Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
17. Pedekate Dengan Calon Mertua


__ADS_3

"Waalaikum sa ... lam," ucap Dinda.


"Eh, Ratu juga datang?" tanya Mama Puspa saat mereka masuk dan Ratu menyalami gadis itu. Dinda yang melihat sang sahabat ada di sana menjadi sebal dan mencebikkan bibirnya. Padahal dia tadi sudah akan pergi ke salon, tapi kenapa dia malah datang ke sini?


"Iya, Tante. Maaf, aku terlambat datang sama Yoga. Sudah baikan kan, Tan? Aku seneng akhirnya Tante bisa pulang ke rumah," ucap Ratu sambil tersenyum manis.


Mama Puspa juga tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, udah baikan. Senang kamu ada di sini," ucap Mama Puspa. Wanita itu melirik Yoga, seakan dari tatapannya bertanya kenapa wanita ini ada di sini. Yoga yang tak mengerti hanya berjalan dan duduk di kursi sofa di samping Irma.


"Aku bantu ya, Tan. Sudah semua di beresin?" tanya gadis itu lagi.


"Sudah, tinggal nunggu Papanya Yoga lagi di ruangan administrasi," jawab Puspa.


Dengan sigap Ratu mengambil kursi roda dan membawanya ke samping tempat tidur.


"Ayo aku bantu, Tan. Pelan-pelan," ujar Ratu membantu Puspa untuk turun dari brankar.


Melihat itu Irma juga turun tangan membantu Puspa untuk duduk di kursi roda. "Hati-hati, Mbak."


"Din, tolong kamu dorong Mama Puspa. Mama mau bawa ini yang ketinggalan," pinta Irma, tapi saat Dinda akan mendorong kursi roda, Ratu sudah berada di belakang Puspa dan mengajukan diri untuk membantunya.


"Biar aku bantu, Tan. Dinda biar bawa itu aja sama Yoga," ujar Ratu. Puspa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, membiarkan gadis muda itu untuk membawanya ke luar dari ruangan.


Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Heru yang akan kembali ke ruangan, Heru terheran melihat ada gadis yang beberapa hari lalu datang ke sini.


"Eh, temen Dinda ya?" tanya Heru.


"Iya, Om." Ratu mengambil tangan Heru dan menyalaminya seperti kepada Puspa tadi. "Tadi kebetulan ketemu sama Yoga, jadi pengen ikut ke sini, Om."


"Oh, ya sudah. Sini biar Om yang bawa istri Om tersayang ini." Heru mengambil alih kursi roda yang dinaiki sang istri dan mendorongnya hingga mereka sampai di parkiran mobil.


Irma dan Yoga berjalan di belakang mereka, di depannya Ratu dan dan Dinda.


"Ga, dia siapa sih?" tanya Irma menyenggol lengan Yoga sambil berbisik.


"Teman sekelas Dinda," jawab Yoga dengan singkat.


"Kok pengen ikut ke sini? Dia nggak naksir kamu kan?" tanya Irma to the point.


"Nggak tau, masa iya naksir aku?" gumam Yoga.

__ADS_1


Irma menyadari dari gerak gerik Ratu, seperti wanita itu suka dengan Yoga, jangan sampai dia menjadi orang ketiga di antara pernikahan Yoga dengan Dinda.


Sementara itu, Ratu dan Dinda jalan berdampingan. Dinda menyenggol lengan Ratu pelan. "Kok kamu ada di sini? Katanya mau ke salon?" tanya Dinda.


"Nggak jadi. Nyokap batal pergi," jawab Ratu.


"Lah, kenapa? Nggak biasanya kan nyokap lo batalin pergi?" tanya Dinda dengan sedikit kecewa.


"Ada urusan lain, dadakan," jawab Ratu. Dinda hanya menganggukkan kepala, mencoba berpura-pura di hadapan Ratu, padahal di dalam hatinya kesal luar biasa mendengar Ratu dan ibunya batal pergi sehingga membuat dia ada di sini.


"Terus, kenapa ke sini?"


"Tadi ketemu sama Yoga. Tadinnya gue nggak mau ikut, tapi setelah dipikir-pikir, ikut aja deh. Abaikan nih calon jerawat, masih kecil juga. Palingan matengnya juga besok baru kelihatan," ujar Ratu dengan santai sambil terkekeh.


Dinda bisa apa lagi untuk mencegah Ratu datang? Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuat Ratu tidak jadi ikut.


Ratu membawa mobil sendiri, mengikuti dua mobil di depan sana dan juga Yoga yang mengendarai motornya di belakang ketiga mobil itu. Jalanan lancar sehingga tak sampai satu jam, mereka telah sampai di rumah dengan selamat.


Ratu baru pertama kali datang ke rumah Dinda. Dia takjub dengan keadaan rumah Yoga yang sangat sederhana. Meski rumah Yoga jauh lebih kecil dari rumahnya, tapi rasa cinta membuat semua yang ada pada diri Yoga selalu istimewa di matanya. Padahal rumah Yoga dan rumah Dinda tak jauh berbeda dari segi bentuk dan juga cat. Dua orang ratu penghuni rumah itu selalu kompak jika dalam hal rumah sedari dulu.


"Ayo masuk," ajak Heru. Dia memang tak suka dengan Ratu, tapi tak mungkin juga jika memperlihatkan rassa tak sukanya kepada gadis muda itu.


"Iya, Om."


"Aku buatin teh anget ya, Ma," tawar Dinda.


"Iya, Din. Makasih ya."


Dinda pergi dari sana dan membuatkan teh untuk semuanya.


"Rumahnya enak ya, Tan. Sederhana, tapi bagus. Nyaman," ujar Ratu menatap ke sekeliling.


"Iya, alhamdulillah. Meski kecil, tapi ini adalah tempat kami berteduh sedari dulu."


Dinda sebal sekali, Ratu bisa menguasai keadaaan sehingga terdengar tawa dan canda kedua mertuanya di ruangan tamu.


"Ish, ngapain juga tuh anak ke sini? Nggak ada gunanya juga!" ujar Dinda kesal sambil menyalakan kompor untuk memasak air panas.


Pintu terbuka, Irma, Wildan, dan Yoga baru saja masuk ke dalam rumah bersamaan dan menyimpan barang-barang milik Puspa di depan kamar utama mereka.

__ADS_1


"Mbak, aku pulang dulu ya." Irma berpamitan.


"Loh, kok pulang? Nggak ngobrol dulu?" tanya Puspa.


"Nggak, Mbak. Aku belum siapkan buat makan malam nanti, sekalian nanti buat Mbak aku kirim juga," ucap Irma.


"Iya, makasih ya sudah bantu aku pulang."


"Iya, Mbak. Ratu, mampir ke rumah nanti," tawar Irma basa basi.


"Iya, Tante. Saya mampir nanti sebelum pulang," ucap Ratu sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Dinda mana, Ma?" Yoga bertanya saat tidak melihat istrinya ada di sana.


"Di dapur. Lagi bikin teh panas."


Tanpa banyak berbicara lagi, Yoga pergi ke dapur. Ratu yang ingin menyusul mereka, tidak bisa berkutik karena Heru mengajaknya berbicara terus.


Di dapur, Dinda sedang bergumam sendiri. Tak jelas apa yang dia katakan. Hanya sikapnya kasar saat mengaduk minuman teh yang baru saja diseduhnya.


Yoga memperhatikan dari ambang pintu, berjalan mendekat dan menyandarkan tubuhnya di depan kulkas dan menatap istrinya dengan gemas. Kedua tangannya terlipat di depan tubuhnya.


"Apa senyam-senyum? Senang bisa ajak gebetan ke rumah?" tanya Dinda dengan ketus. Yoga tidak dia tatap sama sekali karena saking kesalnya. Padahal dia tidak tahu apa gerangan yang membuat dirinya kesal.


"Siapa yang senang ada dia? Risih tau nggak. Terlalu cerewet!" ujar Yoga.


"Terus? Kok bisa dia bareng elo?" tanya Dinda. "Katanya elo ajak dia?"


"Siapa yang ajak? Nggak. Dia ketemu sama gue pas di parkiran, eh malah pengen ikut. Yaaa, gue mau nolak juga bingung," ujar Yoga.


"Cih, boongnya kelihatan banget!" Dinda tak lantas percaya. Semua orang menyukai Ratu, tidak terkecuali Yoga, kan?


"Siapa yang bohong? Elo bisa kok tatap mata gue dan cari apa gue bohong?"


Yoga tiba-tiba saja mengambil kedua pundak Dinda dan memutar tubuh gadis itu hingga saling berhadapan satu sama lain.


Dag. Dig. Dug.


Bunyi jantung Dinda cukup keras saat melihat sorot tatap penuh kesungguhan dari Yoga.

__ADS_1


__ADS_2