
Yoga segera menggendong Dinda ke kamar tamu, tapi sayangnya kamar tamu dikunci. Dia harus ke kamar sang ibu untuk mengambil kuncinya, tapi rasa khawatir kepada Dinda membuatnya urung mencari kunci itu.
"Ah, sial! Kenapa juga Mama simpan kunci itu di kamar, coba!" racaunya kesal.
Akhirnya Yoga membawa Dinda ke lantai atas. Langkah kaki itu cepat dan lebar, sekali melangkah dua tangga dia lalui. Beruntung mereka tidak terjatuh. Yoga juga tidak keberatan menggendong Dinda, tubuhnya mungil seperti anak SMP. Berbeda dengannya yang tumbuh menjulang tinggi, Dinda tidak banyak berubah dari masa itu. Maka tak jarang jika orang yang belum mengenal mereka menganggap Dinda adalah adiknya.
Perlahan Yoga merebahkan Dinda di kasurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Din, elo nggak apa-apa, kan?" tanya Yoga, Dinda menggelengkan kepala.
"Kepala gue pusing, Ga."
"Sebentar, gue ambil kompres dulu ya."
Dinda menganggukkan kepala, tampak keringat keluar dari kening dan leher gadis itu. Segera Yoga turun ke lantai bawah dengan tergesa, menuju ke arah dapur untuk mengambil baskom dan termos.
"Din, elo jangan sakit dong. Gue kan khawatir, Din," ucap Yoga setelah mengompres kening Dinda dengan air hangat. Dia sudah mengecek suhu tubuh Dinda, memang gadis itu sedang demam sekarang. Dia merasa bersalah, seharusnya tadi mereka memakai mobil. Atau, seharusnya dia tadi menunggu saja sampai hujannya tidak deras lagi.
Keadaan Dinda sudah mulai tenang, dia tidak lagi bergumam di antara tidurnya. Keringat juga tidak sebanyak tadi.
Hujan tidak juga reda hingga jam menunjukkan pukul satu dini hari. Tak sekalipun Yoga mengalihkan perhatiannya dari Dinda. Jujur saja, sedari dulu setiap kali Dinda sakit dia sangat khawatir. Padahal dia tahu jika Dinda adalah gadis yang kuat.
Hawa semakin dingin, hujan kembali lebat. Sesekali petir menyambar dengan suara yang sangat keras, beberapa kali sampai Dinda terbangun dan ketakutan.
__ADS_1
"Mama!" teriak Dinda dan menutupi telinganya saat terdengar suara petir yang menggelegar. Dadanya berdebar dengan kencang. Takut. Itu lah yang dia rasakan sekarang ini. Tangis pecah, air mata kini mengalir melewati wajahnya. "Mama. Aku takut!" seru Dinda kencang.
"Din, tenang. Ada gue di sini," ucap Yoga cepat mendekat pada Dinda. Tubuh gadis itu bergetar hebat, sedu sedan tangisnya juga terdengar.
"Mama! Papa!" isaknya lagi saat suara petir kembali terdengar.
"Din. Jangan takut. Gue ada di sini," ucap Yoga sekali lagi sambil memegang tangan Dinda.
Dinda memberanikan diri membuka matanya. Dia senang ada Yoga di sana.
"Ga."
"Iya, gue ada di sini. Elo jangan takut."
"Ga, gue takut," ucap Dinda di tengah tangisnya. Yoga balas memeluk Dinda dan mengusap punggung gadis manis itu dan menenangkannya.
Yoga paham dengan ketakutan Dinda, trauma di masa lalu membuat wanita ini sangat ketakutan hingga sekarang. Dulu, saat mereka masih duduk di bangku SD, beberapa teman satu kelas sering membully Dinda. Mereka tak segan untuk melakukan kekerasan fisik yang hingga kini bukan hanya membekas pada kulitnya, tapi pada psikisnya juga. Maka dari itulah, Dinda belajar bela diri untuk keamanannya sekarang.
Dinda dikunci di dalam gudang sekolah dan ditinggalkan di sana dengan keadaan yang gelap, hingga sore menjelang, keadaan di luar sekolah hujan sangat lebat dan banyak petir menggelegar membuat Dinda ketakutan berada seorang diri di dalam sana. Hal itu mereka lakukan saat Yoga tidak masuk sekolah karena sakit. Yoga merasa khawatir karena hingga langit hampir gelap Dinda belum juga kembali ke rumah sehingga dia memaksakan diri untuk pergi ke sekolah, ternyata dia mendengar suara tangisan Dinda dari dalam gudang.
Saat pintu dibuka, dia melihat Dinda sedang duduk di bawah meja sambil memeluk lututnya sendiri.
Dinda masih menangis, yang bisa dilakukan Yoga saat ini hanyalah menemani sahabat sekaligus istrinya di saat yang seperti ini.
__ADS_1
"Jangan khawatir, gue ada di sini. Jangan takut, ya," ucap Yoga. Dinda menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang. Dia hanya berharap hujan dan petir akan berhenti dengan segera.
Nyatanya, hujan tidak juga berhenti hingga menjelang pagi meski tidak ada lagi suara petir yang terdengar. Kini mereka berdua berbaring saling bersisian dan saling memegang tangan satu sama lain.
"Gue akan selalu jagain elo, Din," gumam Yoga sambil menatap Dinda yang kini tengah tertidur.
Dinda terbangun pada keesokan harinya, dia terkejut dengan keberadaan Yoga di sana. Bukan hanya itu saja, tapi dia juga heran dengan dirinya yang berada di kamar Yoga sekarang ini. Teringat saat malam tadi hujan sangat lebat dan petir menyambar-nyambar, Dinda hanya bisa bersyukur dia mempunyai sahabat yang baik seperti Yoga.
Ditatapnya wajah Yoga, sangat tampan dan juga meneduhkan, sehingga membuat Dinda merasa senang menatapnya. Betapa beruntungnya wanita lain yang bisa memiliki pemuda setampan dan sebaik Yoga. Senyum Dinda tersungging di bibir, meski sering melihat Yoga dalam posisi yang dekat, tapi tidak pernah dalam keadaan yang seperti ini.
"Udah puas belum lihatnya? Gue mau buka mata ini?" ucap Yoga tiba-tiba mengagetkan Dinda. Gegas gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Siapa yang lihat elo? Gue cuma lihat jendela aja, kok," elak Dinda. Yoga membuka matanya dan tertawa kecil, melihat wajah Dinda yang tersipu malu.
"Masa? Lihat jendela tuh ke sana, ke belakang. Tapi mata elo lurus ke arah gue. Akui aja, napa? Gue ganteng kan? Jangan bohong. Hidung lo nanti panjang loh!" seru Yoga sambil mencubit hidung Dinda.
"Ih, nggak. Siapa juga yang lihatin elo, gue cuma lihat jerawat di dagu lo aja. Tuh, calon jerawat. Lo nggak bener cuci muka!" tunjuk pada wajah Yoga sambil menepis tangan laki-laki itu dari hidungnya. "Sakit!" keluh Dinda. Tidak sama sekali sebenarnya, tapi Dinda hanya malu saja dan tidak nyaman dengan perlakuan Yoga tadi.
Yoga tertawa dengan keras, kemudian bangun dari ranjang.
"Bangun deh, mandi. Gue mau masak," ucap Yoga, tanpa menunggu jawaban Dinda, dia segera turun ke lantai bawah.
Dinda menatap kepergian Yoga yang kini menghilang di balik pintu, kemudian memegangi dadanya yang berdebar dengan kencang.
__ADS_1
"Ga, andai kamu bukan sahabatku," gumam Dinda.