Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
16. Hari Kepulangan


__ADS_3

Satu Minggu Mama Puspa ada di rumah sakit, akhirnya setelah dokter yakin jika keadaan Mama Puspa membaik, hari ini dokter mengizinkannya untuk pulang. Kali ini dengan catatan Mama Puspa agar menjaga kesehatannya dan rutin memeriksakan kesehatannya selama beberapa bulan ke depan.


"Din, Mama Mertua jadi pulang kan sekarang? Gue mau ikut ya, jemput pulang ke rumah," mohon Ratu saat ingat Yoga pernah mengatakan hari ini ibunya akan pulang, tepat saat itu Ratu ada di dekat Dinda.


"Em, jadi sih. Tapi elo kan katanya ada janji sama nyokap mau nyalon? Kemarin bilang gitu, kan?" tanya Dinda mengingatkan.


"Nggak jadi, gue udah bilang kok tadi pagi sama nyokap. Nggak jadi ikut nyalon."


"Loh, kenapa? Bukannya kalau udah nyalon wajah jadi fresh ya? Lebih glowing gitu kalau udah perawatan. Tuh, jerawat elo dah mau keluar," ujar Dinda sambil menekan dagu Ratu yang terdapat jerawat yang baru muncul dua hari yang lalu. Dia sengaja memprovokasi agar Ratu tidak jadi mengikuti mereka ke rumah sakit.


"Ya, emang bener sih. Tapi klau gue nggak jemput camer, nanti gimana dong? Pasti nyokapnya bakalan mikir kalau gue nggak perhatian," ujar Ratu bingung. Dia ingin ikut perawatan di salon langganan ibunya, tapi di sisi lain dia juga ingin ikut menjemput Mama Puspa sampai ke rumah.


"Mama Puspa orangnya nggak begitu kok. Dia nggak masalah kalau nggak dijemput juga. Orangnya baik banget. Tapi satu hal yang dia nggak suka ...." Dinda sengaja menggantung ucapannya sehingga Ratu menatapnya dan menunggu Dinda menyelesaikan kalimatnya.


"Mama Puspa nggak suka apa?" tanya wanita itu dengan penasaran.


"Dia nggak suka sama cewek yang mukanya jerawatan atau banyak flek hitam. Coba lihat deh wajah Mama Puspa kan bersih nggak ada jerawat sama sekali bahkan flek hitam juga nggak ada, kamu ingat di wajahnya ada keriput?" tanya Dinda kepada Ratu dan gadis itu menggelengkan kepalanya. Memang kemarin saat bertemu di rumah sakit dia kagum kepada Mama Puspa karena tidak tampak seperti wanita berusia lima puluh tahun.


"Dia itu nggak perawatan ke salon. Tapi dia bisa menjaga tubuhnya sampai bagus kayak gitu. Wajahnya sampai kinclong kayak gitu. Yang Mama Puspa lihat, kalau dari wajah aja kamu jerawatan berarti kamu nggak bisa menjaga kesehatan dan kebersihan diri kamu sendiri. Gimana dia bisa setuju ngelepasin anaknya sama wanita yang kayak gitu?" Dinda melirik sahabatnya dan kembali melanjutkan ucapannya, "Mama Puspa, meskipun baik, dia orangnya selektif. Maklumlah Yoga kan anak satu-satunya. Dia itu nggak akan mau ngelepasin anak satu-satunya ke tangan orang yang tidak tepat. Percaya deh sama aku, aku itu sudah tinggal bareng sama mereka sejak kecil. Aku udah kenal mereka luar dan dalam."


Ratu menganggukkan kepalanya dan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dinda.


"Emangnya nggak pa-pa kalau gue nggak jemput Mama Puspa? Tadinya kan gue mau memupuk rasa biar calon Mama mertua suka sama gue."


"Nggak apa-apa, justru Mama Puspa senang kalau anaknya jalan sama wanita yang suka menjaga dirinya dan juga penampilan. Keluarga mereka banyak dan juga dari kalangan yang berada, kalau Yoga jalan sama wanita yang gak bisa menjaga wajah dan penampilan, gue agak khawatir nanti bakalan jadi omongan para saudara yang lain. Gue aja yang jadi sahabatnya sering mereka bully," ujar Dinda.

__ADS_1


Mendengar keterangan dari sahabatnya tersebut membuat Ratu bergidik ngeri. Dia tidak mau kena bully, dia ingin jalannya tidak terhambat oleh apapun termasuk perkataan yang tidak enak dari para keluarga Yoga. Apalagi hal tersebut disebabkan karena satu jerawat saja. Salahnya waktu kemarin dia tidak membersihkan wajah dan tertidur karena saking lelahnya.


"Oke deh kalau gitu gue ke salon dulu hari ini. Nanti saat sudah balik dari salon gue baru nyusul ke rumah," ujar Ratu.


Dinda terpaksa mengiyakan, meski tidak tahu apakah nanti dia akan menerima panggilan tersebut atau tidak.


Enak aja. Lagian mau ngapain juga datang ke rumah? gumam Dinda di dalam hatinya seraya melihat sahabatnya itu pergi menjauh. Diam-diam Dinda tersenyum puas karena bisa menipu sahabatnya. Katakan saja kalau dia teman yang jahat, tapi ... Entahlah. Dia hanya tidak suka jika Mama Puspa menyanjungnya seperti tempo hari.


Dinda menghubungi Yoga dan bertanya di mana pria itu berada.


"Elo ke rumah sakit aja duluan, bisa apa nggak? Gue masih ada urusan di kampus. Nggak apa-apa kan bantuin beres-beres dulu? Sudah ini gue cepet ke rumah sakit jemput kalian," tanya Yoga kepada Dinda saat ditelepon.


"Oh ya udah kalau begitu, gue duluan ke rumah sakit."


Dinda pergi dengan menggunakan ojek online, sementara Yoga masih dengan urusannya di sana.


"Din, Yoga ke mana?" tanya Mama Puspa saat Dinda datang hanya sendirian saja.


"Masih ada urusan di kampus, Ma. Mungkin bentar lagi datang," jawab Dinda sambil melipat selimut yang dibawa dari rumah beberapa hari yang lalu.


Mama Puspa tampak sedih, di hari kepulangannya sang anak masih saja sibuk dengan urusannya.


"Sudah, Mbak Besan. Nanti juga datang, mungkin memang lagi sibuk aja di sana," ucap Mama Irma menenangkan Mama Puspa yang menatap sedih pada pintu.


"Iya," jawab Mama Puspa pasrah.

__ADS_1


Mereka menyelesaikan semua pekerjaannya, Wildan pergi ke parkiran sambil membawa tas dengan isi pakaian dan selimut ke dalam mobil Heru, sementara Papa Heru menyelesaikan administrasi sebelum sang istri keluar dari sana.


"Dinda, kalian berdua sudah mulai belum?" tanya Mama Puspa pada Dinda yang membersihkan meja di samping tempat tidurnya.


"Mulai apa, Ma?"


"Itu ... Bikin cucu buat Mama?" tanya Mama Puspa sambil menggerakkan alisnya naik dan turun.


Wajah Dinda seketika bersemu merah, malu tentu saja dengan pembahasan yang seperti itu.


"Belum, Ma," jawab Dinda lirih.


"Loh, kok belum? Kenapa?" tanya Mama Puspa menatap heran menantunya.


"Itu ... aku masih agak takut, hehe," ucap Dinda jujur.


Puspa tertawa kecil mendengar Dinda. Dia mengelus tangan sang menantu dan mencoba menenangkan Dinda.


"Wajar kalau takut. Kan belum biasa, tapi nanti kalau udah biasa juga nggak akan takut lagi. Mama pengen banget cepet punya cucu," ucap Mama Puspa. Mama Irma melirik dari tempatnya duduk. Dia juga ingin memiliki cucu, tapi jika memang Dinda belum siap untuk memiliki momongan maka dia akan mendukung keputusan Dinda.


Irma hanya berpikir, mungkin akan sedikit repot untuk Dinda dengan usia yang sekarang ini memiliki momongan sementara dia masih kuliah dan berencana untuk bekerja setelah ini.


"Assalamualaikum. Ma, sudah selesai?"


Suara Yoga terdengar dari ambang pintu. Semua orang mengalihkan tatapannya ke sana dan melihat Yoga.

__ADS_1


"Waalaikum sa ... lam," ucap Dinda tertahan saat melihat Yoga bersama dengan seorang gadis cantik yang datang bersamanya.


__ADS_2