Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
54. Jadi Istrimu Yang Sesungguhnya


__ADS_3

"Yo-- Yoga?" Terkejut Dinda karena tiba-tiba saja Yoga memeluknya seperti itu sampai-sampai dia hanya berdiam diri seperti patung saja.


"Apa yang kamu lakuin?"


"Aku cuma kepengen peluk kamu saja. Soalnya nanti kalau di rumah belum tentu kita bisa kayak gini kan?" ujar pemuda itu sambil tertawa kecil. Dinda tentu saja malu bukan kepalang, apalagi pikirannya tiba-tiba saja tertuju pada satu hal yang membuat wajahnya memerah.


"Aku kedinginan, Dinda. Tapi peluk kamu kayak gini bikin aku hangat."


Dada Dinda berdetak dengan cukup kencang setelah mendengar hal itu.


"Dan, dada kamu kenceng banget bunyinya. Apa Kamu lagi deg-degan di dekat aku?" tanya laki-laki itu.


Siapa yang tidak akan berdebar jantungnya saat sedang berduaan seperti ini dengan seorang laki-laki.


"Kamu yang bikin aku kayak gini. Aku sesak nafas." Bukan karena pelukan yoga yang erat, tapi karena tubuh Dinda yang mendadak seakan dia tidak bisa mengendalikan otaknya. Dadanya sesak, jantungnya berdetak dengan kencang.


Saat itu juga Yoga melepaskan pelukannya dari Dinda dan menatap wajah yang sudah memerah itu.


"Maaf apa aku kekencangan ya peluk kamu?"


Dinda menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa kamu sesak nafas?"


"Aku nggak tahu."


Yoga tertawa lagi melihat wajah istrinya yang tampak lucu. Dia kemudian mengambil tangan Dinda dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.


"Apa kamu canggung dengan keberadaan kita yang cuma berdua di sini?" tanya Yoga akhirnya dan dijawab anggukkan kepala oleh Dinda. "Tenang aja aku nggak akan makan kamu kok. Tapi kalaupun kamu aku makan kamu akan tetap utuh kecuali di bagian lain."


Deg.

__ADS_1


Dinda membulatkan matanya saat mendengar ucapan Yoga yang ambigu. Kalimat itu sudah bisa diartikan jika sang suami menginginkan dirinya. Benar kan apa yang dia pikirkan? Atau dia salah mengartikan ucapan itu?


"Ma--maksud kamu apa?" Suara Dinda gemetar.


Yoga tertawa kecil dan kembali menarik tubuh istrinya memeluknya erat.


"Masa kamu nggak tahu? Umur kamu ini sudah 20 tahun loh. Tentu aja bahasan ini adalah bahasan orang dewasa."


Dinda semakin takut saja membayangkan hal yang akan terjadi. Apakah mungkin mereka akan melakukan malam pertamanya di sini? Dia tidak bisa membayangkan jika rasa sakit menderanya dan dia tidak akan bisa pulang di keesokan hari.


Sontak wanita itu mendorong dada suaminya.


"Eh nggak tunggu-tunggu. jangan bilang kalau kamu mau kita begituan di sini kan?" Dinda masih saja takut.


Yoga menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kapan lagi mereka akan berduaan seperti ini? Dia hanya takut jika saat menjebol gawang Dinda nanti istrinya itu akan berteriak kesakitan. Bisa jadi kan kalau orang tuanya mendengar jika mereka melakukannya di rumah.


"Ya terus mau di mana lagi? Kamu mau kita begituan di rumah dan didengar sama Mama dan Papa?"


Kening Yoga mengerut bingung atas ucapan istrinya ini.


"Memangnya kamu pikir aku mau ninggalin kamu di sini setelah kita melakukan begituan?" Tiba-tiba saja Yoga merasa kesal.


"Eh anu bukannya begitu." Kemudian Dinda menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya sehingga Yoga tergelak.


"Astaga istriku ini polos sekali." Yoga merangkul istrinya dan membenamkan kepala Dinda di dadanya yang bidang. "Kalau memang kamu nggak kuat untuk pulang besok ya kita jangan pulang saja. Kita kan bisa pulang lusa."


Mata Dinda membulat mendengar ucapan Yoga. Dia kembali mengingat apa yang diceritakan oleh salah satu temannya yang telah menikah. Saat hari pertama mereka honeymoon mereka hanya diam di kamar dan melakukannya berulang-ulang tidak peduli siang dan malam. Tiba tiba-tiba saja memikirkan itu.


"Lusa?"


"Iya. Kalau kamu sanggup bisa pulang besok, kita pulang lusa aja. Istirahat di sini dulu sebelum pulang."

__ADS_1


Glek!


Dinda seakan sulit menelan salivanya. Dia sedang bimbang, apakah memang dia akan tahan dengan kesakitan ini atau tidak.


"Din." Sadar jika Dinda mendadak pucat, Yoga mencium telapak tangan Dinda lembut.


"Aku sudah lama loh nunggu kamu. Aku ini laki-laki yang normal. Kamu tau nggak, setiap kali tidur berdua sama kamu, aku jadi galau. Aku nggak bisa cuma diam dan tidur aja. Kepala aku sakit setiap malam karena kamu."


Yoga merangkul bahu istrinya, memeluk Dinda dengan erat dan menatap wajah itu yang masih saja pucat.


"Tapi, kalau memang kamu nggak mau sekarang, nggak apa-apa juga sih. Aku nggak mau maksa kalau kamu nggak siap," ucapnya sedih.


Dinda memang takut, tapi melihat Yoga yang sedih seperti itu dia jadi tidak enak hati juga. Toh mereka adalah pasangan yang halal. Sebuah ketakutan memang harus dihadapi, bukan? Memang benar, jika di rumah akan ada banyak yang mereka pikirkan. Kapan lagi mereka bisa berduaan dengan bebas seperti ini?


"Anu ... kalau bisa jangan sampai sakit," lirih wanita itu.


"Hah? Apa?"


Dinda membenamkan wajahnya ke dada Yoga.


"Apa, Sayang?" tanya Yoga sekali lagi. Sudah jelas di pendengaran Yoga apa yang Dinda bilang tadi, tapi dia hanya ingin mendengarnya sekali lagi. "Kamu bicara apa tadi? Maaf, aku kurang jelas dengarnya."


"Ih, Yoga!" teriak Dinda sebal seraya memukul dada Yoga dengan keras. Yoga terkekeh mendengar seruan malu istrinya.


"Iya, iya. Aku akan coba untuk nggak sakitin kamu."


Yoga mengangkat dagu Dinda dan mel*mat bibir istrinya lembut. Bak tersihir oleh kelembutan itu, Dinda hanya diam dan menutup matanya.


Perlahan tangan Yoga merambah ke dalam pakaian Dinda, tapi wanita itu menahan tangan Yoga dan menggelengkan kepala.


"Lampunya matiin dulu, aku malu."

__ADS_1


Yoga tersenyum dan segera bangkit untuk mematikan lampu di kamar itu.


__ADS_2