Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
44


__ADS_3

Yoga melepaskan ciumannya dari Dinda, menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat lembut dan penuh arti. Semakin cantik saja wanita yang ada di hadapannya ini, seakan dia baru saja melihat Dinda yang lain yang sangat berbeda dari biasanya.


Mata Dinda yang tadinya terpejam kini dia buka, menatap laki-laki yang ada di depannya yang hanya berjarak satu jengkal saja, hangat napas Yoga masih terasa di kulit pipi Dinda. Lekat tatapan gadis itu seakan orang yang ada di depannya ini adalah orang yang berbeda. Masih tetap Yoga, tapi rasanya dia adalah Yoga yang lain yang telah membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram.


Napasnya terengah, padahal ciuman yang diberikan oleh Yoga barusan adalah ciuman yang lembut dan jauh dari kata menuntut. Namun, detak jantungnya yang berdebar dengan sangat kencang membuat Dinda sesak napas.


Rambut poni yang menutupi wajah Dinda dia singkirkan agar tidak mengganggu pemandangan indah di depannya. Yoga tersenyum dan menatap bibir manis nan hangat yang baru saja dia cecap rasa manisnya. Sementara itu, Dinda menundukkan wajahnya, malu dengan tatapan lembut nan menusuk yang membuat dadanya dag-dig-dug tidak karuan.


“Maaf.” Yoga mengusap lembut sudut bibir Dinda yang masih basah karena ulahnya.


Dinda hanya diam, menunduk malu dan menghindari tatapan dari Yoga yang baru saja menciumnya.


‘Apaan ini? Dada gue ....’ Gadis itu memegang dadanya sendiri, jelas terasa detaknya yang sekarang ini sedang tidak beraturan sama sekali. Rasanya ada yang melompat-lompat di dalam sana dan membuatnya merasakan hal yang aneh. Dinda, meskipun pernah beberapa kali berpacaran, tapi ini adalah pengalaman pertamanya berciuman dengan yang lain.


“Haha, kamu kenapa?” tanya Yoga pada wanita itu.


Gelengan kepala Dinda berikan untuk jawabannya.


“Nggak, aku nggak apa-apa. Cuma ....” Dia masih mengusap dadanya yang serasa sesak.


“Ada apa? Apa ada yang aneh di sana?” tanya Yoga iseng dan ingin tahu apa yang dirasakan oleh wanita itu.


“Rasanya aneh.”


“Aneh kenapa?”


“Nggak tau.”


Yoga juga merasakan hal yang sama, aneh memang dengan dirinya kini yang berhadapan dengan Dinda. Rasanya ingin sekali dia melompat kegirangan bak anak kecil yang mendapatkan permen lollipop, tapi bedanya ini seperti permen Yupi berbentuk bibir yang hangat dan manis, nyata bisa dia gigit dan l*mat serta tak akan pernah habis sampai kapanpun.


“Kamu tau nggak?”


“Apa?” Dinda menatap Yoga bingung dan menunggu ucapan selanjutnya dari laki-laki itu.

__ADS_1


“Ciuman ini adalah ciuman pertama gue.” Wajah Yoga memerah dan hal itu membuat Dinda menatapnya tidak percaya.


“Hah? Bohong!” ujar Dinda keras.


“Nggak, gue nggak bohong. Memang ini adalah ciuman pertama gue,” ujar laki-laki itu lagi.


“Nggak mungkin!”


“Serius.”


Ditatapnya Yoga yang tersenyum dengan pipi merona. Dinda tetap tidak percaya mengingat jika Yoga adalah pemuda dengan banyak pacar, hingga sampai saat ini saja wanita yang dekat dengannya lebih dari tiga dan itu tidak termasuk Ratu dan Maya.


“Elo bohong, Ga. Nggak mungkin kan? Secara elo banyak pacarnya!” tuduh Dinda.


Yoga menjadi kesal karena gadis itu tidak lantas percaya.


“Kalau elo nggak percaya ya udah. Nggak masalah. Gue bilang yang jujur kok. Gue emang pacaran sama beberapa cewek, tapi gue nggak pernah ciuman sama mereka. Ternyata ciuman itu emang enak ya. Bener apa yang dibilang sama si Rahmat, pantas kalau dia ketagihan,” ujar Yoga tersenyum malu.


Dinda mundur satu langkah dari pria itu, rasanya ada sebuah niatan tak baik darinya.


Dinda menundukkan kepala, dia tidak tahu apa yang saat ini sedang dialami olehnya. Akan tetapi, yang dia tahu dadanya kini berdebar dengan sangat kencang dan napasnya masih tidak beraturan.


Yoga menunggu ucapan pernyataan Dinda, jawaban dari wanita itu mungkin saja dia memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


“Dada gue nggak sehat. Kayaknya gue butuh dokter,” ujar Dinda.


Yoga terperangah mendengar ucapan dari gadis itu, apakah dia bodoh atau hanya berpura-pura karena teranjur malu? Tapi, jawaban itu bukan yang dia inginkan.


Dinda hendak pergi dari sana, tenggorokannya benar-benar kering sekarang ini dan juga dia merasa canggung dengan keadaan di antara mereka berdua.


Namun, lagi-lagi Yoga menarik tangan Dinda, tapi kali ini tidak merengkuhnya seperti tadi.


“Din, elo belum jawab pertanyaan gue.”

__ADS_1


“Pertanyaan apa?” tanya Dinda.


“Soal perasaan elo setelah kita ciuman tadi. Gimana?” tanya Yoga.


Lagi-lagi Dinda diam, apa yang dia rasakan hanya dadanya yang berdebar dan napasnya yang sesak. Hanya sekedar itu saja dan Dinda mengatakan hal tersebut kepada Yoga.


“Cuma itu aja?” tanyanya tidak percaya.


“Iya, cuma itu aja.”


Yoga menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali setelah kepergian Dinda dari hadapannya. Rasa-rasanya ada yang aneh di dalam keadaan mereka sekarang.


‘Kenapa nggak ada romatisnya sama sekali?’


Yoga berpikir jika seharusnya Dinda menatapnya lebih lekat lagi, tersenyum atau bahkan malu-malu kucing, atau apa lah itu. Apakah ada yang salah?


“Eh, kirain bakalan ada sesi kedua,” gumam Yoga terduduk dengan wajah bingungnya.


Sementara itu di dapur Dinda sedang minum air di gelas yang besar. Kerongkongannya sangat kering sekali dan dia merasa panas di sekujur tubuhnya karena apa yang Yoga lakukan tadi.


“Apa tadi? Yoga cium aku?” Dinda mengambil air lagi dari dispenser. Alih-alih untuk mengusap bibirnya yang basah, dia memilih untuk memegangnya dan memutar memori di kepalanya dari kejadian beberapa menit yang lalu.


Hangat, manis, juga dengan sensasi yang aneh. Padahal itu hanya ciuman, tapi dadanya terkontaminasi hal yang tidak baik sehingga terus berlompatan, desir darahnya cepat, dan dia tidak bisa menyingkirkan pikiran itu dari otaknya.


Dadanya masih berdebar kencang membuat lututnya lemas. Baru saja Dinda ingin duduk, seseorang mengagetkan Dinda yang masih memegang gelasnya.


“Kamu kenapa?” tanya Puspa yang ternyata baru saja pulang. Sontak pertanyaan itu membuat Dinda meloncat kaget.


“Mama? Eh, aku nggak apa-apa. Mama sudah pulang?” tanya Dinda kembali berdiri.


“Iya, Mama sudah pulang. Kamu kok merah gitu wajahnya? Kenapa? Kamu sakit?” tanya Puspa khawatir.


Dinda dengan cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Nggak kok, Ma. Nggak sakit.”


__ADS_2