap Yoga dan Dinda kini harus mengerti itu.
__ADS_1