
“Maaf, Kak Galih. Nggak bisa!” ujar seseorang yang baru saja masuk ke dalam kafe, membuat kedua orang yang duduk di sana menolehkan kepalanya.
“Yoga?” Dinda terkejut melihat kedatangan Yoga yang tiba-tiba saja ada di sana dengan wajah yang memerah.
“Kenapa?” tanya Galih dengan kerutan di keningnya.
Yoga terdiam, ingin bicara, tapi melihat Dinda membuat dia tidak bisa berbicara lagi. Hanya tangannya mengambil tangan Dinda dan menariknya pelan.
“Pulang!” titah Yoga.
Dinda bingung, tapi dia menurut saja untuk bangkit dari duduknya.
"Yoga, apa yang kamu lakukan? Kamu nggak bisa seenaknya aja paksa Dinda pulang. Saya yang ajak dia ke sini, jadi saya juga yang akan antar Dinda pulang ke rumah!” ujar Galih marah dan menahan tangan Yoga.
Yoga tampak kesal, menyingkirkan tangan Galih yang mencengkeram pergelangan tangannya.
“Maaf, Kak Galih. Nggak bisa. Saya nggak mengizinkan Dinda untuk pergi atau pulang di antar laki-laki lain selain saya.”
__ADS_1
“Kenapa kamu posesif kayak gitu? Kamu bukan siapa-siapa Dinda, jadi jangan kamu seenaknya sama dia dan atur dia.” Tatapan Galih marah, dingin, seakan menusuk ke kedalaman mata Yoga.
Yoga merasa kesal dan marah mendengar ucapan Galih yang seperti itu.
“Maaf, tapi Dinda adalah milik saya. Saya berhak untuk membawa dia kapan pun saya mau. Dan saya juga berhak untuk melarang dia pergi dengan orang yang tidak saya setujui.”
“Atas dasar apa kamu melarang dia? Jangan kamu mengada-ada, kamu cuma sahabatnya. Nggak ada hak nya kamu melarang Dinda.”
“Saya suaminya. Saya berhak sekali untuk melarang dia bertemu dengan orang lain yang tidak saya kehendaki!”
Galih terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Yoga, juga dengan Dinda yang sama sekali tidak menyangka ucapan pemuda itu.
Galih menatap Dinda dan berharap jika gadis yang dia sukai itu mengelak dan menolak Yoga. Akan tetapi, jangankan untuk protes atau marah, menarik tangannya saja tidak.
"Permisi Kak Galih, mohon mulai dari hari ini dan seterusnya, jangan dekati Dinda lagi," ucap Yoga, kemudian tanpa menunggu jawaban dari laki-laki itu dia membawa Dinda pergi dari sana.
Galih menatap luka akan apa yang baru saja dia lihat di sana. Dinda yang menatapnya sambil mengikuti langkah kaki Yoga, tapi dia tidak berusaha untuk berhenti dan menarik tangannya dari pria yang katanya sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin kan, Din?' gumam Galih, tapi jelas Dinda tidak bisa mendengarnya karena dia sudah menjauh dan sudah meninggalkan area kafe. Galih kembali terduduk dengan kasar di kursinya dan memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
"Silakan, Mas. Minumannya," ucap seorang pelayan yang baru saja datang dan memberikan pesanan yang tadi diminta oleh Galih. Dia kemudian mengundurkan diri untuk kembali ke tempatnya bekerja.
Galih hanya menatap kopi dingin dan camilan yang ada di depannya. Semua percuma karena Dinda sudah pergi dari sana.
"Ada apa ini? Kamu harus jelaskan ini besok, Dinda!" gumam Galih lagi.
Dinda menarik tangannya kasar dari cengkeraman tangan Yoga saat mereka sudah sampai di parkiran kafe tersebut.
"Elo kenapa sih, Ga? Kenapa elo bilang sama Kak Galih?" tanya Dinda marah. Perjanjian yang mereka lakukan seharusnya ditepati, tidak ada orang yang tahu akan pernikahan mereka hingga saat waktu itu berakhir.
Yoga menatap Dinda yang marah dan menatapnya dengan kecewa, tapi dia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan itu. Hatinya merasa sakit dan panas saat melihat Galih membawa Dinda pergi ke sini.
"Maaf, Din. Aku nggak bisa tahan."
Dinda bingung dengan apa yang Yoga katakan. Apa yang dia nggak tahan?
__ADS_1
"Sorry, kayaknya aku cinta sama kamu." Yoga tidak tahu dengan apa yang dia katakan, tapi hatinya sangat lega sekali setelah mengatakan itu seakan ada sesuatu yang meledak di dalam tubuhnya dan itu membuat resah yang ada di dalam hatinya hilang.