
Yoga menatap sebal pada bantal dan selimut yang dilemparkan Dinda.
"Din, masa iya elo tega gue tidur di sofa? Mana itu sofa nggak enak pula. Banyak debu, kecil. Kaki gue aja nggak muat, Din!" protes Yoga seraya mengambil bantal dan selimut tersebut.
"Ya kalau nggak muat elo di lantai aja. Kaki elo nggak harus dilipat kan?" ujar Dinda tidak peduli. Dinda merebahkan dirinya dengan nyaman dan tidak peduli dengan tatapan memohon sang sahabat sekaligus suaminya.
"Eh, aneh banget ya, waktu kita belum nikah aja, kita kan sering banget baring-baring berdua. Masa udah sah malah gue tidur sendirian, di sofa pula!" ujar Yoga.
Dinda melirik sinis kepada Yoga. "Itu kan karena kita cuma sahabat. Justru sekarang ini kita adalah suami istri, jadi kita harus jaga jarak."
"Cih, jaga jarak. Virusnya juga udah nggak ada. Udah nggak pake PPKM lagi juga."
Dinda tidak peduli, tidak juga menggubris ucapan Yoga dan menyalakan hp-nya untuk menonton drakor.
Dari sofa, Yoga menatap sebal sang istri. Benar-benar tidak nyaman sekali berbaring di tempat seperti ini, kakinya sangat panjang dan melipat agar bisa cukup di sana.
"Din!"
"Hem?"
__ADS_1
"Kaki gue kesemutan. Please! Apa elo tega bikin gue tidur di sini semalaman?" mohon Yoga.
Dinda sebal dengan panggilan-panggilan Yoga, mengganggu konsentrasinya menonton oppa Koreanya.
"Haiss, elo berisik banget. Ya udah sini, tapi jangan macam-macam ya! Itu wilayah elo, ini wilayah gue!" ujar Dinda menyimpan bantal guling di tengah sebagai pembatas.
Yoga senang dengan izin dari sang istri, tersenyum dan mengambil bantal serta selimutnya dan merebahkan dirinya dengan nyaman di kasurnya yang empuk. Selimut dia naikkan hingga menutupi leher.
"Akh, enaknya emang kalau rebahan dekat istri," ujar Yoga sambil tersenyum senang. Dinda melirik Yoga dengan sebal dan tatapan mengancam.
"Awas aja lo, kalau elo macam-macam sama gue. Siap-siap aja elo bakalan kehilangan masa depan elo." Tunjuk Dinda pada area bawah Yoga dengan menggunakan dagunya.
Mendengar ucapan Yoga membuat Dinda tidak mau berlama-lama di sana. Dia bangkit dari tidurnya dan berkata, "Lebih baik gue tidur di kamar tamu aja. Biar Mama Puspa tau juga nggak apa-apa."
"Eh, jangan!" Yoga menahan tangan Dinda dan menariknya lagi sehingga gadis itu kembali duduk di atas tempat tidur. "Iya, enggak. Jangan pergi dong. Gue nggak akan macam-macam. Tapi kalau nggak sengaja mah tolong maafin ya," ucap pemuda itu.
"Ya udah. Gue mau tidur. Gue nggak akan macam-macam sama elo, dan elo juga nggak boleh macam-macam sama gue, tapi kalau elo mau perk*sa gue, bilang dulu ya. Biar gue siap-siap dulu."
"YOGAAAA!!!!!"
__ADS_1
Akhirnya setelah debat mereka yang tidak akan ada habisnya, Dinda pun memilih diam dan tidak mau lagi banyak bicara. Debat tak guna dengan laki-laki ini tidak akan bisa selesai meski sampai pagi atau sebulan kemudian. Seringkali membuat Dinda kesal.
Bisa mati berdiri, Gue! Lirikan Dinda dia tujukan pada sosok Yoga yang masih tersenyum ikut menatap drakor di hp-nya.
"Enak juga ya, Din. Kalau kita berdua akur kayak gini. Tidur berdua, nonton drakor berdua. Romantis, kayak suami istri beneran," ucap Yoga.
Dinda sedikit menjauhkan kepalanya dari Yoga, tapi pemuda itu sengaja mendekati Dinda lagi dan menarik tangannya sehingga Dinda tidak bisa menjauh lagi.
"Jangan ngadi-ngadi!"
"Siapa yang ngadi-ngadi? Itu karena elo nggak menghayati peran kita. Coba kalau elo menghayati peranan elo sebagai istri, pastinya elo akan senang ada sama gue di dalam kamar ini."
Dinda ingin mengambil lakban dari laci meja belajar Yoga dan menutup mulut pemuda itu yang sedari tadi terus menerus berbicara tiada henti.
Sampai pada akhirnya, Dinda tertidur karena malam sudah sangat larut. Dia tidak ingat lagi ada siapa di sampingnya. Mungkin karena sedari dulu juga mereka sudah terbiasa untuk bersama-sama dan tak jarang tertidur bersama karena saking lelahnya belajar atau setelah kegiatan sehari-harinya.
Yoga menarik selimut hingga menutupi leher Dinda. Wajahnya mendekat, tapi kemudian dia menariknya lagi dan tersenyum, menyingkirkan anakan rambut yang menutupi mata DInda.
"Selamat malam, Istriku. Selamat tidur."
__ADS_1