Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
53


__ADS_3

Hujan datang di saat yang tidak tepat. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu langit menurunkan air yang sangat banyak sehingga dua insan itu menjadi basah. Sontak mereka melepaskan tautan bibirnya satu sama lain karena mendapatkan kejutan yang tidak diduga.


"Hujan. Ayo kita berteduh," ajak Yoga menarik tangan Dinda untuk pergi ke tempat lain. Sampai di motornya dia melirik ke kanan dan ke kiri, tapi di dekat sana tidak ada tempat yang bisa menampung mereka. Sungguh sial sekali malam ini untuk mereka berdua, Yoga tidak menyangka hal ini akan terjadi karena sedari tadi langit malam hanya sedikit awan yang gelap.


"Kita ke mana? Nggak ada tempat berteduh di sini!" Dinda berteriak menatap sang suami yang naik ke atas motornya.


Yoga berhenti menyalakan motor dan membenarkan jaket yang tidak pakai untuk menutupi kepala.


"Kita cari tempat berteduh."


Dia menyuruh Dinda untuk naik ke atas motor dan segera pergi dari sana.


"Pelan-pelan, Ga!" teriak Dinda khawatir karena jalanan di sana tidak cukup mulus. Yoga pun meneriakan kata 'iya' sebagai jawaban untuk Dinda. Dia mengurangi kecepatan laju motornya sambil melirik-lirik andai ada tempat untuk mereka berteduh sementara.


Yoga berdecak kesal sambil memperhatikan jalan, andai Dia tidak mengajak Dinda ke tempat ini, sudah pasti mereka tidak akan kehujanan. Tempat ini berada di atas bukit dan cukup jauh dari pemukiman.


Hingga akhirnya mereka sampai pada suatu tempat. Motor dia parkirkan di luar. Yoga menarik tangan Dinda untuk berteduh di pertokoan bersama dengan beberapa orang yang lain.


"Maaf ya, aku nggak tahu kalau bakalan hujan," ucap laki-laki itu meminta maaf kepada sang istri.


Dinda menggelengkan kepalanya dan mengucap tidak apa-apa. "Tidak ada yang tahu akan datangnya hujan. Tapi aku senang."


Yoga melirik istrinya tidak mengerti. Dinda biasanya benci saat hujan seperti ini.


"Aku senang karena malam ini bisa sama kamu." Dinda tersenyum membuat hati Yoga menjadi hangat. Perlahan bibirnya ikut mengulas senyum dan menggenggam tangan Dinda yang mulai kedinginan. Sial baginya dia selalu lupa akan jas hujan yang seharusnya tetap ada di motornya.


“Dingin ya?” tanya Yoga.


“Heem. Lumayan.”


“Maaf ya.”


“Maaf kenapa?”


“Maaf karena bikin kamu kehujanan lagi.”


Dinda menggelengkan kepalanya.


“Nggak usah minta maaf. Justru aku senang karena kamu tetap perhatian sama aku.”


Hujan masih tetap deras hingga satu jam lamanya. Baju Dinda basah karena hujan bercampur angin yang menyemprot ke tubuh mereka, bahkan jaket yang Yoga berikan kepada Dinda juga tidak bisa menahan air hujan itu yang menembus dan membuat tubuh Dinda basah.


“Yoga melihat ke sekitaran. Langit masih saja gelap dan hujan semakin deras. Dinda sudah menggigil dan dia tidak bisa melakukan apa pun lagi.


Dia memainkan ponselnya, mencari siapa tahu ada tempat yang lebih baik dari ini, dan akhirnya dia menemukan suatu tempat yang ternyata tidak jauh dari sana.


“Kita pergi yuk.”


“Hah? Ke mana?” tanya Dinda bingung. Di saat hujan seperti ini Yoga malah mengajaknya pergi.

__ADS_1


"Cari tempat yang lain."


Yoga menarik tangan Dinda dan pergi dengan motornya menembus hujan. motor melaju dengan kecepatan sedang, tapi Yoga tetap memperhatikan jalanan dengan baik dan sesekali mengusap helm-nya yang basah.


"Kita mau ke mana?" tanay Dinda berteriak. Akan tetapi, Yoga tidak menjawab pertanyaan dari gadis itu.


Tidak sampai dua puluh menit, Yoga menghentikan motornya memasuki ke sebuah tempat bertuliskan penginapan.


"Maaf ya, kamu pasti dingin."


Yoga melepaskan helm Dinda dan mengusap wajah istrinya yang basah. Sementara Dinda memeluk tubuhnya sendiri dan menggigil kedinginan.


"Ayo. Kita harus menghangatkan badan."


Mereka berdua masuk dan melakukan pemesanan kamar. Beruntung masih ada banyak kamar yang kosong karena ini bukan hari libur.


Pegawai penginapan tersebut melirik Yoga dan Dinda dengan pakaian yang basah. Dia kesal karena saat malam begini harus mengepel lantai yang basah akibat mereka berdua.


"Mari ikut saya ke kamar," ajak pelayan tersebut kepada keduanya. Dinda dan Yoga mengikuti pelayan tersebut hingga mereka sampai ke kamar yang dipesan.


"Kalau ada yang Mbak dan Mas butuhkan, hubungi saja kami. Malam ini ada dua orang yang berjaga," ucap wanita itu sambil tersenyum.


"Oh, iya. Makasih banyak, Mbak. Tapi kalau ada, kami minta minuman atau makanan panas. Ada?" tanya Yoga. Melirik ke arah Dinda yang kedinginan, sudah sepantasnya mereka mendapatkan makanan panas agar tubuh menghangat.


"Di sini kami cuma menyediakan kopi, teh, susu, coklat, sama mie instan, Mas. Mau?"


"Iya, mie instan kuah dua, pake telor semua. Minumnya, saya teh. Kamu apa, Din?"


"Sudah itu aja, Mbak."


"Baik, Mas, Mbak. Tunggu sebentar ya."


Pelayan itu pergi, DInda dan Yoga segera masuk ke dalam dan membuka sepatu juga tas yang sangat kebasahan.


Yoga langsung saja membuka pakaiannya yang meneteskan air di lantai, segera dia ke arah lemari dan menemukan beberapa selimut di sana.


"Ini, kamu pakai ini aja."


Sebuah handuk berbentuk kimono Yoga berikan kepada Dinda yang masih menggigil kedinginan.


"Kamu?"


"Aku nggak apa-apa. Aku pake selimut aja. Sana mandi," perintahnya. Dinda pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Beruntung di dalam penginapan ini juga tersedia air hangat sehingga dia merasa lebih baik sekarang.


"Ga, aku udah selesai. Kamu mandi sana."


Dinda datang dan memberikan handuk yang tadi dia pakai kepada Yoga.


"Kamu juga mandi sana." Kini Dinda yang memerintahkan Yoga. Tubuh Yoga sudah sedikit kering karena laki-laki itu pada saat masuk kamar sudah membuka pakaiannya saja.

__ADS_1


"Makanan mungkin sebentar lagi datang. Kamu ambil aja uang di dompet ku kalau minta langsung dibayar ya," ujar Yoga.


"Iya."


Yoga menyambar handuk dari tangan Dinda dan segera mandi. Mengusir rasa dingin yang ada di tubuhnya.


Benar saja, saat Yoga mandi seorang pelayan mengetuk pintu dan membawakan pesanan mereka.


"Terima kasih. Anu, Mbak. Pembayarannya gimana?" tanya Dinda.


"Akumulasinya saat besok keluar, Mbak."


"Oh, oke. Makasih ya."


Pelayan itu pergi ke tempatnya lagi, dan Dinda dengan susah payah membawa nampan dengan isian makanan dan teh hangat yang dipesan tadi.


Perut Dinda suah berbunyi, dia sangat ingin sekali melahap makanan itu. Di saat udara dingin seperti ini rasanya akan sangat nikmat jika minum atau makan yang panas. Akan tetapi, Dinda ingat jika dia harus menunggu Yoga.


"Loh, kok nggak dimakan?"


Perhatian Dinda teralihkan pada laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi itu. Tubuh Yoga tampak bersinar diterpa cahaya lampu yang terang di kamar itu.


"Aku nunggu kamu, Ga."


"Oh, kenapa juga harus nunggu aku? Makan aja kali, kalau udah dingin nggak enak nanti."


Dinda hanya tersenyum saja dan mengangguk.


"Aku udah cuci baju kita dan keringkan di kamar mandi. Tapi kalau besok nggak kering kita beli baju di dekat sini. Semoga aja ada toko baju."


"Iya."


Dinda memberikan makanan dan minuman milik Yoga. Mereka makan di atas tempat tidur karena kamar yang mereka tempati kecil dan hanya ada lemari serta tempat tidur saja. Tidak ada tv di dalam sana apalagi kulkas.


Selesai makan, mereka berbaring bersisian. Yoga menarik selimutnya hingga menutupi dadanya, sementara Dinda di sisi lain berbaring memunggunginya.


Canggung rasanya tidur satu kamar dengan keadaan seperti ini dengan Yoga, tapi mau bagaimana lagi mau tak mau dia harus tidur satu kamar.


Eh, padahal kan tadi aku denger banyak kamar kosong. Kenapa aku nggak minta pisah kamar ya? Gumam Dinda.


"Din--"


"Ga--"


Keduanya menoleh bersaman, kemudian tertawa kecil dan malu-malu.


"Elo dulu."


"Nggak, elo mau ngomong apa?" tanya Dinda.

__ADS_1


Tanpa Dinda duga jika Yoga menarik bahunya dan memeluknya erat.


__ADS_2